Kurban, ”Ngaruat” Kebersamaan Manusia-Binatang

BANYAK hal yang membedakan antara manusia dengan binatang. Entah karena itu atau sebab lain, tak ada seorang manusia pun yang mau dan berhasrat untuk disamakan atau dianggap sama dengan binatang. Padahal, tidak sedikit yang mendefinisikan manusia; merujuk pada genus manusia sebagai binatang, bahkan tidak kalah radikal ada pula yang mengatakan bahwa manusia berasal dari salah satu binatang. Lebih dari itu, tidak jarang sistem keyakinan tertentu yang berkeyakinan bahwa manusia (etniknya) berasal dari binatang (fetisisme), walaupun kemudian keberadaan sosok binatang itu lebih disikapi sebagai sebuah “simbol archaic”. Benar atau salah definisi, teori dan keyakinan itu, tak ada yang tahu persis. Terlepas dari itu semua hampir semua orang, supaya tidak terlalu radikal, sepakat bahwa manusia secara umum memiliki sifat-sifat kebinatangan. Sifat yang dipersepsi sebagai unsur negatif yang dimiliki manusia yang harus dijauhi dan dibuang habis.

Kehadiran agama, kebudayaan, filsafat, spiritualisme dan ajaran atau gerakan pemikiran sejenis pada umumnya dimaksudkan untuk menggerus unsur-unsur atau sifat-sifat kebinatangan pada manusia. Secara apriori manusia meletakkan unsur dan sifat-sifat binatang sebagai something beyond human and humanity. Bahkan, dalam perspektif positivisme yang melahirkan metode ilmiah modern (sains modern) dan peradaban modern, bukan hanya unsur binatang yang berusaha untuk dinafikan dari diri manusia, lebih dari itu alam pun dicerabut dari diri manusia, sehingga manusia menjadi subjek otonom yang terpisah dari apa pun yang bukan dan tidak identik dengan manusia.

Tidak ketinggalan dunia sastra dan seni (dalam berbagai genre) pun melakukan hal yang kurang lebih sama. Album Pink Floyd yang berjudul The Animals (1977) yang konon terinspirasi oleh novel karya George Roger Waters yang berjudul Animal Farm, yang menggunakan “binatang” sebagai icon sikap dan sifat manusia yang tidak manusiawi. Dalam dunia sastra Indonesia, cerpenis Kuntowijoyo dalam Anjing-anjing Menyerbu Kuburan menggandengkan manusia yang “menghalalkan segala cara” untuk mendapatkan kekayaan dengan binatang-binantang: anjing dan manusia secara bersama-sama menyerbu kuburan. Di sisi lain, tidak jarang pula yang menjadikan binatang sebagai sosok yang sarat dengan nilai-nilai “keluhuran kemanusiaan” (“keluhuran kebinatangan?”), paling tidak dalam film-film animasi dan dongeng-dongeng fabel.

Ironi bahkan mungkin tragedi, itu yang bisa kita katakan, ketika kehidupan manusia digambarkan dalam wujud dan perilaku binatang. Dalam dunia mitik, manusia-manusia yang hidupnya “dipertuhan” oleh harta dunia dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya, ia merelakan dirinya untuk melakukan pemujaan terhadap iblis yang konon berwujud binatang: babi, monyet, ular dan lain sebagainya. Kenekatan, yang konon harus ditebus dengan perubahan wujud dirinya (pemuja iblis ini) menjadi wujud yang dipujanya ketika mati menjemput, dan sampai kiamat menjelang ia akan menjadi budak sang iblis yang dipujanya. Percaya atau tidak , tak perlu Anda buktikan. Iblis dan manusia punya ulah, binatang yang dinistakan. Bahkan, kemudian tidak jarang yang beranggapan atau menggambarkan bahwa sejumlah binatang merupakan perwujudan dari iblis.

Ketika melakukan kritik (tepatnya sindiran atau ejekan) terhadap manusia yang rakus sebagai manusia yang tidak manusiawi, dan disejajarkan atau lebih rendah dari binatang. Karena, konon binatang yang paling buas sekalipun hanya makan ketika ia lapar dan hanya makan sampai ia merasa kenyang. Berbeda dengan binatang, manusia tidak hanya memakannya sampai kenyang ia pun menumpuk apa pun yang bisa ia bawa atau dapatkan, kalau perlu dunia ia lipat dan masukkan ke dalam dompetnya. Bukan lagi sifat binatang yang ia miliki. Sebuas-buasnya binatang tak pernah ia berangan-angan dan berusaha untuk memiliki apa pun yang ia temukan. Hanya manusia yang memiliki hasrat demikian, untuk memiliki. Binatang hanya berusaha untuk menjalani hidup sebagaimana adanya, hanya manusia yang berusaha untuk memiliki kehidupan ini. Kalau perlu ia bersaing dan merebutnya dari Tuhan untuk memiliki dunia ini beserta isinya, atau kalau bisa (kalau perlu) menjadi tuhan. Andai benar bahwa salah satu capaian tertinggi dari perjalanan spiritual yang dilakukan para Sufi dan pengikut thariqat ketasawufan adalah hilangnya perasaan memiliki karena hanya Allah pemilik segala sesuatu termasuk jiwa dan kehidupannya; tampaknya manusia harus banyak belajar dari binatang.

**

BILA kita sejenak merenung dan berlaku jujur, betulkah sifat-sifat binatang itu sedemikan hina dan negatif untuk kita sandang, sehingga karenanya kita merasa perlu menghabiskan banyak energi dan usia kita untuk membuang dan mengelimasinya dari diri dan kehidupan kita? Dan, setelah sekian lama kita bergulat dalam perjuangan menguliti sifat-sifat binantang dari diri kita, manusia, sudahkah kita berhasil melakukannya? Atau malah dengan itu manusia kehilangan sifat kemanusiaannya, bukan kebinatangannya!

Aneh memang, semakin kita caci dan kutuk sifat-sifat binatang dalam diri kita dan orang lain, semakin kita akrab dengan kehidupan yang sarat dengan sifat-sifat itu. Apa pun yang kita lakukan dan usahakan, malah semakin menegaskan kebinatangan kita. Padahal binatang pun tak seganas dan tidak sebiadab yang kita (manusia) lakukan. Dahulu kala, ketika dunia ini dihuni oleh berbagai jenis binatang dengan ukuran “raksasa” sejenis dinosaurus, selama jutaan tahun, dan tentunya lebih ganas dari binatang yang kita kenal sekarang tidak diceritakan alam menjadi rusak karena ulah mereka. Akan tetapi, ketika manusia menghuni bumi ini, dengan hanya beberapa periode peradaban saja (primitif, tradisional dan modern) bumi yang kita huni ini mengalami kerusakan yang sangat parah. Bila manusia dikategorikan sebagai binatang atau memiliki sifat binatang, binatang jenis apa sesungguhnya manusia itu?

**

KONON, dalam tradisi agama-agama Semit, tak ada seorang Nabi dan Rasul pun yang bukan pengembala binatang ternak. Mereka tidak kehilangan kearifannya karena kedekatannya dengan binatang-binantang itu. Bahkan, mungkin, mereka belajar kearifan, ketaatan dan kesahajaan dalam (dari) kedekatan mereka dengan binatang-binatang yang mereka gembalakan (?). Mereka, para Nabi dan Rasul, begitu telaten dan penuh kasih sayang dalam memelihara dan menjaga gembalaannya dari ancaman serigala atau pemangsa lainnya yang juga binatang, sebagaimana mereka menjaganya dari ancaman para pencuri dan para perompak, yang tentunya manusia. Lebih dari itu, salah satu ciri kemuliaan yang Allah anugerahkan kepada Nabi Sulaiman adalah kemampuannya dalam memahami bahasa dan berdialog dengan binatang.

Alquran lebih banyak menggambarkan binatang sebagai amsal yang mengedepankan sisi baik, seperti semut, lebah, burung, ikan, dan lain sebagainya. Bila kemudian Allah mengingatkan bahwa manusia memiliki kelebihan dari binatang, tapi bukankah Allah pun mengingatkan bahwa manusia bisa lebih rendah dari binatang? Itu tidak berarti bahwa manusia harus menghinakan dan menafikan keberadaan binatang. Dan hanya sedikit orang yang merasa cukup diri untuk bersanding dan merasa berada di atas para malaikat. Manusia menjadi lebih tinggi dari para binatang bahkan dari para malaikat sekalipun, karena ia dianugerahi akal dan nurani; jatuh lebih rendah dari binatang ketika anugerah itu diabaikannya.

Di antara kelompok manusia yang dimuliakan di sisi Allah, selain para nabi dan Rasul-Nya adalah para aulia-Nya. Diduga, di antara para aulia itu adalah sekelompok orang yang kita sebut kaum Sufi. Dan mereka tidak pernah merasa rendah diri untuk membuat amsal binatang untuk mewakili diri mereka dalam menceritakan perjalanan dan pengalaman spiritualnya dalam mencari kebenaran, Allah. Sebut saja Fariduddin Athar dalam Mantiquth-Thair (Parliament of the Birds, Musyawah Burung), yang menjadikan burung-burung sebagai penjelmaan manusia-manusia yang demikian merindukan untuk bertemu dengan Raja para burung yang misterius, Simugh. Tak kurang Muhammad Iqbal, filosof dan penyair Muslim, dalam syair-syairnya menjadikan binatang, khususnya burung Rajawali, sebagai amsal bagi manusia sempurna (Insan Kamil).

**

IBADAH Kurban yang menjadi salah satu peristiwa besar dalam ritual agama Islam yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail, mungkin merupakan gambaran yang paling representitatif tentang kedudukan dalam perjalanan kehidupan manusia di bumi. Apa yang dilakukan Ibrahim dan Ismail sering digambarkan sebagai pengorbanan tertinggi yang pernah dilakukan manusia.

Ketika pedang Ibrahim mulai mengiris kulit leher Ismail, putranya yang ia cintai dengan seluruh jiwa raganya, Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba yang sangat sehat dan gemuk. Mungkinkah Allah menggantikan jiwa Ismail yang sangat Ibrahim cintai dan Allah pun mencintainya dengan pengganti yang lebih berharga dari sebelumnya? Atau sesuatu yang sifat-sifatnya terasa demikian hina itu, dibuang-Nya dan digantikan-Nya dengan sifat-sifat mulia? Atau, apakah memang Tuhan bermaksud menguji Ibrahim untuk mengurbankan sesuatu yang paling dicintainya di dunia ini dengan pengganti (balasan) yang tidak setara. Tapi, pernahkah dan mungkinkah Tuhan membalas pengorbanan (ketaatan) hambanya dengan sesuatu yang tidak sebanding? Wallahu’alam.***

Hatur Nuhun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s