Jangan Jual Jiwa dan Kebebasanmu

Ahmad Gibson al-Bustomi

Nurai tak kan pergi ke mana…
Ia senantiasa mengecup kening kita,
kala embun pagi kedipkan mata indahnya.
Namun kita entah di mana

Jiwa, kini merupakan term yang sangat khas religius dan atau mitis. Term yang kini semakin menguap besamaan dengan hembusan angin modernisme (dengan berbagai aspeknya). Integritas manusia dari hari ke hari sedikit demiki sedikit terkikis dan dipreteli. Beralih menjadi binatang dan akhirnya menjadi robot ( ka al-an’am bal hum adhol: seperti binatang bahkan lebih rendah, al-Qur’an).

Nietzsche, tokoh filsafat eksistensi yang memproklamirkan kematian tuhan, mengingatkan kita tentang karakteristik hidup manusia: “Maju ke medan perang, mundur menjadi binatang, atau mati hancur binasa”. Dengan kata lain, manusia senantiasa dituntut untuk berperang mempertahan eksistensinya, atau mundur dan menjadi binatang. Sebuah pertaruhan yang tidak kecil.

Hidup memang sebuah pertaruhan, dan ada yang dipertaruhkan. Tuhan (apabila anda mengimaninya) memberi kebebasan pada manusia untuk memilih pertaruhan itu, dan Tuhan mengingatkan akan konsekwensi dari setiap pertaruhan (pilihan) yang kita ambil. Di sinilah letak keistimewaan manusia, pada kebebasan untuk memilih pertaruhan kehidupannya. Pilihan yang menentukan apakan kita masih sebagai manusia, atau hanya sosok yang bertubuh manusia. Bereksistensi, atau tidak.

Dalam sinopsis cerita drama “Selln’t Our Soul”, dengan icon-icon mitiknya, Abu berhadapan dengan dua pilihan, mengikuti dan memenuhi tiga tawaran Solmyr (sayang tidak disebutkan dalam sinopsis), untuk ditukar dengan jiwanya. Di sisi lain hadir pula sosok Valeska malaikat pelindung. Bila valeska disebut sebagai sosok maliakat, maka Solmyr mungkin merupakan sosok iblis. Dengan demikian terdapat tiga kaca kunci, Jiwa (manusia), malaikat dan iblis. Iblis berusaha untuk menyeret manusia untuk kembali menjadi “tanah, debu”, malaikat berusaha mengingatkan manusia untuk senantiasa mempertahan dan melindungi kemanusiaannya dengan menjernihkan jiwa/kesadaran dan menjadikan jiwa/kesadaran untuk senantiasa terjaga, dan menjadi unsur dominan dalam hidupnya.

Jiwa, dalam term agama atau spiritualitas. Dalam Filsafat dikenal dengan kesadaran. Bila manusia “kehilangan jiwan, kesadarannya (yang berarti azas bagi kemanusiaannya), maka pilihan moldel apa pun tidak akan bisa dinikmati dengan semestinya. Bila kita menarik tentang pertarungan dan pengembaraan kehidupan dalam drama tersebut dalam kontek kesekarangan, sungguh sangat menarik. Tidak sedikit manusia modern atau yang dipaksa untuk modern yang secara sadar atau tidak sadar telah menggadaikan jiwa dan kehidupannya dengan sesuatu yang “dianggap”-nya menyenangkan dan menyelamtkan kehidupannya. Dengan alasan ekonomi, sosial, jaminan masa depan dan alasan-alasan lainnya manusia dengan suka rela atau terpaksa menukarkan jiwanya dengan sesuatu yang akan mencapai harapannya. Pertukaran penuh resiko, karena bukan mustahil pilihan itu berakibat lenyapnya dimensi kemanusiaanya, jiwanya, kesadarannya. Fenomena demikian sebenarnya bukan hanya hadir dalam kehidupan modern, akan tetapi telah menjadi bagian dari sejarah kehadiran manusia di muka bumi.

——— Disampaikan dalam acara: Talk Show College Life, yang diadakan oleh LPMI (Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indenesia); Sabtu, 24 Maret 2007.

http://bi-q.com/gibsonblog/wordpress/feed/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s