Empire Game; Pendidikan Militerisme dalam Imajinasi Masarakat Sipil

Manusia dengan imajinasinya menjadikan sesuatu yang hayali menjadi nyata atau tampak nyata, dan yang nyata menjadi tampak hayali dan sulit untuk dipercaya. Keberadaan imajinasi telah memposisikan manusia secara tegas sebagai homo ludens, makhluk yang suka bermain. Yang akhirnya, tak ada yang nyata di hadapan dan dalam pengalaman kehidupan manusia selain imajinasinya. Teori komunikasi mengatakan bahwa manusia tidak pernah berinteraksi dengan objek-objek secara langsung, melainkan dengan persepsi yang melahirkan dan terlahir dari imajinasi manusia tentang objek tersebut. Dengan kata lain, manusia cukup mengimajinasikan dan “mempersepsi” tentang suatu objek (hal) dan dunianya, manusia bisa hidup dalam dunia imajinasinya sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh real.

Dalam sejarah kebudayaan manusia, seni sebagai aspek budaya yang mengeksplorasi dimensi imajinatif manusia, menjadi bagian integral dari kehidupan manusia. Dan pada akhirnya, hampir segala hal dalam kehidupan manusia tidak terlepas dari dimensi seni. Tidak ada aspek kehidupan manusia yang terlepas dari aspek-aspek estetik ini. Sesuatu yang real, pada akhirnya ditransformasikan menjadi sesuatu yang imajinatif, dan bernuansa estetik. Permainan (game) pada awalnya merupakan model dari kehidupan manusia yang bersifat hayali, akan tetapi kini ia bukan lagi sekedar sebuah model melainkan kehidupan itu sendiri.

Permainan sebagai kerja khayali, imajinatif, merupakan kebiasaan dan aktivitas manusia semenjak kecil. “Anyang-anyangan”, permainan yang dilakukan anak kecil yang menggambarkan kehidupan dewasa dalam imajinasi anak-anak, tidak lagi bisa dipahami sebagai sekedar main-main. Anak-anak menghayati apa yang dianggap orang dewasa sebagai main-main itu secara serius dan sungguh-sungguh, sebagai kehidupan yang nyata. Sama seriusnya seperti ketika orang dewasa menghayati permainan sepak bola dunia.

Permainan menjadi bagian dari kehidupan manusia semenjak masa-masa awal sejarah kehidupan manusia. Ritual dalam kehidupan keagamaan paling primitif hingga agama modern, merupakan prilaku “imajinatif”, representasi imajinatif dari prilaku para “dewa” ketika menciptakan alam semesta dan manusia di masa primordial. Dan itu dihayati sebagai pengulangan peristiwa tersebut secara sungguh-sungguh sebagai upaya untuk mempertahankan kelangsungan siklus semesta.

Kelahiran sastra, seni pentas, teater, seni lukis, seni musik, tari dan lain sebagainya merupakan perwujudan dari kehidupan imajinatif manusia. Bahkan peperangan, negara, kerajaan, rakyat dan sebagainya adalah term-term yang dikenal dalam seni kekuasaan. Dengan term itu, dalam imajinasi manusia, ia menjelma menjadi subjek penguasa dunia. Bagi mereka dunia merupakan kanpas tempat menggoreskan kuas dengan warna yang beragam. Warna tangisan, penderitaan, kekecewaan, kegembiraan, kemenangan, kekalahan semuanya adalah warna-warna yang memperkaya lukisan mereka. Mereka pun perlu musuh untuk memperkaya lukisannya, kalau perlu musuh-musuh itu mereka ciptakan. Apa yang mereka lakukan sama halnya dengan apa yang dipentaskan di atas panggung oleh seniman panggung.

Bila menggunakan frame dialektika, adakah karya seni tanpa unsur-unsur konflik di dalamnya? Tentu tidak. Karena, harmoni tak lebih dari kemampuan orang dalam mengatur konflik.

Teknologi komputer telah menyempurnakan media permainan, kini tak ada lagi permainan yang menjadi sekedar permainan belaka, ia menjadi sesuatu yang demikian real. Kehidupan manusia ditampilkan secara detil dan akurat. Bahkan, permainan itu kini menjadi media simulasi dalam hal-hal yang berbahaya sekali pun. latihan perang, pelatihan pilot pesawat tempur dan lain sebagainya kini dikemas dengan media-media yang dulu dianggap sebagai permainan anak-anak. Lebih dari itu, event-event peperangan secara akurat diambil dari event peperang yang lebih real, seperti perang vietnam, perang teluk dan lain sebagainya. Dan, anak-anak kini bisa secara mudah dan murah untuk melakukan simulasi tersebut, di depan komputer.

Game komputer seperti Empire, Star Craft dan game-game sejenis dengan berbagai variasinya, yang merupakan game-game peperangan yang mensimulasikan pembangunan negara militer untuk menaklukan negara lain. Atau game-game pembangunan kota atau negara, kini beredar di pasaran. Dalam Game Empire sebagai contoh, dalam versi yang mana pun, melibatkan hampir seluruh aspek kehidupan manusia sebagai unsur yang menjadi pendukung terciptanya negara adikuasa. Negara yang memiliki perangkat kekuasaan untuk menguasai dan menaklukan negara lain.

Dalam game tersebut, unsur-unsur seperti masyarakat sipil, agamawan atau samanisme (pada level masyarakat primitif), pendidikan, sains, kedokteran, merupakan aspek integral dari terbentuknya masyarakat militerisme, selain unsur-unsur pertanian, perikanan, perkayuan, pertambangan batu, besi dan emas. Perkembangan agama, dan semua unsur kehidupan sipil yang berhubungan dengan kehidupan ekonominya secara sinergis direlasikan dengan kepentingan-kepentingan militer.

Agama yang digambarkan sebagai perkembangan evolutif dari kehidupan magis, samanisme, menjadi salah satu unsur militerisme yang sangat efektif. Karena dalam game tersebut, agama tidak dilihat dari dimensi dan fungsi-fungsi moral-spiritual, melainkan dari sisi magis yang memiliki kemampuan untuk menghancurkan musuh dan merubah lawan menjadi kawan untuk kemudian membunuh yang asalnya adalah kawannya, hal yang tidak bisa dilakukan oleh unsur militer. Bahkan, dalam Empire Earth digambarkan bagaimana, warga sipil dan binatang ternak dijadikan peluru dan senjata pelempar yang dapat menghancurkan musuh. Intinya tak ada yang bisa dijadikan senjata penghacur, di mata militer dan dalam logika imperialisme. Pers salah satunya, yang dalam game Empire Earth diletakkan sebagai kekuatan misionaris (dakwah) agama, menjadi unsur yang efektif dalam kolonialisme tersebut.

Kekerasan militerisme, kini telah mewabah di kalangan masyarakat sipil. Kesempatan apa pun yang dimilikinya, untuk bisa berkuasa dan menguasai orang lain, untuk dihancurkan atau dimanfaatkan. Atau barangkali, kekerasan adalah miliki semua manusia, bukan hanya milik militer. Karena toh, game-game tersebut dibuat oleh masyrakat sipil. Atas pesan dan kepentingan militer?

Kini, kekerasan dan budaya kolonialisme bukan hanya dikenal oleh kalangan militer, penguasa dan masyarakat sipil pada umunya, akan tetapi juga oleh kelompok agamawan. Dengan kekuatan magisnya, agamawan merubah agama yang mengajarkan manusia tentang kasih sayang, saling menghormarti, menjadi manusia yang selalu curiga pada yang lain. Bukan hanya militer yang perlu musuh atau lawan, kini agama pun perlu lawan. Tanpa lawan, agama dianggap sebagai rutinitas yang menjemukan. Dengan alasan peduli sosial, lawan pun diciptakan. Dengan alasan kemurnian ajaran, konfik disosialisasikan. Dengan alasan moralitas, kebencian dibudayakan. Karena alasan itu pun, larangan pada agamawan untuk mendekati penguasa, hanya menjadi kekayaan teks yang habis dimakan jamur. Larangan utuk menghancurkan rumah ibadat pun entah tersimpan di memori yang mana?

Demikian juga dengan dunia akademis. Term-term akademis pun tak lebih hanya topeng cantik yang menutupi niat-niat untuk menguasai. Tidak ada bedanya, apakah itu rektor, dekan, dosen, atau mahasiswa. Semua menggunakan topeng yang sama untuk tujuan yang sama, berkuasa.

Imajinasi yang tergambar dalam game-game yang dimainkan anak-anak di depan komputer kini mejadi kenyataan. Maka, masih relevankah untuk menganggap dan mengatakan imajinasi dan permainan sebagai main-main, Just for Fun? Kini tak ada lagi kelucuan dan guyonan, tidak terkecuali untuk mengganggap guyonan dan kelucuan sebagai sesuatu yang hanya main-main. Begitu seriuskah hidup ini? Kehidupan adalah panggung sandirwara! Tapi bukan main-main. (Ahmad Gibson Al-Bustomi)

2 thoughts on “Empire Game; Pendidikan Militerisme dalam Imajinasi Masarakat Sipil

  1. pediaspora-chun says:

    ah yang pasti mah … logika perang adalah : perang hanya menjadikan orang bodoh sebagai pahlawan untuk negaranya sendiri dan membunuh orang bodoh lainnya………………………darrrr

  2. […] Mudah Di Bet Bola Online Yang resmiPantaskah Messi Terbaik Sepanjang Masa ?Messi Harus Dikawal KetatEmpire Game; Pendidikan Militerisme dalam Imajinasi Masarakat Sipil // .recentcomments a{display:inline !important;padding:0 !important;margin:0 !important;} […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s