Ahmad Gibson Al-Bustomi

sepi….

In Uncategorized on December 14, 2008 at 1:33 pm

Sepi, mangrupa wadah pikeun kajadian anu enggeus, eukeur jeng anu bakal lumangsung. Sepi taya lain ti asal kajadian anu nganteng tug nepi ka akhir anu boa di mana batasna.

Dina sepi sagala lampah manusa narembongan natrat, jelas. Sepi ibarat solobong suling jeung liang-liangna, tempat galindengna swara jeung anu nangtukeun warna swarana.

Sepi, tempat pangbalikan (nirvana).

In Uncategorized on April 1, 2009 at 11:14 am

K.H. Mustapa: Jejak Akhir Relasi Budaya Lokal dan Pesantren

Oleh: Ahmad Gibson al-Bustomi

Baheula ku basa Sunda ahirna ku basa Arab; jadi kaula nyundakeun Arab nguyang ka Arab, ngarabkeun Sunda tina Basa Arab” (Hasan Mustapa, Qur’anul Adhimi)

Relasi kebudayaan Sunda dan Islam telah cukup lama menjadi pembicaraan, khususnya dari kalangan akademisi, baik dari sisi histroris maupun kajian budaya. Keakraban antara dunia pesantren dengan kebudayaan Sunda, diantaranya ditandai oleh banyaknya nadoman dan pupujian yang menggunakan bahasa Sunda dan biasa dilantunkan di pesantren atau majelis taklim di mesjid-mesjid. Demikian juga sebaliknya, tidak sedikit dangding atau tembang Sunda yang bertemakan keagamaan, Islam. Unsur-unsur kebudayaan memang sangat beragam, bukan hanya bidang seni belaka, akan tetapi keberadaan seni paling tidak bisa dijadikan indikator yang lebih bisa diukur berkenaan dengan relasi antara sub-kultur pesantren dengan kebudayaan lokal di mana pesantren itu berada.

Adabul Ikhtilaf : Etika Berbeda Pendapat

In agama, artikel on December 14, 2008 at 12:30 pm

Ahmad Gibson al-Bustomi

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah “. (Al Ahzab : 21)

Berbeda dan adanya perbedaan merupakan salah satu ciri eksistensial dari makhluk, secara spesifik manusia. Karakteristik yang secara substansial membedakan antara makhluk sebagai wujud yang berbilang dengan Allah Yang Maha Esa. Masyarakat manusia hidup dan menjalani kehidupannya berdasarkan azas perbedaan itu. Interaksi sosial antar sesama manusia, selain didasarkan pada sejumlah kesamaan, tetapi juga secara mendasar didasarkan pada sejumlah perbedaan.