Belajar Mencintai

Ia terlahir, sementara ayahnya telah lama pergi untuk selama-lamanya. Dan tak lama setelah lahir, karena tradisi ia pun berpisah dari ibu kandungnya. Sejak kecil, ia “dikondisikan” untuk mandiri dan sendiri. Tapa orang tua (ibu/bapak), tanpa saudara kandung. Sejarah hidupnya adalah perjalanan ditinggalkan orang-orang terkasih. Kita akan menyebutnya sebagai kehidupan yang kering dengan tetesan kasih sayang.

Ia semakin merasa terasing ketika melihat cara dan tradisi kehidupan masyarakatnya. Ia seperti hidup diantara segerombolan srigala yang antara satu dengan yang lainnya saling memangsa. Tak lagi ada rasa hormat terhadap manusia lainnya, bahkan masa depan kehidupan dirinya pun tak jarang ia serahkan pada beberapa biji anak panah. Mereka mengundi apa yang akan dan ahrus dilakukannya, bukan dengan cara memikirkan dan mempertimbangkannya secara matang dan dewasa. Dan, anak-anak perempuan mereka mati membusuk dilindas kesombongan bapak-bapaknya.

Ia mencoba kesibukan yang masyarakatnya lakukan. Berdagang, melintasi gurun sahara dan mendatangi berbagai negeri. Namun, ternyata ia tidak pernah bisa nyaman berada diantara gelimang uang dan tidak pernah merasa berbahagia berada diantara harta dunia. Dan selalu gerah bila berdekatan dengan para penguasa dunia. Ia malah merasa demikian sejuk dan nyama berada diantara para miskin papa.

berlanjut…………………………….insyaallah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s