Parodi Sepi

SEMILIR ANGIN

Kenapa dan semenjak kapan aku “mengenal” Tuhan? Pertanyaan ini sulit kujawab, walau pun aku sendiri yang bertanya. Untuk semetara, harus kukatakan bahwa aku mengenal Tuhan karena orang-orang, khususnya orang tuaku mengatakannya, mengajarkannya. Sejak itulah aku mengenal “kata” Tuhan.

Tuhan, kata itu kadang aku sebut dengan istilah yang lain dalam bahasa Sunda: Gusti, Pangeran. Di kemudian hari, aku mengenal istilah lain, seperti illah (bahasa Arab), Sang Hyang (Bahasa Sangskrit, yang menjadi bahasa Indoneisa dan bahasa daerah juga), God dan nama-nama jenis lainnya. Apa yang aku kenal? Kata “Tuhan” tentunya. Apa yang kumengerti dengan kata itu adalah bahwa aku dan manusia lain demikian juga dengan seluruh alam beserta isinya, Tuhan-lah yang menciptakannya. Allah, itu nama yang deberikan buat sang Tuhan. Aku tak tahu pasti bagaimana “wujud” Tuhan dan bagaimana Tuhan menciptakan alam semesta ini. Karena memang yang aku kenal hanya satu hal, yaitu “sebuah kata”. Tak hanya sampai di situ. Bapakku menyuruhku untuk shalat, menyembah Allah. Kenapa? Karena Ia (Tuhan, Allah) telah menciptakanku. Apa hubungannya antara keharusan shalat dengan kenyataan bahwa Allah telah menciptakanku, aku tak mengerti. Sehingga, sebenarnya aku harus mengatakan bahwa aku shalat, karena orang tuaku menyuruhku utuk melakukannya. Oleh karena itu, aku tentu melakukannya sejauh orang tuaku hadir dan menyuruhku untuk melakukannya.Orang tuaku bilang bahwa apabila kita tidak shalat kita akan dimasukkan ke neraka, suatu tempat di mana orang-orang yang tidak sholat akan dibakar. Imaji tentang pembakaran itu aku temukan dalam komik-komik tentang hari akhirat. Berbagai gambaran tentang neraka aku temukan di sana. Mengerikan. Shalatlah aku kalau pun orang tua tidak hadir di situ. Aku begitu percaya dengan apa yang orang tuaku katakan dan yang komik gambarkan. Apa yang aku percaya adalah: kata-kata orang tua. Aku shalat, baca al-Qur’an dan puasa. Itulah yang aku lakukan sebagai konsekwensi dari kepercayaanku terhadap kata-kata orang tuaku. Di sisi lain, orang-orang menyebut kami sebagai orang Islam, seperti juga orang tuaku. Hah…. kalau melihat orang lain yang beragama lain entah kenapa timbul semacam rasa aneh bahkan muncul perasaan benci dan meremehkannya. Begitu juga bila aku melihat rumah ibadah agama lain. Itu terjadi bila aku pergi ke kota kabupaten, karena di kampungku tak ada rumah ibadat lain, selain masjid, atau surau.Sikap keberagamaanku, kalau itu bisa disebut sebagai sikap orang yang beragama, dibarengi dengan kebencian. Kebencian terhadap sesama manusia yang disebabkan oleh perbedaan “agama”, berbeda cara dan tempat beribadat. Berbeda nama agama. Tak lama, kebencian itu merebak menjadi kebencian atau mungkin dengan bahasa yang agak halus rasa tidak suka, tehadap sesama muslim yang berbeda pemahaman. Sungguh, sebenarnya aku tidak tahu pasti apa perbedaan di antara kami. Yang nampak hanyalah kami shalat jum’at di mesjid yang berbeda. Memang ada beberapa cara ibadah yang sedikit berbeda. Dalam berjama’ah shalat jum’at, sebagai contoh, qunut, niat sebelum shalat dan beberapa perbedaan sejenis. Ketika itu aku beranggapan bahwa perbedaan-perbedaan itu bukan sesuatu yang “sekedar” melainkan prinsipil. Aku percaya bahwa aliran keagamaanku, atau aliran keagamaan yang aku anut, atau yang orang tuaku anutlah yang benar. Sekali lagi, keyakinan orang tuakulah yang aku percaya dan yakini.

Apakah aku benar-benar percaya pada Tuhan dalam arti yang sesungguhnya?? Aku tak tahu pasti. Rasanya aku lebih takut dijewer orang tua kalau aku tidak shalat, atau kalau aku shalat jum’at di masjid yang berbeda dengan cara aku shalat itu. Dan, lebih dari itu, aku lebih takut neraka dari pada takut sama Tuhan. Dan, aku lebih berharap masuk surga, dari pada mengharap Rahman-Rahim Allah.

Aku pernah ikut pesantren kilat yang diselenggarakan oleh organisasi yang sepaham dengan pemahaman keagamaan keluargaku. Hasilnya, malah semakin menegaskan dasar keyakinanku. Bukan memperbaharui keyakinanku, lebih dari itu kebencianku pada umat Islam yang berbeda paham semakin kuat; malah melebihi keencianku pada orang yang berbeda agama. Sekali lagi saya katakan, di kqampungku tidak ada orang yang berlainan agama, sehingga kebencianku kepada mereka tidak dipupuk secara intens. Karena, toch bagaimana aku bisa membenci orang yang tidak pernah atau jarang aku jumpai? Sewaktu aku di SMA di ibu kota kabupaten, ketika itu sedang ramai-ramainya pertentangan (pro-kontra) jilbab di sekolah. Uniknya, adikku yang perempuan pun kemudian memakai jilbab. Mau tidak mau aku pun mendukung mereka yang memakai jilbab, atau entak karena alasan apa. Mungkin juga karena kebencian-kebencian yang selama ini dengan subur tertanam dalam dadaku. Tahun 82/83 memang pengaruh dan gaung revolusi Islam Iran mulai masuk dalam kehidupan keagamaan di Indoensia.

Kelas 3 SMA aku dikenalkan oleh teman sekelasku dengan buku dan pemikiran filsafat Yunani dan Islam Klasik. Aku, entah kenapa begitu tertarik dengan pemikiran mereka. Sebagai imbangannya aku baca buku-buku HAMKA. Sungguh mengasikkan. Oh iya, mulai kelas 1 SMA aku meulai kenal pemikiran etika dan filsafat Cina melalui bacaan cerita silat karya Asmaraman Kho Ping Hoo. Buku cerita yang pada awalnya aku sikapi sebagai buku cerita belaka, namun setelah membaca beberapa buku filsafat (ketika itu sangat terbatas), bacaan cerita silat itu semakin memperkaya khazanah pemikiran filsafatku.

Sejak itu aku mulai “nakal” dalam berpikir, dan mulai kritis, hal ini terutama pengaruh bacaan Kho Ping Hoo. Aku pernah ikut pesantren kilat di mesjid Salman ITB, tapi tidak begitu menarik perhatianku, malah semakin memperbesar energi “pemberotankan pemikiranku”.

Pada suatu hari, aku membaca buku tentang teknik pernapasan Yoga. Buku kecil yang sebenarnya tidak memberikan penjelasan yang memadai. Kaan tetapi imajinasiku yang dibangun oleh cerita silat tentang teknik-teknik pernapasan dan penjelasan yang cukup detil dari buku cerita yang dipaparkan penulisnya membuat aku bertekad untuk mencoba mempraktekannya. Sejak itu aku lebih sering mengurung diri di kamar.

Seluruh laku, langkah dan aktivitasku senantiasa diiringi dengan pengaturan nafas, termasuk dalam menjalankan shalat. Aku “isi” latihan yogaku dengan lafal-lafal tahlil dan takbir. Hasilnya luarbiasa bagiku, aku mampu mengendalikan rasa dan emosiku, dan pernah beberpa kejadian yang cukup “aneh” terjadi. Bukan cerita yang berbau magis apalagi berhubungan dengan alam lain seperti di film-film. Tak akan aku ceritakan di sini.

Sejak itu entah kenapa aku tiba-tiba seneng menulis tentang makna-makna kehidupan yang aku rasakan dan alami. Kadang menulis puisi, kalau pun aku tahu sama sekali tidak indah, lebih merupakan ekspresi dari letupan-letupan pengalaman-pengalaman bathini dan “intelek” belaka. Tak ada yang terlalu istimewa.

Berkenaan dengan keberagamaanku, aku harus menyebut bahwa terjadi perubahan-perubahan yang signifikan. Aku tidak lagi mempercayai Tuhan karena perkataan orang tua, akan tetapi aku mulai merumuskan senidri tentang apa itu Tuhan. Tidak dipungkiri bahwa itu pun dipengaruhi oleh pikiran-pikiran dan penjelasan tentang pengalaman-pengalaman bathini orang lain. Akan tetapi itu adalah pilihanku secara bebas. Tetapi itulah masa pengembaraan awal yang penuh dengan jalan berliku.

Kesibukanku dengan diri sendiri membuat aku tidak sempat untuk memikirkan hal lain sebagaimana yang dipikirkan remaja lain seusiaku. Aku sama sekali tidak memiliki teman dekat perempuan. Masa remajaku, dalam arti umum, lewat begitu saja. Tak ada kenangan manis berkenaan dengan cinta dan kehidupan remaja pada umumnya. Lebih dari itu, aku malah suka merasa malu apabila aku bebincang-bincang dan berdekatan dengan perempuan.

Apakah aku terlalu serius menyikapi hidupku ?? Rasanya tidak juga, aku hanya sibuk dengan diri sendiri.
Lanjut …………….. Meneretas legenda pribadi ternyata begitu sulit. Beberapa tahun kemudian, al-hamdulillah aku di sebuah perguruan tinggi Islam negeri, di Bandung. Jurusan yang aku ambil yaitu Perbandingan Agama. Entah mengapa, apdahal yang aku sukai hal-hal yang berbau teknik. Oh iya…., aku juga ikut test SIPENMARU jurusan mesin dan elektro. Hahaha…., satu minggu menjelang test aku menderita diare, muntaber. Padahal seingatku aku tidak makan sesuatu yang memungkinkan aku mengalami sakit itu. Cukup parah, seluruh badan lemas rasanya. Jalanku sempoyongan. Boro-boro untuk bisa konsentrasi mengikuti test, bisa datang ke tempat test juga udah untung. Padahal, aku tealh memersiapkan diri sedemikian rupa untuk menghadapi test ini, aku ikut bimbingan test selama 3 bulan di sebuah tenpat Bimtest yang ternama ketika itu di kota Bandung. Bisa di duga, aku ngak lulus dalam test itu. Sebelum pengumuman test itu, aku disuruh oleh orang tuaku supaya ikutan Test di sebuah perguruan tinggi agama Islam di Bandung. Tanpa diduga, aku lulus test. Ya….itu, aku masuk Juruasan Perbandingan Agama, seperti sudah aku katakan. Pada awalnya aku ngak terlalu serius dalam mengikuti perkuliahan di perguruan tinggi ini. Aku masih berencana untuk ikut lagi test SIPENMARU tahun depannya. Namun demikian, bukan berarti aku sama sekali tidak peduli dengan perkuliahan yang kini (ketika itu) aku jalani.

Sejumlah buku aku lalap. Dan, aku lebih menyukai buku-buku berkenaan dengan matakuliah yang belum dan tidak diwajibkan oleh dosen-dosen. Aku demikian doyan mecari buku-buku, dan membacanya. Biasanya, bila aku pulang dari kampung dan membawa uang bekal, hal yang pertama aku lakukan adalah pergi keu Palasari dan ke Cikapundung untuk mencari dan membeli buku-nuku bekas. Mau beli buku-buku baru wah…. Mana sesuai dengan daya beliku. Biasanya kalau satu semester telah selesai, aku menumpuk buku itu. Ketika ditumpuk, dari lantai suka hampir menyentuh langit-langit kamar kost ku. Hahaha….. lama ku atatap buku itu dengan perasaan bangga. Namun kini aku suka mengutuk kebodohanku, buku-buku itu kini boleh dibilah habis entah ke mana. Teman-temanku banyak yang minjam dan tak kembali.

Dulu, bila aku pindah tempat kost, biasanya dua tahun sekali aku pindah tempat kost, hal yang paling pusing dan merepotkan adalah ketika harus memindahkan buku-buku itu, hahahaha…. Setahun kemudian, aku berencana ikut test SIPENMARU lagi….. Habis penasaran pengen kuliah bidang teknik…. Namun apa daya, NEM-ku hilang entah ke mana, jadinya aku ngak bisa daftar dan megikuti test. Sayang sekali. Lucunya, kurang lebih seminggu setah pelaksanaan test telah lewat, kutemukan NEM itu, tak dimana-mana, ada bersama ijazah SMA-ku. Aneh…..sungguh aneh….; Aku tak menyalahkan siapa-sipa dengan kejadian itu, termasuk diri sendiri.
Pada akhirnya aku membulatkan tekad untuk menseriusi kuliah-ku di perguruan tinggi yang sudah aku jalani selama satu tahun itu, 2 semester. Dan waktu libur semester genap-ku yang hampir 2 bulan itu aku mamfa’atkan untuk belajar Bahasa Arab di kampungku. Hal ini aku anggap penting, karena aku tidak memiliki latar belakang pesantren atau pun madrasah. Aku belar dari 2 orang ustadz, sekalugus. Subuh dan dzyhur dari ustadz yang satu dan waktu ashar dan Isya ke ustad yang satunya lagi. Aku benar-benar mabok. Dengan waktu yang demikian sempit, dan metode tradisional aku belajar Bahasa Arab. Wal hasil…. Aku tetap tidak bisa Bahasa Arab…. HAHAHAHA…, aku benar-benar trauma untuk belajar Bahasa Arab, sampai sekarang. Konyol….., kalau bisa sedikit… jauh dari memadai… sangat jauh..!!!! Aku memang tidak memiliki daya ingat yang cukup kuat, oelh karena itu aku tidak menyukai pelajaran sejaraha atau pelajaran yang memerlukan daya ingat. Aku lebih senang dengan pelajaran yang memerlukan pemahaman dan pemikiran analitis. Kesenanganku dengan filsafat dan pemikiran-pemikiran metafisika ternyata tidak sia-sia, karena di Fakultas dan Jurusan di mana aku kuliah, sarat dengan persolan-persoalan dan matakuliah tersebut. Akhirnya aku benar-benar tenggelam dalam dunia serba “langit” itu.

Di semester 4 aku sempat menjadi asisten Matakuliah Sosiologi, Matakuliah yang sebenarnya tidak begitu aku sukai, aku dianggat oleh Dosenku sepertinya hanya karena aku dianggap lebih menguasai Bahasa Inggris dibandingkan teman-teman sekelasku. Ketika aku menterjemahkan naskah yang ditugaskan oleh Dosenku, sungguh aku tidak mengerti. Tapi keitka aku menerangkan di depan kelas… entah mengapa aku bisa menjelaskannya sedemikian jelas dan aku pun “tiba-tiba” mengerti. Dan ketika aku tanyakan ke teman-temanku pun, mereka pun bisa mengerti dengan apa yang aku jelaskan. Sungguh ajaib. Dari pengalam itu aku mencatat satu hal yang membuat aku selalu menghormati dosen-dosenku. Yaitu bahwa seorang guru (dosen) senantiasa dibimbing oleh seorang malaikat (atas Ijin Allah). Jangan tanya apa alasanya, keyakinan itu datang begitu saja. Dan, pengalaman itu membuat aku senantiasa menghadiri setiap perkuliahan, terlepas apakan matakuliahnya menarik atau tidak, Dosennya “enak” atau tidak dalam menyampaikan perkuliahannya. Aku masuk kuliah karena aku begitu menghormati sosok seorang dosen.

Lucunya, saking aku menghormati dosen-dosenku, ada beberapa pengalaman bathin dan sikap dalam menghadapi dan menyikapi seorang dosen. Diantaranya: Kalau aku sedang berjalan, dan tampak di depanku (jauh) ada dosen sedang berjalan ke arah di mana ku sedang berjalan, aku pasti berbelok supaya tidak bertemu dengan dosenku itu. Aku merasa malu untuk bertemu, malu karena aku sangat menghormatinya. Aku merasa tidak cukup “berharga” untuk bertemu dengannya. Terus, pernah suatu saat, aku diminta bantuan oleh seorang teman seasramaku (beda fakultas) untuk membantu mencat rumah kakaknya. Aku tahu bahwa kakaknya itu adalah seorang dosen di fakultas tempat aku kuliah. Aku membantunya hingga selesai. Setelah itu aku sering datang ke rumahnya. Namun, setelah ia mengajar di kelasku…, aku tak pernah lagi datang keu rumah kakanya temanku yang dosen-ku itu. Aku merasa malu, dan takut ia bersikap baik kepadaku karena aku membantu mengecatkan rumahnya. Aku hanya datang kalu dipanggil oleh dosenku itu. Namun demikian, anehnya aku termasuk mahasiswa yang dianggap sangat “galak” dalam artian kritis terhadap dosen yang mengajar di kelasku. Sehingga aku pernah tidak diberi nilai (mata kuliah filsafat agama) karena aku menanyakan sesuatu yang menurut dosen itu sangat “riskan”. Memang aku tidak dikeluarkan dari kelas, karena bertanya dengan cara wajar dan sopan, cuman materi yang aku tanyakan itu yang membuat sang dosen kalang kabut.

Aku memang nakal dalam hal bertanya dan menyangkal. HAHAHA. Sebenarnya kegalakkanku dalam bertanya bukan hanya pada dosen, malah aku sering pusing sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan (yang terlontar dalam pikiranku) terhadap diriku sendiri. Aku selalu mencari jawaban jawaban terhadap pertanyaanku itu, tentunya dengan kualitas jawaban (hasil) yang sesuai dengan daya pikir dan pengetahuanku ketika itu. Setelah sekian lama, setelah aku mendapat sejumla informasi dari beberapa bacaan dan hasil diskusi serta menemukan cara berpikir yang lain, aku selalu melakukan kritik dan revisi terhadap jawaban-jawaban yang telah kudapatkan.

Aku punya prinsip bahwa, setiap jawaban pada dasarnya menyajikan pertanyaan-pertanyaan lain; dan setiap pertanyaan merupakan sebuah jawaban atas pertanyaan itu. Sehingga setiap bertanya yang diajukan pada dasarnya merupakan jawaban terhadap pertanyaan itu, dan setiap jawaban merupakan pertanyaan bagi jawaban itu sendiri. Oleh karena itu, setiap saya membuat jawaban atas sebuah pertanyaan, saya selalu “menghitung” kemungkinan pertanyaan-pertanyaan yang akan muncul. Dan setiap mengajukan pertanyaan yang saya ajukan pun senantiasa “menghitung” kemungkinan-kemungkinan jawaban yang akan muncul. Karena itulah saya sering “bentrok” dengan dosen-dosenku di kelas. “Gawatnya”, karena matakuliah yang tersaji (tentunya) berkenaan dengan masalah-masalah agama (berbagai agama termasuk Islam) dan filsafat, tidak jarang bahkan hampir selalu berhadapn dengan persoalan-persoalan yang riskan dalam konteks aqidah, atau kehidupan beragama.

Tapi, aku yakin dengan pendekatan apa pun dan dari pintu mana pun, sejauh kita sungguh-sungguh, jujur pada diri sendiri, ikhlas dan memang bermaksud untuk menerima-Nya dan bukannya untuk menolak-Nya, kita akan sampai di gerbang Illahi, dan mendapatkan keteduhan naungannya.

Dengan bekal keyakinan itu, aku tidak pernah merasa khawatir bergelut dalam dunia filsafat. Semakin orang banyak yang berkata bahwa filsafat bisa menyesatkan orang dari keyakinan dan aqidahnya, semakin aku penasaran; dan sungguh aku tak percaya dengan perkataan itu. Aku berkeyakinan bahwa hanya karena sikap setengah hati dalam berfilsafat dan karena sejak awal ada niat untuk mengingkari Tuhan (Allah)-lah seseorang bisa mengalami hal tersebut. “Man behind gun”, bukan filsafat yang membuat mereka mengingkari Tuhan, akan tetapi karena orang-nya sendiri menghendaki itu…..

Terbukti sampai sekarang, aku masih tetap menyakini dan mengimani Tuhan (Allah); bahkan aku semakin yakin justru ketika aku mempelajari argumen-argumen meraka yang konon disbeut-sebut sebagai tokoh atheis.
Aku pelajari Sigmund Freud, tokoh dan pendiri teori Psiko-analisa, demikian juga dengan Nietzsche dan tokoh-tokoh lainnya. Isnysa allah akan aku tulis analisisku tentang hal ini dalam item yang berbeda tentunya, bukan dalam rangkaian tulisan ini.

masih berlanjut………..

http://bi-q.com/gibsonblog/wordpress/feed/

One thought on “Parodi Sepi

  1. bos bukukeun atuh tulisan teh. da mantep-mantep..!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s