ISLAM PROSES: FITRAH KEMANUSIAAN SEBAGAI AKAR DAN BIOGRAFI KEBERAGAMAAN

            Potensi beragama merupakan harta karun yang secara umum melekat secara intrinsik dalam diri manusia. Potensi yang dalam ajaran Islam,  melalui penjelasan Hadits Nabi, disebut sebagai hal alamiah untuk cenderung pada kebaikan. Potensi yang sesuai dengan cetak biru penciptaan manusia, yaitu fitrah penciptaan manusia. Sedangkan aktualisasi potensi atau fitrah tersebut berlangsung dalam proses yang melibatkan berbagai unsur dalam kehidupan manusia. Unsur-unsur yang dalam Hadits Nabi disimbolkan dengan pemeranan orang tua dalam membentuk pimilihan manusia dalam beragama. “Islam”, dalam salah satu ayat dalam al-Qur’an, disebut sebagai agama yang oleh Allah sesuaikan dengan fitrah penciptaan manusia. Maka, bila aktualisasi fitrah manusia terjadi dalam proses yang melibatkan berbagai unsur dan peristiwa kehidupan manusia, maka aktualitasi dan pelaksanaan ajaran Islam pun terjadi dalam proses yang bertahap dan berkesinambungan.

Konsistensi Islam sebagai agama yang secara fitriah sesuai dengan fitrah kelahiran manusia, tampak dalam proses penuruan ajaran Islam yang juga bertahap. Paling tidak, tampak dalam pembabakan sejarah Nubuah Rasulullah Muhammad saw. dalam dua pase: Makiah dan Madaniah. Pembabakan yang menjadi argumen historis dalam memposisikan keimanan sebagai dasar prinsipil dalam beragama, Islam. Fase yang relatif lebih lama dibandingkan dengan Madaniah, fase pembentukan syrai’at.

Kini, pola dari proses pembentukan “tradisi keberagamaan” dalam masyarakat Islam dilakukan secara terbalik. Penerapan, internalisasi dan pembiasaan syari’at mendahului proses penyadaran keimanan. Pembelajaran shalat kepada anak-anak, sebagai contoh, mendahului kesadaran dan pengalaman keimanan. Apalagi bila mengingat penanaman pemahman keagamaan dilakukan dalam sistem pendidikan formal yang lebih menekankan pada dimensi kognitif, bukannya pada bagaimana mengalami iman. Dengan demikian, wajarlah bila model keberagamaan umat Islam kini lebih menitikberatkan pada aspek-aspek syari’at dan ekspresi keberagamaan yang  permukaan dan formal sifatnya dari pada aspek-aspek keimanan yang intrisik dan pribadi sifatnya. Dengan demikian, identitas keberagamaan lebih ditekankan pada ekspresi yang bersifat sosial bukan personal. Maka, agama menjadi persoalan yang bersifat sosial bukan personal. Demikian juga dengan identitas-identitas kesalehan, kesalehan yang ditandai oleh kategori-kategori sosial mendapatkan penekanan lebih. Hal tersebut tampak pada tipologi keberagamaan yang lebih menekankan pada ekspresi ibadah sosial dan menjadikannya sebagai ukuran bagi keimanan  seseorang.

Paradigma inilah yang mendorong orang untuk berlomba-lomba mendapatkan identitas keshalehan secara sosial, yang tentunya dengan mengedepankan simbol-simbol keshalehan berdasarkan kategori-kategori sosial pula. Orang berlomba untuk menunaikan ibadah haji, sebagai contoh,  sementara kemiskinan begitu subur di lingkungan masyarakatnya. Ibadah Haji yang pada dasarnya merupakan ritual yang lebih dimaksudkan untuk mengasah kesalehan individual beralih menjadi identitas kesalehan sosial. Hal yang sama terjadi pula dengan ibadah ritual lainnya, seperti: ibadah kurban, shaum, dan ekpresi ritual lainnya.

Keimanan menuntut wujud kongkrit dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya dalam wujud “aksi” sosial, bukan hal yang perlu diperdebatkan. Akan tetapi bila ekspresi “religius” dalam matra sosial tersebut tidak atau bukan berakar dari kesadaran yang terlahir dari peng-alam-an keimanan individual, maka ia beragama atau berprilaku agama sejauh berada dalam lingkup amatan masyarakat. Ketika ia merasa aman dari amatan sosial, akan akan leluasa melakukan “kejahatan”  atau dosa yang berimplikasi sosial. Fenomena keagamaan inilah yang tampaknya bisa diidentifikasi oleh teori keagamaan Durkheim, yaitu bahwa Tuhan tiada lain dari masyarakat itu sendiri.

Persoalannya adalah bahwa secara faktual, internalisasi agama dalam kehidupan manusia pada masa sekarang memang bergerak dari agama dalam kotegori sosial. Orang beragama sebagai kenyataan dan tuntutan sosial, bukan terlahir sebagai konsekwensi dari pencapaian pengalaman puncak bathininya. Sehingga, proses beragama pun dilalui dalam pase yang terbalik dari apa yang dialami dalam sejarah nubuwah, yaitu dengan diawli oleh pase Makiah, yaitu pase pembentukan kesadaran keimanan; baru kemudian pase Makiyah, pase pembentukan syari’at yang menekan aspek-aspek ibadah ritual dan sosial.

Pase keberagamaan dalam kategori syaria’at yang lebih dipijakkan dalam wujud ekspresi sosiologis, baru setelah mencapai kematangan secara sosial, orang berupaya untuk mencari dan menegaskan identitas dirinya sebagai orang beragama dengan melakukan perenungan-perenungan yang mengarah pada upaya intensifikasi kesadaran keagamaan. Dari karakterisitk keagamaa tersebut, lahirlah jargon “lengser keprabon, mandeg pandito”. Jargon yang apabila ditafsir secara sinis, bisa dimaknai bahwa tahap keberamaan secara lebih intens hanya dilakukan apabila fungsi peran sosial telah terlewati dan tidak mungkin lagi mencapai tarap yang tebih tinggi. Setelah itu, barulah ia merasa perlu untuk melirik dimensi keagamaanya secara lebih serius. Dengan kata lain, pencapaian tingkat keberagamaan yang sesungguhnya baru dicapai oleh “manula”. Orang yang secara substansial telah kehilangan energinya untuk mengaktualisasikan eksistensi dirinya secara penuh.

Lalu, bila dipertanyakan: benarkah cara beragama demikian? Jawabannya adalah “tidak salah”. Benar?, tidak juga! Persoalannya, beragama tidak dapat disesedernakan dalam kategori “benar atau salah”. Akan tetapi terletak pada bagaimana proses yang ia alami dan jalani dalam memaknai keberagamaannya, bersamaan dengan itu, bagaimana ia memaknai proses tersebut. Dengan cara demikian, tak ada lagi klaim kebenaran yang mutlak dan baku dalam beragama. Karena, setiap tahapan yang dilalui dan dialami dalam proses beragama memiliki makna dan kualifikasi kebenarannya sendiri, sejauh berada dalam proses peningkatan “penghayatan” dan pengalaman serta pengamalan dalam beragama. Dalam konteks agama sebagai “sesuatu” yang sebagun dengan fitrah penciptaan manusia, maka proses perjalanan pencapaian kesadaran dan pengalaman keagamaan tiada lain dari aktualisasi fitrah penciptaan manusia. Upaya yang dalam istilah filsafat dikenal sebagai upaya aktualisasi eksistensi manusia, suatu upaya untuk menjadikan diri sebagai manusia yang sesungguhnya, memanusiakan manusia.

Ketika beragama dipandang sebagai kenyataan dari proses memanusiakan manusia, maka pase apa pun yang dilewatinya dalam mencapai tahap kesadaran fitriah tersebut, akan dihargai secara positif tanpa klaim untuk melakukan penilaian yang memilah-bedakan tipologi keberagamaan. Tidak juga untuk menilai benar atau salah. Karena, kondisi, pemahaman dan ekspresi keberagamaan dalam bentuk bagaimana pun, dihargai sebagai cara yang positif dalam beragama, yang berada dalam pase perjalanan untuk mencapai tingkat keberagaman tertinggi.

Diceritakan, datang seorang penjahat kelas kakap menghadap Rasulullah untuk masuk Islam, akan tetapi ia tidak mau dan tidak siap untuk meninggalkan kebiasaan dan profesinya. Tak muncul prasangka negatif dari Rasulullah atas niat orang itu, ia meluluskan permintaan orang itu, dengan satu syarat. Hanya satu syarat, yaitu untuk berbicara jujur. Setalah meninggalkan Rasulullah, dan menjalani kehidupannya, diberitakan bahwa ia menemui kemantian karena suatu sebab. Ketika berita kematian itu sampai kepada Rasulullah, ia mengatakan bahwa orang itu mendapat ampunan dari Allah dan masuk surga.

Cerita yang lain, yang diriwiyatkan melalui Hadfits Nabi. Seorang perempuan di jaman Nabi Musa. Perempuan yang profesinya sebagai pramu nikmat. Suatu hari ia melakukan perjalanan di padang pasir yang sangat kering, ia kehausan. Ketika ia mau meminum sisa air yang dibawanya, ia melihat seekor anak anjing yang hampir mati kehausan. Perempuan itu tidak jadi minum sisa air terakhir yang dibawanya, melainkan minumkannya ke anjing yang kehausan itu. Dan, ia pun menemui ajalnya, karena kehausan. Diceritakan, bahwa perempuan itu pun masuk surga Allah.

Tidak ada cerita tentang keshalehan yang luar biasa dari kedua tokoh serita tersebut, kecuali bahwa keduanya berpegang teguh pada suara hatinya yang paling dalam. Yang pertama suara hati untuk berpegang teguh pada apa yang dikatakan Rasulullah. Dan, orang yang kedua berpegang teguh pada kehalusan nurani kemanusiaanya. Ketika orang-orang berprasangka bahwa orang-orang itu mati dalam dosa, Rasulullah menyataklan bahwa mereka mati dalam ampunan dan ridla Allah. Mereka masuk surga. Cerita masuk surganya penjahat kelas kakap itu mungkin masih bisa dianggap wajar, karena ia telah secara terbuka dan langsung menyatakan keimanannya di hadapan Rasulullah. Akan tetapi bagaimana dengan perempuan pramu nikmat tersebut?

Demikian mudahkan orang mendapat ampunan, ridla Allah dan masuk surga-Nya? Tentu tidak! Bagi seseorang yang telah terbiasa berpikiran “curang” seperti yang biasa dilakukan oleh penjahat kelas kakap pada umumnya, adalah terlalu mewah bagi dirinya untuk berkata jujur. Demikian juga dengan perempuan pramu nikmat. Orang yang untuk mempertahankan hidupnya harus “menjual” dirinya kepada laki-laki hidung belang yang tidak ia kenal. Ia dengan rela memberikan sisa air yang dimilikinya kepada seekor anjing. Air yang akan menyelamatkan hidupnya dari kematian yang disebabkan oleh derita kehausan yang dialaminya. Perempuan itu mati tanpa disaksikan siapa pun, kecuali anjing itu.

Bila menggunakan periodisasi Makah-Madinah, pada pase yang manakah tingkat kesadaran yang dimiliki kedua orang itu? Wallahu’alam!

Dalam tradisi ketasawufan, khususnya dalam tradisi tariqat, perjalanan keagamaan dalam menuju Tuhan dipahami dan dirumuskan sebagai perjalanan yang melewati beberapa pase atau tingkatan. Perjalanan  yang dikenal dengan tariqat melalui pase-pase yang dikenal dengan maqomat. Terdapat berbagai rumusan tariqat dan maqomat yang sangat beragam. Akan tetapi di dunia ketasawufan tidak penah ada cerita tentang konflik yang disebabkan oleh perbedaan rumusan tariqat dan maqomat tersebut. Karena mereka menyadari dan berprinsip bahwa itu semua hanyalah cara atau jalan. Sementara semua bertujuan ke arah yang sama, Allah. Mereka berprinsif, sepoerti apa yang diungkapkan oleh salah satu Hadits Qudsi yang menyatakan, bahwa pintu menuju Tuhan sebanyak nafas kaum Adam.

Di dunia Islam yang lain, kini orang bertarung, dengan klaim bahwa hanya cara dan pase keberagamaanya yang benar, sementara yang lain tidak! Klaim yang jangan-jangan, jangankan untuk menyelamatkan dirinya dan sesama manusia, bahkan untuk menyelematkan seekor anjing pun tak akan pernah bisa dilakukan. Klaim yang jangankan untuk menghargai kejujuran seorang penjahat kelas kakap dan menghargai keikhlasan seorang pramu nikmat, bahkan sepertinya tak ada kesadaran dalam diri kita untuk menghargai keikhlasan dan kejujuran orang lain dalam beragama. Bila Tuhan dan nabi-Nya berprasangka baik kepada dua orang tersebut, kenapa kita tidak pula bisa berprasangka baik terhadap cara orang lain dalam beragama.

Begitu sulitkah untuk memahami dan memaklumi, bahwa cara dan tipologi orang dalam beragama, tiada lain sebagai bagian dari proses panjang. Proses yang berkelanjutan tanpa akhir, dan baru berakhir ketika ajal menjemput. Ketika itulah, penghayatan tertinggi terhadap nilai-nilai illahi dalam kehidupannya dicapai. Hingga, dengan seluruh keikhlasan dan kejujurannya, ia ucapkan “la ilaha ilallah” dengan segenap hati dan kesadarannya. Ia masuk ke dalam surga Allah.

Bukankah, kalau pun sepanjang hayatnya ia senantiasa beribadah kepada Allah, berbuat baik kepada sesama, namun bila semuanya itu tidak menghantarkannya pada kesadaran puncak di akhir hayatnya, sia-sialah semuanya. Titik puncak kesadaran yang dicapai dari kehidupan yang dijalani oleh pramu nikmat dalam cerita di atas, yang mengantarkannya pada ampunan dan ridla Allah, adalah keikhlasannya untuk memberi kesempatan makhluk lain untuk melanjutkan kehidupannya. Dan, penjahat kelas kakap, dengan bersikap dan berkata jujur.

Lalu, tingkat kesadaran bagaimana yang akan kita capai dalam mengakhiri kehidupan kita, bila masih ada prasangka yang merendahkan orang lain dalam beragama?
________
Ahmad Gibson AB

Penulis : Dosen Filsafat dan Teologi di Jurusan Aqidah Filsafat Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Gunung Djati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s