MENUNGGU: UPAYA MEMAKNAI JEDA

MEMAKNAI, MENJALANI, MENIKMATI

1. HIDUP ADALAH BATANG BAMBU

Siapa yang tidak mengenal batang bambu? Tumbuhan berdaun runcing, dengan batang yang di dalamnya kosong berlubang (rusa) dan berbuku-buku. Apa yang membuat pohon bambu itu kuat berdiri tegak? Padahal di dalamnya hanyalah terdiri dari ruasa-ruas dari ruang kosong tak memiliki kekuatan? Tidak jarang batang bambu itu dijadikan tiang, atau bahkan jembatan. Bila ia tidak kuat, mana mungkin dijadikan pokok tiang atau jembatan?

Sangat sederhana, buku-buku yang ada diantara ruang-ruang kosong itulah yang membuat batang bambu itu mampu berdiri tegak. Keistimewaan pohon dan batang bambu diantara pohon dan batang yang lainnya adalah karena adanya ruang kosong. Ruang yang membuat batang itu lebih ringan, dan bisa digunakan untuk berbagai keperluan kehidupan manusia. Tapi, ruang kosong itu pula yang menjadi masalah, karena bagian itu pula lah yang membuatnya menjadi rapuh tak memiliki kekuatan. Dan, buku-buku yang tidak seberapa panjang yang berada diantara tempat kosong itulah yang menjadikan batang bambu lebih kuat.

Bila kita mengamati dan merenungkan kehidupan manusia, akan kita menemukan kemiripannya dengan batang bambu ini. Seelururuh kehidupannya merupakan ruang kosong yang bisa kita ini dan gunakan, sehingga kehidupan menjadi lebih bermakna. Dan dalam setiap bagian kosong itu kita melakukan berbagai aktivitas yang berbeda-beda, dan setiap aktivitas diantarai oleh sejumlah jeda yang memsahkan antara satu aktivitas dengan aktivitas lainnya. Seperti sebatang bambu yang antara satu bagian dengan bagian lainnya dibatasi oleh buku-buku. Jarang orang yang peduli dengan buku-buku pada batang bambu itu, tanpa disadari betapa sangat bergunanya buku-buku babu itu bagi sebatang bambu itu sendiri. Seperti dalam kehidupan manusia, tak jarang manusia menganggap sepele terhadap masa-masa jeda yang mengantarai setiap bagian aktivitas kehidupannya.

Seperti jeda hari, antara siang dan malam, terdapat jeda pendek yang mengantarainya. Seperti jeda antara satu nafas dengan yang lainnya, antara tarikan nafas dan saat menghembuskannya. Antara satu denyutan jantung dengan denyutan yang lainnya. Itulah jeda, itulah bukubuku dalam kehidupan manusia.

2. BELAJAR HIDUP DARI SEBATANG BAMBU

Lalu, apa yang bisa kita pelajari dari sebatang bambu?

Batang bambu dan kehidupan manusia, seperti alunan musik: suara diantara kesenyapan sesa’at. Tak ada alunan suara musik tanpa sekenyapan, walau hanya sesa’at.

Seudah terlalu banyak orang bicara dan menulis tentang suara, tentang aktivitas mengisi ruang kosong batang bambu kehidupan, tapi masih jarang orang yang berbicara tentang buku-buku bambu, tentang kesenyapan, tentang sa’at menunggu. Padahal, hidup ini diawali oleh sa’at diantara dua buku, kehidupan diatara dua jeda kematian. Dan diantara kedua jeda itu terdapat ruas-ruas kehidupan dan jeda-jeda lainnya. Seperti batang bambu yang terdiri dari ruas-ruas dan buku-buku.

Bila kita bertanya, bagian mana yang paling penting diantara ruas dan buku pada sebatang bambu. Sulit untuk kita pastikan, hal itu sangat tergantung untuk keguanaan apa bambu itu, demikian juga dengan kehidupan. Kita lebih sering beranggapan bahwa aktivitas kreatif dalam ruas-ruang kehudpan itulah yang menentukan kualitas kehidupan seseorang, akan tetapi tidak jarang kita menemukan bahwa, dalam buku-buku kehiudupan itulah kita menemukan makna dari keseluruhan aktivitas yang dilakukannya. Seperti ketika mendengarkan alunan musik, suaralah yang terasa indah dan mengetuk-ngetuk lorong rasa dalam dadanya. Akan tetapi tak jarang kita menyadari, bahwa jeda diantara suara itulah yang membuat suara itu menjadi alunan.

3. MENUNGGU

Tersikasa, itu yang dirasakan orang bila harus menunggu. Sebuah aktivitas semu, antara berbuat dan terdiam. Dalam menunggu, orang berada dalam himpitan yang menyesakkan antara harapan dan ketakberdayaan. Kehidupannya, seolah-olah, sedang ditentukan. Oleh yang lain.

Bila direnungkan secara seksama, keadaan menunggu bukanlah sekedar aktivitas semu, karena dalam menunggu, seseorang sedang berada dalam kondisi liminal dari suatu kondisi atau aktivitas untuk masuk dalam kondisi atau aktivitas lainnya. Aktivitas menunggu bukanlah “penyerahan” takdir diri terhadap yang lain, melainkan suatu proses pemampatan aktivitas sebelumnya dalam satu titik yang melahirkan kemungkinan bagi aktivitas dan kondisi selanjutnya. Menunggu adalah jeda, sebuah batas yang menghubungkan dua pase: menaik, atau menurun. Kepastian yang tidak hanya ditentukan oleh kualitas kerja pada pase sebelumnya, akan tetapi ditentukan oleh kualitas dalam menjalani aktivitas menunggu itu sendiri. Dalam kondisi demikian, menunggu menyatakan dirinya sebagai satuan entitis dari ruang, waktu dan peristiwa yang sedang berada pada pase satisfaction (kepenuhan) yang telah siap untuk melahirkan entitas-entitas lainnya. Kesabaran orang dalam menunggu, menjadi salah satu penentu terpenting. Oleh karena itulah, menunggu merupakan “saat”. Saat putusan. Tanpa moment menunggu, tidak ada kata perubahan dan tak akan ada pula pilihan.

Keadaan menunggu memang selalu dialami debagai kondisi dimana seseorang berada dalam himpitan. Itu terjadi dari moment-moment (ruang-waktu-peristiwa) masa lalu yang menyatu dalam kesesaatan. Kesesaatan yang merangkum waktu-waktu panjang yang telah dilewati, oleh karena itu sering juga disebut killing time, membunuh waktu. Oleh karena itu, secepat apa pun masa menunggu, akan terasa begitu lama. Sangat menyiksa, karena rangkaian masa lalu hadir sedemikian lengkap dalam lipatan waktu yang pendek. Dalam masa menunggu harapan yang dirajut sedemikian lama bersatu dengan ketakutan dan kekhawatiran yang disebabkan oleh ingatan akan “penghianatan” kita terhadap proses yang dilalui. Sehingga, muncul kekhawatiran akan gagalnya upaya yang telah dilakukan.

Kekhawatiran yang muncul disaat menunggu, bila dihadapi secara arif, secara eksistensial bisa menjadi moment untuk melakukan evaluasi terhadap semua tindakan yang telah dilakukan di masa lalu. Dalam evaluasi, upaya yang benar serta penghianatan-penghiantan terhadap rencana yang telah dibuat di masa lalu dapat dipetakan secara lebih tepat. Karena, unsur-unsur yang terlibat dalam (mendukung) proses penghianatan dan kesetiaan terhadap rencana tersebut dapat secara rinci dimunculkan dalam ingatan yang sebelumnya terlupakan atau dilupakan.

Kebencian atau keengganan orang untuk menunggu sering menjadi penyebab gagalnya suatu usaha besar. Dan bila kegagalan menjemput, maka kodok pula yang dipersalahkan. Ketika kesuksesan pergi berlalu, kambing pula yang dipermalukan. Menunggu memang persoalan sepele, tapi tidak banyak orang yang mampu melakukannya. Hanya karena tidak sabar menunggu, orang sering memaksa hari esok hadir di hari ini. Padahal siapa bisa menghitung “dua” bila “satu” tak terucap, dan bagaimana mengucap “satu”, bila nafas tak dihembuskan. Siapa pun bisa melakukan perbuatan besar, tapi untuk menunggu orang hanya orang bijak yang bisa melakukannya.

**

“Menunggu godot”, sebutan bagi orang yang pekerjaannya hanya menunggu, tanpa berbuat. Padahal, kata menunggu tak berarti apa pun bila tanpa diawali oleh suatu aktivitas atau usaha yang mendahuluinya. Bila tanpa aktivitas dan usaha, tak ada kata mengunggu, karena bukankah tak ada yang ia tunggu, hanya godot yang mungkin mendatanginya.

Godot merupakan simbol dari “dewa penyelamat” yang akan memberikan apa pun yang kita inginkan kalaupun kita tidak pernah berusahana untuk mendapatkannya. Godot adalah wujud yang ditunggu oleh orang yang tidak pernah melakukan upaya untuk merealisasikan apa yang dicita-citakannya. Godot adalah asap tanpa api. Bagi para penunggu Godot, masa menunggu memang lebih mengasikan, karena tidak ada ketegangan dialektis.

Dalam psikoanalisa Preudian, ketegangan dialektis tersebut secara psikologis merupakan bahan bakar bagi kreatifitas. Semakin kompleks ketegangan dialektis yang dialami, semakin besar kemungkinan bagi lahirnya kreatifitas, dan sebaliknya hilangnya ketegangan dialektis hilang pula kemungkinan bagi lahirnya kreatifitas. Namun demikian, itu pun sangat tergantung pada kemampuan orang untuk mampu bertahan (bersabar) dalam mengalami masa-masa menunggu.

***

Sartre berpendapat bahwa kehidupan tiada lain dari menunggu kematian, maka kehidupan pun menjadi absurd. Seperti Sisipus yang menunggu berakhirnya hukuman dari Sang Dewa. Betapa menderitanya kehidupan yang dihayati hanya sekedar sebuah hukuman. Seperti itu pula menderintanya orang yang berada dalam keadaan menunggu. Menunggu kematian. Bila kehidupan adalah hukuman, dan kematian adalah apa yang ditunggunya, maka kebebasan kematian adalah terbebas dari hukuman. Tidak salah bila orang kemudian berlomba untuk mempercepat masa menunggu: mempercepat datangnya kematian.

***

 Lain halya dengan kaum sufi, masa menunggu yang sesungguhnya adalah “barzakh”. Bukan hanya saat dikumpulkannya seluruh manusia yang pernah hidup di alam dunia, akan tetapi dikumpulkannya seluruh memori dari perjalanan kehidupannya selama ia di dunia. Barzakh, sebagai masa menunggu, mengantarai kehidupan dunia sebagai medan perjuangan dan daya upaya dengan akhirat, untuk mendapatkan konsekwensi atas apa yang dilakukannya selama di dunia.

Barzakh merupakan masa menunggu kedua. Masa menunggu pertama dialami selama kurang lebih sembilan bulan di alam kandungan. Dalam masa menunggu tersebut manusia mendapatkan catatan takdirnya dalam emnjalani kehidupannya di muka bumi. Dan, kemudian, setelah lahir kedunia ia menuliskan sendiri catatan bagi masa depan kehidupannya di akhirat, kelak.

***

 Dalam logika kapitalis, masa menunggu adalah kesempatan terbaik untuk memasarkan produk dagangnya. Masa menunggu dalam perspektif kapitalis, adalah saat ketika orang berada dalam kondisi terbaik untuk digiring dengan bujukan kemudahan dan kenikmatan hidup. Ketegangan orang dalam masa menunggu menjadikannya tidak pernah merasa sayang untuk mengeluarkan dana demi seteguk kenikmatan dan janji-janji kemudahan.

Oleh karena itu, bagi ideologi sosialis. Masa menunggu adalah candu. Masa menunggu tidak bisa dihadapi dengan kata “sabar”, melainkan dengan “perlawanan”. Masa lalu bukan untuk direnungkan, melaikankan untuk dilawan supaya tidak lagi pernah hadir esok hari. Semantara dalam tata pikir lain, menunggu adalah sebuah perlawan tanpa kekerasan.

4. GAGAL DALAM MENUNGGU

5. MENUNGGU YANG MENENTUKAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s