DUKUN: yang terbuan dan terlupakan

Ahmad Gibson Al-Bustomi

Buaya dan komodo merupakan spesies langka peninggalan purbakala. Dilindungi, menarik tapi juga ditakuti. Primitif, tapi menjanjikan. Dukun, adalah spesies peninggalan masa-masa “purbakala” yang kini masih hidup dalam masyarakat modern. Ditakuti sekaligus dibutuhkan. Dicurigai tetapi banyak dicari orang juga merupakan profesi alternatif. Sejak dahulu, dalam sistem masyarakat tradisi, kedudukan seorang Dukun merupakan posisi istimewa. Sebagai pemimpin ritual dan ahli dalam penyembuhan penyakit yang diderita oleh masyarakat. Posisinya sebagai pemimpin upacara-upacara ritual, menempatkan Dukun dalam posisi penting bagi seorang raja. Dukun adalah pintu gerbang sang Raja, sebagai wakil Tuhan (Dewa), dalam berhubungan dengan Tuhan yang memberikan kepadanya kekuasaan untuk mengatur manusia dan alam semesta. Kesucian ilahi (dewata) terpancar dari tangan para Dukun ini diantara ketajaman dan keteduhan sorot matanya. Ia-lah yang menguasai simbol-silmbol komunikasi antara manusia dengan Tuhan dan makhluk-makhluk supernatural lainnya, jembatan yang menghubungkan realitas nyata (dunia) dengan realitas gaib (supernatual). Akar bagi lahirnya ritual dan penyembahan terhadap Tuhan. Dukun adalah axis mudi (poros dunia) yang menghubungkan dunia nyata dengan dunia kasat mata, beyond reality.
Ketika tradisi berpikir filosofis merasuk dalam kehidupan masyarakat, sakralitas kata-kata (tuah dan fatwa) Dukun mendapat tantangan. Para filosof melemparkan kritik terhadap kepercayaan mitologis dan praktik magis. Sementara itu, dengan seluruh rasa hormatnya, Socrates mengumandangkan kata-katanya yang terkenal, mengadopsi kata-kata seorang Oracle dari Delphi (Dukun di Yunani), “Kenalilah dirimu”, know your self. Kata-kata yang juga ditemukan di hampir semua tradisi kearifan Timur. Ungkapan ini bahkan dikenal pula dalam tradisi sufistik: “man ‘arafa nafsah fa qad ‘arafa rabh”.
Selanjutnya, ketika kuasa tradisi yang berada di tangan para Dukun ini berhadapan dengan hegemoni agama, soteriologi meta-kosmik (meminjam istilah Aloysius Pieris), para dituduh sebagai sosok yang terjerembab dalam kumbangan identitas sebagai kolompok yang terjebak dalam dunia tahayul, bid’ah dan khurafat. Posisi para Dukun sebagai tangan kanan dan pemberi legitimasi teologis seorang raja beralih ke tangan para tokoh agama, mereka pun mendapat legitimasi formal kekuasaan sang Raja. Sementara itu Dukun menjadi kelompok pinggiran yang mendapat julukan sebagai penganut ajaran sesat dan ilmu hitam.

Seiring dengan merebaknya gerakan modernisasi, di hampir seluruh pelosok dunia termasuk Indonesia, yang bukan hanya menggerus seluruh ajaran dan praktisi spiritual, pada akhirnya mengeser posisi tokoh spiritual dan agama dari samping singgasana kekuasaan, bukan hanya meminggirkan tokoh agama, tentunya juga semakin menyudutkan eksistensi para Dukun. Agama, spiritualitas dan magisme menjadi persoalan tabu untuk digandengkan dengan apa pun yang berbau modern. Terjadi proses “despiritualisasi” dalam berbagai segi kehidupan bernegara. Tokoh agama dan Dukun mengalami nasib yang sama. Menghadapi persoalan tersebut, baik tokoh agama maupun para Dukun melakukan gerakan “modernisasi”, berusaha untuk mendapatkan legitimasi rasional dan akademis untuk mendapatkan dan merebut kembali pasar dan kepercayaan dari masyarakat. Tokoh agama menjadi kelompok intelektual agama, dan para Dukun menjadi paranormal, yang merupakan gabungan dari kara “para” dan “normal”. Term paranormal merupakan term akademis bagi Dukun.

Secara bahasa “para” bermakna mengatasi atau setelah, semakna dengan kata meta. Sedangkan kata normal, merupakan kata sifat dari norm (norma). Seorang yang normal adalah orang yang berada dalam lingkaran norma-norma umum (wajar). Dengan demikian seorang paranormal adalah seseorang yang berada di luar (beyond) norma-norma umum, “tidak normal”. Namun demikian, makna para-normal menemukan makna sosiologisnya yang khas walau pun kadang bernuansa strereotif, yaitu seseorang yang memiliki kemampuan di atas rata-rata manusia normal, awam.
Kini, masyarakat pengguna jasa Dukun atau paranormal menyebut Dukun atau paranormal sebagai “orang pintar”. Yaitu, orang yang memiliki kemampuan atau kepintaran khusus yang tidak dimiliki oleh orang pada umumnya. Dengan istilah orang pintar, di satu sisi memunculkan superioritas seorang Dukun dalam mengatasi suatu masalah, akan tetapi tidak kemudian secara formal mengembalikan posisi Dukun dalam posisi “terhormat” dalam masyarakat, apalagi dalam suatu sistem kekuasaan. Karena, dalam sistem kekuasaan modern, tidak lagi berada di tangan seorang tokoh agama dan tidak juga di tangan

Dukun melainkan di atas suara rakyat, demokrasi bukan teokrasi.
Namun apakah seorang pemimpin formal negara di jaman modern ini tidak membutuhkan petunjuk seorang Dukun atau paranormal? Bila para Dukun (khususnya di Indonesia) itu ditanya, mereka akan dengan bangga mengatakan bahwa tidak jarang (kebanyakan) langganan mereka adalah para pemegang kekuasaan formal negara. Sulit untuk dipastikan kebenarannya, karena sangatlah sulit atau bahkan mustahil untuk melaukan konfirmasi, crosss-check dari para pelanggan mereka. Karena, berbeda dengan jaman dahulu, seorang Dukun sepintar apa pun ia selulu dipandang secara miring. Bila benar apa yang dikatakan para Dukun atau para normal itu, ternyata sistem pemerintah dan sistem pendidikan modern di dunia tidak menjamin hilangnya ketergantungan masyarakat terhadap peran seorang Dukun.

Banyak fenomena kehidupan masyarakat yang tidak luput dari campur tangan tuah para Dukun. Pemiliha Kepala Desa, pertandingan sepak bola, pembangunan gedung-fedung bertingkat, jembatan dan lain sebagainya. Bahkan, ketika gerakan reformasi di Indonesia digulirkan, para Dukun atau paranormal naik daun. Sejumlah ramalan tentang masa depan negara-bangsa dikemukakan, suksesi pun tidak luput dari pengamatan mereka. Bahkan, media masa cetak dan elektronik menjadikan mereka sebagai pakar pengamat politik (?). Begitu reformasi “selesai” kaum paranormal menjadi dokter-dokter dan psikiater kawakan. Pengobatan alternatif menjadi term yang berkesan melecehkan khasiat pengobatan modern. Uniknya, masyarakat pun menyambut kehadiran mereka dengan antusias.
Modernisasi boleh mewabah, tapi jangan mimpi untuk membunuh kecenderungan “primitif” manusia. Karena, tradisi dan kesadaran primitif merupakan kenyataan yang telah lebih tua hadir mendampingi sejarah kehidupan manusia. Baju lama boleh pergi dan berganti, akan tetapi ia akan senantiasa hadir dalam ingatan dan bathin manusia. C.A. van Puersen, melihat bahwa secara prinsil agama, mistisisme dan magisme pada akhirnya berujung pada sikap yang sama, yaitu sikap ambivalent, yang menjadi kekuatan bagi lahirnya dinamika kebudayaan manusia. Kebudayaan terlahir dari kesadaran akan adanya tekanan-tekanan dari misteri yang melingkupi kehidupan, baik misteri kosmik maupun meta-kosmik. Misteri !
Kesadaran akan misteri dari kehidupan manusia, membuat manusia berusaha mengembangkan strategi untuk berelasi dengan sumber misteri tersebut, bukan dengan menghindari dan menafikannya seperti yang dilakukan masyarakat modern. Agama dan sistem keyakinan tradisi diawali dengan melakukan afirmasi, mengatakan “ya” untuk kemudian menegasinya. Sedangkan paradigma rasional dan modern diawali dengan melakukan negasi, mengatakan “tidak”, untuk pada akhirnya akhirnya melakukan afirmasi, mengatakan “ya”.
Kehidupan spiritualitas dalam kehidupan agama adalah wujud lain dari kecenderungan tradisi “perdukunan” dalam kehidupan mitologis. Paradigma dasarlah yang membedakannya. Dukun, bila menggunakan perspektif Aloysius Pieris, berpijak pada relasi antara individu dengan kekuatan-kekuatan (jiwa) kosmik, dan kepasrahan individu terhadap kekuatan kosmik tersebut. Daya-daya alam ini terpadukan dalam wujud kekuatan Misterius yang tidak kasat mata dan berfungsi menjaga keseimbangan alam semesta, yang terkonseptualisasikan dalam mitos-mitos. Sehingga, pemeliharaan terhadap keasalian alam menjadi prinsip dasar dari sistem keyakinan soteriologi kosmik (mitologis). Sedangkan pada agama metakosmik, kekuatan-kekuatan tersebut tidak diidentifikasi sebagai kekuatan alam melainkan kekuatan dari realitas sebrang, beyond reality. Fungsionalisasi dan manipulasi kekuatan-kekuatan gaib bagi kepentingan pragmatis manusia (sejak awal sejarah manusia) merupakan akar bagi lahirnya tradisi magi. Ketika agama dituntut untuk memerankan fungsi-fungsi pragmatisnya dalam kehidupan masyarakat, ketika paradigma modern menuntut peran-peran dan fungsi pragmatis dari agama (sebagai contoh), ketika itulah agama berubah dari kesadaran kepasrahan diri terhadap Tuhan menjadi magi, dimana Tuhan (kekuatan Ilahi) dimanifulasi sebagai kekuatan fungsional pragmatis bagi pemenuhan pragmatis kehidupan manusia. Dengan kata lain, ketika para tokoh agama secara tidak sadar tunduk pada tuntutan kehidupan pragmatis masyarakat manusia dan bukannya mengarahkan manusia untuk berserah diri kepada Tuhan, sejak itu tokoh agama menjadi praktisi magi.
Dalam posisi demikian, tradisi kehidupan spiritual baik yang bersifat kosmik maupun metakosmik, punya kecenderungan yang sama, yaitu masuk pada wilayah magi: yaitu ketika terjadi peralihan paradigma kepasrahan pada paradigma fungsional-pragmatis. Persolaannya, mungkinkan manusia melepaskan diri dari kepentingan-kepentingan fungsional tersebut?
Dalam agama (soteriologi metekosmik) terdapat institusi do’a. Institusi yang bukan hanya diperbolehkan, akan tetapi juga diwajibkan karena merupakan salah satu indikasi dari terpeliharanya relasi dan sikap ketergantungan hamba atas Tuhannya. Do’a secara epistemologis dan eksistensial memiliki dua kutub yang berbeda akan tetapi berhubungan satu dengan yang lainnya. Yaitu kutub pragmatis dan kutub kepasrahan. Keduanya berelasi dalam kesadaran akan keterbatasan manusia dalam mengahadapi kehidupannya. Dengan demikian ketika seorang idividu yang beragama berdo’a, ia berada dan berpijak pada kedua kutub tersebut secara berimbang. Sikap kepasrahan dan sikap yang memandang Tuhan sebagai unsur yang bisa memenuhi kebutuhan pragmatis.
Dalam konteks inilah sering ditemukan masyarakat yang berduyun-duyun mendatangi tokoh agama, Kyai atau Ajengan. Karena dalam kehidupan spiritual, tokoh agama memiliki multi fungsi. Selain sebagai gudang ilmu yang akan memberikan penjelasan dan arah kehidupan yang menyelamatkan, juga sebagai axis mundi yang menghubungkan manusia dengan realitas ilahiyah, beyond reality. Realitas yang diyakini menjadi sumber keselamatan, kesejahteraan dan ralitas yang akan memenuhi seluruh hajat kehidupan manusia di dunia. Realitas itulah yang diyakini sebagai pusat misteri dan keajaiban, mu’jizat. Dalam kecenderungan pragmatis terdapat harapan, dan dalam harapan terdapat kepasrahan.
Seperti telah disebutkan, seorang Dukun, pada awalnya memiliki tiga fungsi, pertama sebagai penasihat raja, kedua sebagai pemimpin upacara keagamaan (pemimpin adat), dan ketiga sebagai tabib kerajaan. Fungsi pertama dan kedua kini telah punah atau hampir punah. Namun, fungsinya sebagai “tabib” masih kuat dalam masyarakat. Walaupun kini muncul nada miring dalam ungkapan “Dukun lintuh panyakit matuh”. Makna tabib yang disandang oleh seorang Dukun, tidak sekedar mengobati orang sakit, akan tetapi juga sebagai seseorang yang sangat ahli dalam meramal nasib manusia, dan meramal kejadian yang berhubungan dengan kejadian alam. Bahkan lebih dari itu, seorang Dukun diyakini mampu mengontrol nasib manusia dan kejadian alam (nyinglar). Keyakinan akan kemampuan seorang Dukun untuk meramal dan mengontrol nasib manusia dipandang sebagai tahayul dan khurafat, bahkan sebagai kemusrikan. Keyakinan terahadap kemampuan seorang Dukun untuk meramal dan mengontrol nasib dan kejadian alam, dapat difahami cari paradigma bahwa efistem sistem keyakin kosmik adalah memeliharan relasi dan penyatuan dengan jiwa alam. Sehingga, dengan sistem efistem tersebut mereka yakin bahwa nasib manusia dan alam dapat diketahui dan dikontrol dalam relasi kesatuan manusia-alam. Karena manusia sebagai realitas mikrokosmos, bagian integral dari makro-kosmos (alam semesta). Wallahu’alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s