Catatan Ramadhan

Tidak ada suara beduk, tidak seperti masa kecilku di kampung. Tidak ada aktivitas yang bisa dianggap luar biasa, kecuali kemacetan di jalan-jalan yang melintasi wilayah Pasar. Kemeriahan itu hanya terasa bila kita menyimak acara-acara di televisi, radio atau sempat menyimaknya dalam kolom-kolom surat kabar. Kehidmatan dan kemeriahan.

Dalam sebuah percakapan ringan di tempat kerja, lebih merupakan percakapan sambil lalu, nuansa persiapan Ramadhan itu sedikit terasa. Nostalgia masa-masa kecil berpuasa di kampung halaman menjadi guyonan yang mengundang tawa. Dan, pembicaraan pun menjadi tampak lebih serius, ketika membicarakan naiknya harga. Keluh kesah, caci maki serta kritik mulai menghiasi percakapan. Kambing hitam mengembik di sana-sini. Suasana khidmat dan suka-cita berbaur dengan kekhawatiran.

Lama aku merebungkan percakapan sambil lalu itu. Berusaha untuk menyimpul-nyimpulkan. Satu kesimpulan yang aku bisa rumuskan, terdapat ketakutan yang menyelimuti benak dan perasaan mereka. Itu bisa kusimpulkan dari pembicaraan mereka tentang harga-harga yang melambung, tunjangan hari raya…..

Satu pertanyaan besar yang sulit kumengerti, apa sesungguhnya yang mereka takutkan, sehingga caci maki,dan kritik pedas keluar dari mulut mereka? Padahal pembicaraan itu berkisar kehidupan bulan Ramadhan yang tak lama lagi akan sama-sama jalani.

Ada makanan Aku Puasa, Ada uang Aku Lebaran

Keberadaan manusia ditentukan oleh identitas yang menjadi ciri keberadaannya. Rene Descartes, bapak filsafat Barat modern, menegaskan keberadaannya sejauh berpikir (kesadran rasional), cogito ergo sum. Agama secara umum mengidentifikasi keberadaan manusia karena keberimanannya, ada sejauh beriman. Dalam dunia Ilmu Fisika (tak apa ngak nyambung juga), ada usaha sejauh ada hasil, perubahan.

Ideintitas-identitas yang mencirikan dan menegaskan keberadaan sesuatu merupakan hal penting dan vital, demikian juga dengan Ramadhan. Ramadhan di dalamnya memiliki sejumlah aktivitas. Setiap aktivitasnya dicirikan oleh berbagai identitas yang penegasan keberada dan nilai anya.

Salah satu yang jelas-jelas mencirikan keberadaan bulan Ramadhan adalah aktivitas berpuasa. Puasa sama dengan Ramadhan dan Ramadhan sama dengan puasa. Tidak jarang juga Ramadhan diidentifikasi dengan lebaran, puasa sama dengan lebaran. Selain itu, secara kultural, puasa memiliki identitas lain yang diidentifikasi berdasarkan kebiasaan (habitual activates). Yaitu, adanya aktivitas mengumpulkan makanan dalam berpuasa. Kemeriahan dan keberadaan puasa ditentukan oleh keberadaan makan ketika berbuka puasa, serta dalam melaksanakan aktivitas syahur. Penyiapan makan, menjadikan puasa terasa berbeda. Apa bila seseorang melakukan ibadah puasa dengan penyediaan makanan yang sama dengan pada bulan-bulan lainnya (selain Ramadhan), maka (dianggap) tidak ada yang istimewa. Ibadah puasa menjadi hambar dan tidak berkesan, bahkan mungkin dianggap tidak memiliki nilai yang bisa dibanggakan. Keberadaan kolek sebagai contoh menjadi sesuatu yang bersifat “mutlak” sebagai standar minimal dalam berbuka puasa. Tidak ada kolek puasa pun tiada.

Demikian juga ketika ibadah puasa ditutup dengan perayaan ‘Idul Fitri, atau yang kita kenal dengan Hari Lebaran. Tak ada Lebaran atau ‘Idul Fitri tanpa belanja. Maka Aku berlebaran karena aku berbelanja. Lebaran atau Idul fitri sejauh berbelanja. Berbelanja merupakan identitas dan peneguh keberadaan Hari Lebaran, Idul fitri.

Jangankan orang-orang yang telah dewasa yang tentunya berpuasa, anak-anak yang tidak berpuasa pun, akan ikut serta dalam acara dan kemeriahan Hari Lebaran, karena berbelanja. Tidak ada perbedaan yang mendasar antara orang dewasa dengan anak-anak ketika menyambut Lebaran. Semuanya berbelanja. Berpuasa? Tidak ada hubungan yang signifikan antara berpuasa dengan berlebaran atau perayaan Hari Raya ‘Idul Fitri.

Ramadhan ke-1: Ngabuburit

Setengah jam menjelang adzan Maghrib, saat untuk berbuka puasa, dengan mengendarai motor bebek, Si Keor, kujelajahi jalan antara rumah sampai Kampus. Jaraknya tidak seberapa jauh, hanya sekitar 200-300 meter. Keinginan itu telah ada sejak beberapa jam sebelumnya. Tapi karena tekadku sudah bulat, maka kuabaikan keinginan itu. tekad untuk mengenali dan mengakrabi hasrat-hasrat seperti itu. Untuk kemudian mengendalikannya. Namun, kusadari bahwa hasrat itu pun bukan tidak mungkin malah menjebakku dalam keinginan yang obsesif. Menyadari hal itu, aku berniat untuk menyantuni hasratku untuk sekedar jalan-jalan. Keinginan, hasrat, tekad, niat ada dalam diri kita. Itu semua adalah diri kita. Entah apa dan siap ayang mengendalikan dan yang dikendalikan. Terlalu rumit untuk dipikirkan, hanya untuk dirasakan.

Sepanjang pinggir jalan yang kulewati banyak dijumpai orang berkerumun di sekitar tempat jualan makanan. Berbagai jenis makanan. Makanan ringa, siap santap untuk tajil, saat adzan maghrib berkumandang.

Sebelum berangkat, aku memeriksa saku celanaku dan ditemukan uang, cukup bila untuk sekedar membeli beberapa bungkus kolek atau makanan sejenis. Namun hasrat itu tidak terlalu aku acuhkan, semakin besar desakan untuk membeli makanan itu, semakin kuat pula penolakan dari dalam diriku. Bukan aku tak ingat anak istriku. Anakku pasti senang bila aku membawanya beberaa bungkus. Tapi kau tidak mau istriku merasa sia-sia dengan apa yang dikerjakannya. Menyenangkan yang lain, selain diriku pribadi maksudku, barangkali bisa menjadi katalisator terhadap hasrat-hasrat diri yang tidak terkendali (?).

Aku berbelok ke pintu gerbang kampus. Banyaknya orang yang berjubel di pintu gerbang Kampus yang kebetulan banyak orang yang berjualan makanan di situ, angak menghalangiku untuk masuk, walaupun akhirnya bisa juga.

Aku menelusuri jalan utama Kampus. Keadaannya lenggang, jauh dibanding dipintu gerbang tadi. Mungkin, karena tidak ada yang berjualan makanan di dalam kampus. Setelah mengelilingi kampus, aku kembali ke pintu gerbang kampus. Aku berhenti beberapa saat karena kebetulan bertemu dengan mantan mahasiswaku yang baru menyelesaikan perkuliahannya. Beberapa saat terlibat pembicaraan yang mengasikan. Ikut menikmati suka citanya, atas kesarjanaannya.

Aku kembali menjalankan motorku untuk pulang, setelah sebelumnya aku berpamitan. Tak lama setelah setibanya di rumah, terdengar alunan suara adzan dari radio yang sengaja aku nyalakan. Terasa begitu indah tidak seperti biasanya. Mungkin karena derita rasa lapar dan rasa takut masih sedemikian mencengkram seluruh tubuh dan jiwaku. Belum juga kukenali derita rasa lapar itu, sehingga aku terus dan terus terjebak dalam pusarannya.

Ramadhan Ke-2: Sebuah Nama

Ramadhan kali ini memang tidak banyak target yang aku rencanakan. Hanya satu hal yang kutargetkan, yaitu mengenal dan mengakrabi rasa tukut dan kekhwatiran sampai ke akar-akarnya. Ketakutan akan rasa lapar dan kemungkinan untuk menderita kelaparan. Oleh karena itu pernik-pernik kegiatan ibadah lainnya yang biasa dilakukan orang selama bulan Ramadhan tidak menjadi perhatian utama. Pernik-pernik ibadah itu aku lakukan, tapi alakadarnya. Tadarus al-Qur’an pun kulakukan tanpa target untuk menamatkannya. Keinginanku yang obsesif untuk mengalami rasa takut dengan penuh kesadaran memenuhi benak dan perasaanku. Obsesi yang baru kusadari belakangan menjadi rasa takut tersendiri.

Bila membaca al-Qur’an aku sudah terbiasa mengawalinya dengan membaca surat al-fatihah. Lebih sebagai kebiasaan yang kubiasakan. Ada sesuatu yang menarik yang cukup lama kupikirkan. Terdapat dua kalimat yang biasa dibacakan atau diucapkan umat Islam yang mengawali ucapan, kalimat atau perbuatan lainnya. Dan kedua kalimat itu diucapkan ketika akan membaca al-Qur’an. Kalimat itu adalah ta’awudz dan basmalah. Derngan pikiran dan tulisanku ini, aku tidak bermaksud untuk menafsir kedua kalimat tersebut, karena aku memang bukan seorang mufasir. Dan, berdasarkan prasarat untuk menafsir dan menjadi mufasir, aku benar-benar jauh dari memenuhi syarat. Yang kulakukan hanya bertanya dan bertanya.

Kalimat pertama, ta’awudz, secara khusus, biasanya diucapkan ketika akan membaca al-qur’an. Sedangakn kalimat kedua diucapkan setiap mengawali aktivitas, termasuk membaca al-Qur’an. Kalimat ta’awudz, bila melihat arti dari kalimat itu, klaimat itu diucapkan sebagai permohonan perlindungan kepada Allah dari gangguan syaithan: ‘a’udzu bi Allahi min as-syaitathan al-razimi”. Dan kalimat basmalah, dengan struktur yang agak unik. Berdasarkan struktur bahasa Arab, kalimat basmalah dikategorikan sebagai kalimat yang tidak sempurna. Coba bandingkan kalimat ta’awudz, “a’udzu bi alllah…”, dengan kalimat basmallah, “…bi ismi allah…”. Pada kalimat basmallah tidak terdapat fi’il (kata kerja, verb) maupun fa’il (subjek pelaku), yang ada hanya maf’ul (objek) yaitu Allah dan keterangan objek. Para mufasirin mengatakan bahwa fa’il dari kalimat itu adalah orang yang mengucapkan kalimat itu dan fi’il-nya adalah apa yang akan dilakukan oleh orang yang mengucapkan kalimat basmalah tersebut. Kita harus ingat bahwa kalimat basmalah selalu diucapkan oleh umat Islam ketika ia akan melakukan sesuatu, yang baik. Persoalan pertama ini bukan merupakan persoalan baru. Telah lama, sejak jaman klasik Islam, hal ini telah menjadi wacana dikalangan ahli tafsir dan ahli bahasa. Dan aku pun tak lebih tak kurang menggunakan pemikiran mereka.

Selanjutnya, pertanyaan kedua. Dalam kalimat ta’awudz, setelah huruf bi (a’udzu bi) diikuti kalimat allah, dan seterusnya keterangan (sifat) atas Allah. Sedangkan dalam kalimat ta’awudz, setelah huruf bi (‘audzu bi) diikuti oleh kalimat “Allah” dan seterusnya, (min as-syaithan al-rajimi). Bandingkan dengan kalimat basmallah, yang setelah huruf bi diikuti dengan kalimat “(bi) ismi Allah..”, nama Allah.

Dalam pikiranku persoalan ini bukan sekedar persoalan struktur dan gaya bahasa, akan tetapi persoalan metafisik dan teologis yang sangat mendasar. Wallahu’alam.

Ramadhan 3: Antara Nama dan Sifat Nama

Hari ini, benakku masih dipenuhi persoalan metafisika. Persoalannya, bila menggunakan ungkapan yang lebih sederhana dan (mungkin) mudah dimengerti, bisa saya katakan demikian: Ketika kita akan melakukan sesuatu (di dunia ini), kita merelasikan diri kita dengan “nama Allah” (ismi Allah), yaitu sifat Rahman dan Rahim. Akan tetapi ketika kita hendak berlindung dari ganngguan syaithan kita merelasikan diri kita dengan merujuk “Allah”. Pertanyaannya adalah, apa dengan (bedanya) antara “ismi Allah” dengan “Allah”, nama Allah dengan Allah?

Akui jadi teringat wacana berdarah di dunia islam, seribu tahun yang lalu. Yaitu wacana pro-kontra tentang dzat dan sifatPara ahli kalam yang kemudian cenderung menghibdari pembicaraan tersebut. Allah. Sulit dipastikan mana yang benar, hanya Allah yang tahu. Dan sampai sekarang persoalan ini tidak pernah ditemukan jawabannya.

Aku tidak bermaksud mengungkit kembali drama berdarah itu, dan tidak pula bermaksud mempersoalakan masalah yang tidak pernah terjawab tersebut. Yang kutahu apa pun yang dipikirkan manusia tentang Allah, konsep dan gambaran apa pun yang manusia pikirkan tentang Allah itu bukan Allah. Dan, apa yang dipikirkan manusia tentang Allah tidak akan merubah Allah seperti apa yang manusia pikirkan. Wah, kok jadi misterius seolah-olah aku menyembunyikan sesuatu. Memang benar. Tapi lupakan saja itu, paling tidak untuk kali ini, karena kita bukan au bicara tentang masa lalu.

Dalam perspektif kehidupan manusia dan alam (makhluk Allah) secara keseluruhan, Allah mengejawantahkan diri-Nya dalam af’al-Nya. Dalam af’al-Nyalah manusia dapat mengenal sifat-sifat Allah.

(sifat aktif) yang bisa ditangkap sebagai sifat-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s