Si Kabayan

Si Kabayan
AHMAD GIBSON AL-BUSTOMI

NAMANYA Kabayan. Dipanggil Si Kabayan sebagai ungkapan keakraban dan kedekatan yang demikian menyatu dengan kehidupan fansnya. Nama dari cerita lucu yang hidup dalam tradisi masyarakat Sunda. Sulit untuk mencari orang Sunda yang tidak mengenal nama tokoh cerita ini. Kecuali, anak kecil yang belum tahu apa-apa, atau orang tua yang sejak kecil buta dan tuli. Sedemikian terkenalnya tokoh ini sehingga menutupi keterkenalan tokoh yang mengorbitkan nama tersebut. Bahkan, akhirnya nama yang mengorbitkan nama tersebut sama sekali tidak pernah dikenal.

Si Kabayan merupakan tokoh yang memiliki karakteristik yang unik, khususnya dalam imajinasi masyarakat Sunda. Tokoh ini digambarkan sebagai “figur” yang memiliki karakteristik lucu, polos, namun memiliki kecerdasan yang sulit diduga. Khususnya Si Kabayan, sering digambarkan sebagai tokoh yang serbabisa, bagaimana tidak, bila ia kadang menjadi sosok, santri, kadang menjadi sosok kiai, dukun dan tokoh lainnya. Bahkan, dalam terbitan terakhir Yus R. Ismail menceritakan Si Kabayan malih rupa menjadi seorang Sufi. Pokoknya dalam apapun gambaran Si Kabayan menjadi sah, sejauh lucu dan cerdas. Paling tidak harus lucu, itu yang sama sekali tidak boleh hilang dari karakter Si Kabayan. Selain Si Kabayan terdapat tokoh lain dalam khazanah sastra Sunda, yaitu Lengser atau Mamang Lengser kadang dipanggil Ua Lengser.

Tidak jauh berbeda dengan imaji orang tentang Si Kabayan, Mamang Lengser pun senantiasa digambarkan kurang lebih sama. Bedanya dengan Si Kabayan, Mamang Lengser senantiasa dihubungkan dengan fungsi-fungsi kekuasaan, kerajaan. Mamang Lengser, cocok dengan namanya yang kurang lebih berarti “turun” (lengser, lungsur=turun), ia sering diposisikan sebagai kepanjangan titah Sang Raja. Lengser adalah “perwujudan” dan “perwakilan” dari Sang Prabu atau Raja yang turun menemui dan menyatu dengan rakyatnya. Dan perbedaan yang lain adalah Mamang Lengser dikenal dalam naskah-naskah sastra klasik Sunda, sedangkan Si Kabayan tidak demikian. Bukan kebetulan bila kata kabayan pun, dalam bahasa Sunda, memiliki makna yang kurang lebih sama, yaitu “utusan”.

Keberadaan Mamang Lengser dan Si Kabayan merupakan prototipe kelas sosial yang tidak pernah dikenal dalam teori modern mana pun. Mamang Lengser, sebagai contoh, kalau pun ia merupakan perwujudan dan kepanjangan dari Sang Prabu, tetapi fungsi dan posisinya ini bukan merupakan fungsi dan posisi yang bersifat formal. Walaupun dalam kondisi tertentu, Mamang Lengser kadang seolah-olah berposisi sebagai Penasihat Raja, ia tetap berposisi sebagai masyarakat biasa dan tidak memiliki fasilitas apa pun dari kerajaan. Kalaupun Mamang Lengser diposisikan (dalam sistem pemerintahan modern, trias politik) sebagai wakil rakyat (DPR), sama sekali tidak bisa dianggap demikian. Karena, Mamang Lengser sama sekali tidak memiliki hak wewenang sebagaimana halnya seorang legislatif. Posisi Mamang Lengser hanya mungkin dibandingkan dengan punakawan dalam dunia pewayangan. Apakah keberadaan Mamang Lengser ini mengadopsi cerita pewayangan yang memiliki setting sosial yang kurang lebih sama? Rasanya tidak juga, karena bisa dipastikan bahwa keberadaan Mamang Lengser (dalam cerita lisan, buku tulis) lebih tua dibandingkan cerita pewayangan? Bahkan, jangan-jangan keberadaan punakawan dalam pewayanganlah yang mengadopsi keberadaan Mamang Lengser dalam cerita lisan masyarakat Sunda. Hal ini dapat dipahami bila melihat kenyataan bahwa dalam naskah Mahabrata maupun naskah lainnya yang menjadi sumber cerita pewayangan tidak dikenal tokoh-tokoh punakawan tersebut.

Bila melihat setting yang melatarbelakangi kedua tokoh tersebut, yang pertama Mamang Lengser dalam setting suatu masyarakat kerajaan, sedangkan yang kedua (Si Kabayan) dalam masyarakat “tidak tentu”. Tidak tentu, karena jarang ada penulis cerita atau penutur cerita Si Kabayan yang menjelaskan secara rinci sistem kekuasaan atau pemerintahan apa yang berlaku pada masyarakat di mana Si Kabayan hidup. Memang sering disebut keberadaan kuwu, lurah atau kepala desa, demikian juga dengan lebe dan mantri pulisi, tetapi hal itu bisa-bisa saja sekadar pengalihan fungsi-fungsi lembaga sosial klasik dalam fungsi lembaga sosial modern. Tapi juga, tidak bisa dikatakan bahwa Si Kabayan hidup dalam setting masyarakat klasik Sunda (kerajaan), karena jarang juga yang menceritakan Si Kabayan dalam setting kehidupan demikian. Barangkali ia lebih merupakan cerita dari negara entah berantah, negara yang hanya ada dalam imajinasi masyarakat Sunda. Negara yang memungkinkan si penutur menjadi aman untuk melemparkan kritik sepedas apa pun, tembak sana tembak sini, tanpa merasa perlu khawatir menyinggung seseorang secara langsung. Uniknya, ada cerita bahwa terdapat sejumlah makam tokoh Si Kabayan di beberapa tempat. Wallahu’alam.

**

DI Timur Tengah sana, terdapat juga tokoh sejenis. Tokoh yang juga memiliki karakteristik yang kurang lebih sama, di antaranya tokoh Ali Baba, Nasruddin dan tokoh-tokoh lainnya. Tokoh-tokoh tersebut pada umumnya digambarkan sebagai tokoh dari kalangan sufi. Komunitas yang pada saat lahirnya tokoh tersebut gencar melakukan kritik terhadap para penguasa, khalifah, dan, tokoh-tokoh tersebut, khususnya Nasruddin dianggap sebagai tokoh yang benar-benar ada, hidup. Sulit dipastikan adakah hubungan saling memengaruhi kemunculan tokoh yang berkarakter hampir mirip tersebut. Bahkan untuk dikira-kira pun sulit, karena tidak ada fakta yang mendukung. Selain itu, adanya kesamaan antara satu hal dengan hal lain di dunia ini, sejauh berhubungan dengan kreativitas manusia, tidak semuanya bisa dianggap adanya saling pengaruh-memengaruhi. Bahkan jangan-jangan tidak pernah ada kontak dalam persoalan tersebut.

Bila demikian, khususnya membaca keberadaan tokoh Mamang Lengser dan Si Kabayan, dalam masyarakat Sunda, tradisi kritik yang cerdas dan membangun bukanlah hal yang asing dalam kehidupan masyarakat Sunda. Tidak pernah ada atau lembaga tertentu yang merasa tersinggung dengan ungkapan dan gaya hidup Mamang Lengser maupun Si Kabayan. Dan tidak pernah juga ada cerita penutur maupun penulis cerita ini yang dipanggil untuk dimintai keterangan. Hal ini dimungkinkan karena karakteristik dari metode penceritaan kedua tokoh tersebut menggunakan metode yang benar-benar khas.

Pendengar atau pembaca “dipaksa” oleh penulis maupun penutur untuk melakukan “transposisi”, di mana Si Kabayan tidak lagi berposisi sebagai objek baca ataupun objek dengar, dan tidak pernah berada dalam posisi sebagai “alat bicara” atau media bagi penutur maupun penulisnya. Karena Si Kabayan senantiasa berbicara atas nama pembaca maupun pendengar.

Dalam penuturan cerita Si Kabayan bagi sang pembaca atau pendengar, sang tokoh tidak pernah berposisi sebagai pembicara aktif. Yang berbicara dalam cerita tersebut tiada lain dari sang pendengar dan atau sang pembaca itu sendiri. Si Kabayan bukanlah orang lain, melainkan diri sang pembaca atau pendengar itu sendiri yang sedang berubah nama. Karakteristik kedua tokoh tersebut menjadi tampak lucu dan kritiknya sedemikian tajam namun tidak menusuk, karena yang berbicara adalah diri kita sendiri. Si Kabayan adalah bayang-bayang dalam cermin, “bukan cermin”. Si Kabayan hadir sebagai impian dalam tidur nyenyak yang memutar ulang pengalaman-pengalaman kita dalam mimpi yang nyata. Pengalaman yang lucu, kocak, polos dan kadang pikasebeleun. Kita bisa tertawa lepas mendengar dan membaca cerita Si Kabayan, kita benar-benar memahami apa yang dikatakan Si Kabayan, melalui perkataan dan perilakunya. Karena perkataan dan perbuatan Si Kabayan adalah perkataan dan perbuatan kita sendiri. Lain tidak.

Si Kabayan bukanlah tokoh yang demikian sempurna tanpa cacat. Bahkan kini muncul anggapan dan pandangan yang menganggap Si Kabayan sebagai tokoh yang tidak patut untuk dicontoh, tidak cocok lagi dijadikan ikon kesundaan, karena kemalasannya. Lebih dari itu kini tokoh Sunda atau sejumlah masyarakat Sunda yang mempersalahkan Si Kabayan sebagai penyebab karakteristik masyarakat Sunda yang dianggap malas dan tidak memiliki etos kerja modern. Orang yang berpikir demikian, dalam teorema pendidikan yang membebaskan Paulo Freire dikategorikan sebagai individu masyarakat yang memiliki mental naif. Individu yang begitu terang melihat orang lain, tapi buta dalam melihat dirinya sendiri. Tahu tentang kesalahan tanpa mampu memberikan solusi. Individu yang jauh dari sikap dewasa apalagi bertanggung jawab.

Dengan demikian, sejauh kita bisa tertawa ataupun bahkan merasa sebal ketika kita membaca cerita Si Kabayan (atau cerita sejenis), artinya bahwa rohani dan akal pikiran kita masih sehat, karena kita masih bisa mengenal sifat-sifat kocak dan pikasebeleun dalam diri kita. Lebih dari itu, kita masih bisa jujur pada diri kita sendiri.***

http://pikiran-rakyat.com/cetak/1004/23/khazanah/utama02.htm
Sabtu, 23 Oktober 2004

Hatur Nuhun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s