Membuka dan Membangun Visi; Mengetuk Pintu Gerbang Filsafat

Pada Awalnya…?

Asal, arche. Seorang individu manusia hadir dan menginjakkan kakinya ke dunia tidak dari titik awal ruang-waktu. Ia memijakkan kakinya di atas hamparan ruang-waktu yang sedang dan telah lama berjalan, berputar. Bahkan, kehadirannya merupakan “konsekwensi” dan keberlanjutan dari langkah-langkah manusia sebelumnya (?). Entah kapan dan petak-petak mana yang menjadi awal? Oleh karena itu ia sering bertanya pada pembuat langkah dari generasi sebelumnya. Dan kemudian dengan “terpaksa” ia harus tunduk pada pengarahan (direction), pengajaran  dan orientasi orang tua dan generasi tua mereka. Mengerti atau pun tidak. Membantah akan dianggap membikin payung di saat hujan sedang berlangsung, kehujanan.

Ilustrasi tersebut mengisyaratkan dua hal (sebagai awal) pada kita, yaitu: pertama tentang awal, atau asal; dan kedua tentang “menjalani” kehidupan sebagai “manusia”. (bagaimana mana manusia harus mengawali langkahnya, bukan sekedar melanjutkan langkah-langkah pendahulunya?)

Manusia senantiasa melihat dirinya kemudian melihat alam sekitarnya. Sebuah cara membanding-bandingkan. Kemudian kembali melihat dirinya sendiri, dan kemudian kembali melihat sekitarnya. Hal ini berlangsung terus menerus. Proses ini kadang terhenti, ketika manusia merasa telah menemukan “jawaban” atau pola perbandingan yang ia anggap memuaskan, dan “terbukti” “kebenarannya”. “Temuannya” itu disampaikan, diwariskan dan diajarkan kepada penerusnya. Maka, jadilah tradisi, mitos, legenda, ajaran moral, keyakinan, bahkan sains dan mungkin pula agama. Dalam perspektif, realitas merupakan matriks dari sejumlah titik yang “tak terhingga”, setiap orang memetakan dan menyambungkan titik-titik itu, dan membentuk suatu “visi”, makna: kemengertian dan suatu “experience”.

Secara garis besar, terdapat tiga instrumen penginderaan yang dimiliki manusia. Masing-masing instrumen memiliki karakteristik dan cara kerjanya sendiri. Dan, masing-masing instrumen memiliki wilayah realitasnya sendiri-sendiri. Oleh karena itu persepsi manusia secara potensial berdimensi tiga: empirik, rasional dan instuitif. Dalam kepentingan atau keadaan tertentu, secara radikal manusia mengedepankan atau mengeliminir salah satunya atau yang lainnya.

Sebagi ilustrasi sederhana, apabila panca indera diposisikan sebagai salah satu perwakilan dari ketiga besaran penginderaan tersebut. Apa yang disebut manis oleh lidah tentunya akan dikatakan lain oleh mata, penglihatan. Atau bahkan mata menolak keberadaan apa yang disebut manis oleh lidah. Atau, sebaliknya. Apa yang disebut merah akan dinapikan oleh lidah. Bila kedua penginderaan ini potensinya disinergikan akan melahirkan landskap yang lebih luas. Contohnya, bentuk cabai dengan warna merah, dan yang terasa pedas oleh lidah akan menghasilkan suatu visi yang unik: cabai dengan merah memiliki rasa pedas yang berbeda cabai yang berwarna hijau. Bayangkan bila panca indera lainnya pun dilibatkan dalam mengidentifikasi sang cabai!

Demikian pula dengan ketiga besaran penginderaan. Penginderaan yang melibatkan baik indera fisik, rasio maupun intuisi. Visi apa yang akan mampu manusia lihat, jumpai? Pertanyaan dan jawaban model apa yang dapat manusia buat?

Sebuah Kemungkinan….!

Sebuah visi. Seorang manusia pada awalnya adalah jabang bayi yang dilahirkan manusia lain. Tidak pernah ditemukan di dunia ini manusia yang hadir begitu saja (tidak ada manusia yang keluar dari belahan batu). Demikian juga dengan binatang, dan tumbuhan. Lalu, bagai mana dengan dunia ini: gunung, lautan, api dan lain sebabagianya? Bagaimana semua itu ada, hadir? Apakah mereka memiliki seorang ibu yang melahirkannya, dan juga seorang ayah tentunya?— kenapa tidak, tapi siapa atau apa?—itulah kausalitas, “akibat senantiasa mengikuti sebab”.

Namun, apakah alam semesta ini akibat atau sebab itu sendiri? Kini anda boleh tertawa sepuas-puasnya. Itu pun bila anda merasa lucu! Atau anda anggap pertanyaan itu terlalu mengada-ada dan tampak bodoh!

Kausalitas, adalah salah satu “teorema” atau konsep (yang kemudian dianggap sebagai “hukum”) tertua yang dikenal manusia.

Yang manusia tahu, apa pun hadir karena dilahirkan—ingat manusia senantiasa melihat dalam perspektifnya. Perspektif yang dimulai dengan melihat apa yang terjadi dengan dirinya sendiri! Bila manuisa “dilahirkan” maksudnya ia terlahir karena sebab orang tua, bukan mustahil (dalam cara pandang demikian) alam pun memiliki seorang ibu, yang melahirkannya (sebab awal). Itulah cara berpikir mitotologi. Cara berpikir yang sering kita lecehkan. Yang harus kita perhatikan tentunya bukanlah jawaban, karena toch tidak pernah ada jawaban tuntas untuk masalah apa pun. Jawaban kadang hanyalah sebuah pilihan daris ejumlah kemungkinan. Yang harus kita cermati adalah, bahwa mereka berusahan memberikan jawaban atas sebuah pertanyaan. Pertanyaan, itu yang penting. Pertanyaan adalah sebuah keniscayaan!!! Karena “pertanyaan adalah sebuah awal”. Bertanya, menemukan menjawab, dipertanyakan lagi, dicari lagi jawaban dan kemudian dipertanyakan lagi. Begitu seterusnya. Pertanyaan adalah awal dan sekaligus akhir. Bukanlah jawaban yang berharga bila tidak dipertanyakan ulang. Jawaban dengan tanpa pertanyaan ulang, adalah kematian: pembusukan.

 

Tak ada apa-apa

Rutinitas, perasaan keakraban sering membuat kita tidak peduli dengan apa pun yang hadir di sekitar kita. Lihatlah matahari!? Ia telah sekian lama menyertai kita, semenjak kehadiran kita di bumi ini. Kesetian matahari telah menutup hati dan pikiran kita untuk meragukannya. Ragu terhadap kesetiaan matahari, jangan-jangan esok hari ia tidak lagi akan menyertai kita. Padahal kita lebih sering lupanya dari pada ingatnya akan keberadaan matahari. Apa pun sebabnya. Kita telah terlalu merasa tahu apa pun yang ada di sekitar kita.

Ikan tidak pernah melihat air, seperti halnya mata kita tidak pernah melihat mata sendiri. Terlalu dekat, terlalu akrab. Bila ikan tak berusaha untuk mengenal air, suatu saat ia akan terjebak di daratan. Mati. Bila mata tak berusaha mengenal dirinya sendiri, perlu luka atau kebutaan untuk membedakannya, mengingatnya.

Atau. Adanya perasaan keberjarakan antara diri kita dengan lingkungan kita, bahkan antara kita dengan diri kita sendiri. Ada perasaan dan pikiran yang hidup dan berkarat dalam benak kita bahwa misteri yang maha dahsyat bukanlah sesuatu yang layak manusia singkap dan pertanyakan. Misteri adalah yang lain, dunia lain, kalau pun itu ada dalam diri kita sendiri. Kita cenderung menutup mata dan menundukkan pandangn kita untuk tidak pernah mengungkap dan beranggapan bahwa mempertanyakan itu justru akan membuat kita mengalami kesulitan karena ulah sendiri. Kalaupun ada terbersit dalam benak dan hati kita tentang sesuatu. Sebuah pertanyaan dan ketidakmengertian. Cukuplah kita merujuk pada apa yang orang pintar katakan. Bahu tidak pernah melampaui kepala, jangan-jangan malah kewalat, pamali.

Orang pintar itu memang kita perlukan sebagai pantai tempat gelombang menepi, tempat kapal berlabuh. Namun, tak ada gelombang dan tak pula kapal yang tertambat dipantai melebihi separuh tarikan napas. Separuh darai napas harus kita sisakan sebagai kekuatan untuk kembali merangkul lautan. Nakhoda memang kadang merindukan daratan, tapi detak jantungnya adalah lautan. Ia tidak pernah bisa lama berada di daratan, atau kematian akan segera menaunginya.

Lautan bukanlah nakhoda, demikian pula sebaliknya. Tapi adakah nakhoda tanpa lautan? Demikian juga dengan daratan. Kenapa ia disebut daratan bila tidak ada lautan, demikian juga sebaliknya. Sesutau yang berbeda dan terpisah ternyata adalah relasi diantara keduanya.

Yang Lainnya. Sejak aku hadir di bumi ini jantungku berdetak, bernafas, mataku bersinar dan memandang apa pun yang aku inginkan. Dan, untuk itu semua aku tidak penah perlu untuk berpikir dan memikirkannya. Memikirkannya? Aku mati bukan karena tidak memikirkan semua itu, tapi aku bisa mati bila tidak memikirkan bagaimana aku mendapatkan uang!

 

Pada akhirnya

Tapi, itu semua bukanlah akhir, bukan satu-satunya kemungkinan jawaban. Semakin banyak jawaban yang kita dapatkan, semakin banyak pertanyaan yang perlu kita kemukakan. Dan, misteri pun semakin terbuka lebar. Satu misteri terungkap dan terjawab, seribu pertanyaan muncul ke permukaan. Jawaban itu, kemengertian itu ternyata tak lain dan tak bukan adalah pintu gerbang yang mengantarkan kita pada misteri dan ketidakmengertian lainnya. Hidup ini memang aneh. Semakin dimengerti semakin banyak pula misteri yang menanti untuk disingkap. Seperti halnya sebuah jawaban yang beranak pertanyaan dengan jumlah yang lebih banyak.

Mungkin kita ingat kata-kata bijak, kehidupan ini merupakan misteri dari masa tunggu kematian yang akan menyingkapnya, dan kematian itu pun misteri dari masa tunggu menuju kehidupan lainnya. Dan begitu selanjutnya. Kehidupan tidak berada dalam salah satu pasenya akan tetapi dalam menjalani keseluruhannya, secara sadar dan penuh tanggung jawab.

Bila misteri dan ketidakmengertian yang semakin menumpuk yang kita dapatkan setelah sekian banyak jawaban yang kita temukan, mestikah kita lanjutkan pengembaraan ini? Seperti minum yang menjawab rasa haus, yang untuk kemudian haus kembali. Kantuk yang dibelai nyenyaknya tidur, bangun dan ngantuk kembali. Menemukan jawaban dari pertanyaan untuk mendapatkan pertanyaan yang lebih banyak dan lebih rumit. Dan begitu seterusnya. Bila demikian, untuk apa kita jalani semuanya ini, bila kita hanya akan kembali dan kembali ke keadaan semula?

Kembali ke keadaan semula. Itulah persoalannya. Betulkan kita terus-menerus kembali ke keadaan semula? Bila kita menyimak teorema Heraklitos, bahwa kita tidak pernah menginjak air sungai yang sama walau pun kita tetap menginjakkan kaki kita pada aliran sungai yang sama. Maka, tidak ada yang disebut kembali ke keadaan yang sama. Pertanyaan-pertanyaan sebelumnya tidaklah sama dengan pertanyaan kemudian setelah mendapatkan jawabannya. Dan jawaban sebelumnya tidaklah sama dengan jawaban kemudian setelah menemukan pertanyaannya yang baru. Yang baru tidaklah sama dengan yang lama, dan tidak pula sama kebalikannya.

Bila demikian masalahnya, kita tidak akan pernah bisa berhenti. Karena toh, mencari dan menemukan senantiasa dilakukan pada aliran sungai yang sama, walaupun apa yang kita dapat terus-menerus berbeda. Bukankah keberbedaan yang membuat hidup ini menarik. Keberbedaan itu pula yang membuat kita mampu memlihara hasrat, dan keberbedaan itu pula yang membuat kita bisa bertahan dan mempertahankan serta melangkungkan kehidupan ini. Tak pernah merasa bosan.

Sejumlah kemungkinan jawaban dari pertanyaan yang terlontar akan selalu menyerbu, menggedor relung-relung dan lubang urat sarap kita. Seperti gelombang air laut yang pecah, berusaha menjangkau garis pantai terjauh.

Aku tak tahu: jawaban skeptik. Yang paling penting adalah teruslah bertanya dan mencari jawaban.

Selanjutnya….?

Filsafat Timur tetap mempertahan relasi causal dan relasi efistemologis antara “keberadaan” manusia dengan alam. Dan, Barat mulai membedah dan memisahkannya. Oleh karena itu, filsafat (sistem pengetahuan filosofi Timur) berawal dari berujung pada “etika”, harmoni; sedangkan Barat berkubang di wilayah “ontologi”, wacana tentang “ada”, kontradiksi.

Kata “ada” (ontos) adalah kata yang sangat rumit, sangat abstrak. Karena kita, manusia, berada dalam kumbangan “ada”. Seperti ikan yang sulit, tidak pernah, melihat air, demikian juga manusia demikian sulit untuk melihat ada. Manusia mengenal konsep ada dari perubahan. “Ada” dikenal (ada) karena berubah, mengalir. Mengalir makanya ada kehidupan; ada kehidupan makanya mengalir. Mengalir adalah perwujudan dari pertantangan (dialektika) antara ada dan tiada– yang lainnya mengatakan bahwa perubahan tiada lain dari kumpulan diam. Atau, mengalir adalah “harmoni” antara ada dan tiada (Im-Yang)….?

Dialektika serta harmoni pada akhirnya menjadi sebuah efistem bukan sekedar sebuah wacana ontologi dan atau metafisika. Dialektika dan harmoni pada ahirnya “hanyalah” sebuah cara pandang terhadap “realitas” yang sama. Kehadiran yang dipandang sebagai kebertentangan (kontradisksi) atau sebagai kebersamaan (harmoni, unity).

Itulah pada awalnya. Awal yang membedakan karakteristik filsafat Barat dengan Filsafat Timur. Awal yang membedakan cara pandang manusia dan cara manusia menyikapi dirinya dan alamnya. (Ahmad Gibson al-Bustomi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s