Sekali Lagi: Si Kabayan, Pribadi yang “Teu Nanaon ku Nanaon”

Oleh Ahmad Gibson Al-Bustomi

Dalam sebuah diskusi apresiasi film “Sikabayan Saba Kota”, saya diingatkan kang Didi Petet satu hal tentang karakteristik atau lebih tepatnya cara pandang Si Kabayan dalam menjalani kehidupannya, yaitu “teu nanaon ku nanaon”. Prinsip hidup Si Kabayan ini memang sangat dikenal, sebagai cara pandang yang sangat khas “Kabayan”. Maksudnya, siapa pun yang banyak membaca, atau mendengar dan penutur cerita Si Kabayan, ia tahu dengan pasti bahwa Si Kabayan sangat dikenal sebagai sosok yang berpegang pada prinsip tersebut, “teu nanaon ku nanaon”.

Sulit dipastikan, prinsip apakah –yang diasumsikan (diyakini)—yang menjadi pandangan hidup hidup Si Kabayan? Cara pandang hidup yang membentuk kepribadian Si Kabayan sebagai pribadi yang tulus (lugu, polos?), dan juga cerdas, optimistik serta senantiasa menjalani kehidupannya dengan ceria (hirup mah durirang durang duraring, atau hirup mah heuheuy jeung deudeuh). Apa pun yang ia jalani dan ia terima, selalu disikapi dengan cara yang sama: easy going atau painless. Tak ada bedanya, apakah ia menghadapi kesulitan mapun kesenangan. Namun demikian, kadang juga ditemukan sikap hidup Si Kabayan yang digambarkan benar-benar berbeda dengan orang pada umumnya. Seperti tampak pada gambaran ketika Si Kabayan menjalani (nyorang) jalan menanjak dan menjalani jalan yang menurun. Ketika Si Kabayan menjalani jalan yang menanjak ia selalu tesenyum penuh kebahagiaan, karena yakin bahwa setelah itu akan menghadapi jalan yang menurun. Namun sebaliknya ia akan merasa sedih ketika menghadapi jalan yang menurun, karena tidak akan lama lagi akan menghadapi jalan yang menanjak. Gambaran tersebut merupakan ilustrasi dari sikap arif ketika Si Kabayan menghadapi kehidupan yang senantiasa berubah, pasang surut. ketika ia menghadapi kesulitan hidup ia tidak pernah pesimis, karena ia yakin, setelah seseorang (siapa pun) itu ia akan berhadapan dengan kemudahan dan kebahagiaan. Dan sebaliknya, ketika ia sedang dalam kemudahan dan kebahagiaan, ia bersikap hati-hati, karena bukan mustahil setelah itu akan mengahdapi kesulitan dan penderitaan. Itulah mungkin mengapa orang beranggapan bahwa Si Kabayan memiliki prinsip (azimah) teu nanaon ku nanaon dalam menjalani kehidupanya. Suatu sikap dan cara pandang yang sangat sulit ditemukan dalam individu dan masyarakat yang menamakan dirinya sebagai individu dan masyarakat modern. Alih-alih menjadikan “cara pandang Si Kabayan” sebagai alternatif sikap hidup yang positif, malah dianggap sebagai sikap yang tidak peka dan tidak bertanggung jawab.

Ketika kang Didi Petet mengingatkan pandangan hidup Si Kabayan sebagaipribadi yang “teu nanaon ku nanaon”, saya jadi teringat dengan karakteristik manusia yang berada dalam maqom atau derajat Insan Kamil (lautan Kainsanan) yang dijelaskan oleh K.H. Hasan Mustapa (Sufi dan Budayan Sunda yang juga dianggap mahiwal). K.H. Hasan Mustapa menyebutkan bahwa salah satu sikap hidup seorang yang telah sampai pada maqomat atau derajat Insan Kamil adalah “taya luhur taya handap, sampurna taya kakurang, sampurna walatra, beda soteh pangersana paranimana, jatnika ku sangsarana”. Saya melihat bahwa cara pandang ketasawufan ini sama atau mirip dengan cara pandang Si Kabayan, “teu nanaon ku nanaon”. Kesimpulan ini didasarkan pada asumsi bahwa Si Kabayan senantiasa “jatnika ku sangsarana”, dan senang atau pun susah bagi Si Kabayan tidak dipandang sebagai kenyataan “objektif”, melainkan sebagai kenyataan subjektif dari bagaimana ia menyikapi (mengapresiasi) atau menerima pengalaman yang dialaminya, “beda soteh pangersana panarimana”.

Terdapat satu kerakteritik yang mesti kita “pahami” dalam mengapresiasi sikap dan cara pandang dan kehidupan Si Kabayan, yaitu pada “logika” atau paradigma yang digunakannya. Bila kita menyimak alur logika Si Kabayan dalam hampir semua cerita Si Kabayan, kita akan menemukan yaitu bahwa Si Kabayan senantiasa menuntut kita untuk “menyimpan dalam tanda kurung” (melakukan “reduksi eiditik”, istilah Fenomenologi) cara berfikir awam kita yang cenderung formal dan linier (vertikal). Bila tidak, kita akan merasakan betapa logika kita diputarbalikan sedemikian rupa, dan kita akan “kebingungan” dan bertanya-tanya siapa sebenarnya yang “gila”? Dengan cara berpikir ala Si Kabayan ini, kita dipaksa dan disudutkan pada suatu posisi dimana kita dengan malu-malu atau dengan jantan akan membuka kedok dan kepalsuan yang sekian lama menutup pikiran dan nurani kita. Dan, dengan cara demikian kita tidak pernah merasa “dijatuhkan” atau dipaksa untuk mengaku jatuh oleh logika Si Kabayan, karena kita sendirilah yang menaklukan logika kita sendiri. Prinsip yang mirip dengan apa yang sering para mursid tariqat katakan tentang keberhasilan muridnya, “usaha dan keuletan sang muridlah yang membuat ia berhasil bukan karena kecerdasan sang mursyid dalam mengajarkan ketasawufan”.

Teu nanaon ku nanaon, itulah salah satu inti dasar ke’arifan yang bisa kita pelajari dari cerita Si Kabayan. Ke’arifan yang mengajarkan kita tentang cara menerima dan menjalani kehidupan. “Menerima dan menjalani kehidupan” sebagai anugrah yang murni diberikan oleh Tuhan, manusia tidak pernah meminta, merencanakan apalagi membuatnya. Dan, oleh karena itu Si Kabayan menerima anugrah itu dan memandang dalam kacamata yang positif. Ia sadar bahwa secara faktual manusia ditakdirkan untuk hidup bergandengan dengan alam, oleh karena itu Si Kabayan menjadikan alam sebagai teman, bahkan sebagai bagian integral dari dirinya sendiri. Kehidupan Si Kabayan adalah prototipe manusia yang tidak mengenal dan tidak pernah akrab dengan konflik. Kalaupun ia menemukan sesuatu yang bernuansa konflik, dipandangnya sebagai potensi positif yang membuat sejarah kehidupan manusia menjadi dinamis. Potensi yang membuat pelangi di angkasana sana tampak indah namun tidak pernah bisa disentuh.

Sebagai pribadi yang menjadi icon dari kearifan lokal “Sunda-lembur”, mungkinkah ia menjadi alternatif bagi masyarakat Sunda, dan manusia secara kesuluruhan, yang hidup di perkotaan dan menapakkan kakinya di era modern ini? Ketika persolan ini mengemuka, terdapat kegamangan, antara kemestian dan kekhawatiran. Kearifan, dari mana dan siapa pun, secara substansial dalam dirinya (inhern) merupakan “nilai” universal yang tidak hanya menjadi milik satu masyarakat atau komunitas tertentu saja. Ia menjadi sebuah kemungkinan (alternatif) bagi masyarakat lainnya. Konteks yang menjadi kemestian kearifan ala Si Kabayan ditransformasikan dalam kehidupan masyarakat modern. Namun, di sisi lain terdapat pula kekhawatiran, kekhawatiran yang kurang lebih sama dengan kekhawatiran sejumlah dalang dan tokoh budayan terhadap upaya Asep Sundandar Sunarya ketika ia melakukan beberapa improvisasi dalam pagelaran wayang goleknya. Kekhawatiran akan terjadinya penyimpangan dari “tali paranti” atau pagu. Kekhawatiran ini sebenarnya cukup bahkan sangan beralasan, sehingga kita tidak perlu menganggapnya sebagai sikap berlebih-lebihan. Karena, kekhawatiran tersebut tentunya bukan terlahir dari sikap picik dan ortodoks, akan tetapi harus dipandang sebagai satu sikap dan ekspresi dari apresiasi dan keceintaan mereka terhadap budaya warisan leluhurnya. Tarik-ulur dalam mengapresiasi warisan budaya para pendahulu suatu bangsa mupakan kenyataan yang membuat suatu bangsa dengan kebudayaannya mampu bertahan sampai kini.

Dalam konteks ini, kita dituntut untuk bersikap arif dan meilihat persoalan ini secara proporsiolan dan penuh tanggung jawab. Jangan sampai, seperti digambarkan dalam cerita Si Kabayan yang menceritakan bagaimana orang cenderung menjadikan aspek-aspek permukaan (furu, pakaian) sebagai unsur utama dibanding aspek-aspek substansil. Seperti terungkap dalam cerita Si Kabayan ketika tetangganya mengadakan hajatan. Ketika Si Kabayan hadir dengan pakaian yang sangat sederhana, tak seorang pun yang menghiraukannya., termasuk tuan rumah. Namun ketika si kabayang mengganti pakaiannya dengan pakaian yang bagus dan bersih, Si Kabayan disambut dan disuguhi hidangan yang serba lejat di meja yang disediakan secara khusus. Melihat gelagat tersebut, Si Kabayan membuka pakaiannya dan ditaruhnya pakaiannya di atas hidangan tersebut sambil berkata: “hai baju yang bagus, makanlah hidangan uyang lejat-lejat ini, karena makanan ini diseuguhkan untuk menyambut dan menghormatimu, bukan aku!”.

Restorasi dan apresiasi dan terhadap nilai dan budaya, merujuk pada filosofi Si Kabayan tersebut, harus mendahulukan dan meletakkan nilai-nilai substantif sebagai unsur prioritas di atas unsur-unsur luaran. Namun demikian, bukan berarti kita boleh secara semena-mena mencampakkan unsur luaaran dari tradisi dan warisan budaya suatu masyarakat, karena relasi antara kedua unsur tersebut sekompleks unsur-unsur sejarah yang terlibat dalam proses kreatifnya.

Namun demikian, upaya-upaya untuk merestorasi dan “merevisi” nilai-nilai kearifan alan Si Kabayan bagi masyarakat kontemporer harus pula disikapi sebagai upaya yang tidak kecil artinya bagi kehidupan dan perkembangan budaya Sunda pituin. Insya Allah.

 

Pikiran Rakyat 5 Maret 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s