RAMADHAN: Menyibak Kabut Ilusi, Mengakrabi Rasa Takut

I

Rasa takut merupakan salah satu sifat umum yang dimiliki manusia, termasuk manusia beragama. Takut terhadap kenyataan kongkrit kehidupan manusia yang dihadapinya, yang tidak secara lengkap dipahaminya, rasa takut terhadap siksa Api Neraka, yang mungkin dideritanya di akhirat kelak. Kadang rasa takut itu muncul di luar kadar yang wajar, sehingga manusia berlaku kalap.
Rasa takut terhadap kenyataan kongkrit kehidupan semakin tumbuh subur ketika tingkat persaingan hidup semakin meningkat. Berbagai gejala kelainan psikologis dan penyimpangan sosial pun muncul ke permukaan. Kesemuanya itu terlahir dari rasa takut. Rasa takut pun telah melahirkan berkurang dan hilangnya kepercayaan pada orang lain, bahkan tidak jarang kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri. KKN (kolusi, korupsi dan nepotisme), sebagi contoh, merupakan gejala yang paling nyata dari gejala ketidakpercayaan pada (kemampuan) diri sendiri. Kecurigaan terhadap orang lain dalam berbagai aspek kehidupan menjadi rumus jitu dalam berbagai aktivitas kehidupan masyarakat. Tanpa kecurigaan bersiaplah untuk ditipu orang lain.
Penyakit ketidakpercayaan pada yang lain yang melahirkan kecenderungan untuk berprasangka buruk (su’udhan) tidak hanya kepada sesama manusia, akan tetapi juga kepada Tuhan. Munculnya prasangka buruk pada Tuhan itu muncul dari sikap prustasi manusia (beragama) ketika ia merasa ditinggalkan oleh Tuhan. Tuhan telah dianggap membiarkan manusia dalam lautan penderitaan, dan ketidakpastian hidup. Dan pada akhirnya, orang sudah tidak lagi yakin akan ke-Maha Rahman dan Rahim-an Tuhan. Rizki pada akhirnya diyakini tidak pernah datang dari kenyataan Rahman Rahim Tuhan, rizki hanya datang dari usaha manusia. Rizki tidak ada hubungannya dengan Tuhan. Tuhan hanya berhubungan dengan kenyataan pahit manusia dalam wujud takdir. Dan, takdir lebih dipahami sebagai kenyataan kehidupan pahit manusia. Keberhasilan, kesejahteraan dan rizki hanya berhubungan dengan usaha manusia. Takdir baik adalah sebuah keajaiban yang sulit untuk didapat. Dan manusia tidak lagi punya waktu untuk menunggu takdir baik dan keajaiban dari Tuhan, karena perut tidak pernah bisa diajak untuk menunggu dan kompromi.
Rasa takut kita terhadap penderitaan dalam menjalani kehidupan kadang melebihi rasa takut dibading panasnya Api Neraka. Sehingga bukan tanpa alasan orang melakukan kecurangan dan kejahatan dalam hidup tak lain karena takut pada penderitaan kehidupan yang dijalaninya. Hal itu semua terjadi karena Tuhan yang diimaninya tak lebih tak kurang sebagai Tuhan yang diprasangkainya sebagai Tuhan yang hanya berkuasa membuat takdir yang membuat manusia menderita.
Rasa takut kita pada penderitaan dan kemalangan hidup di dunia bisa diibaratkan dengan rasa takut kita pada Neraka yang membiaskan keyakinan akan Rahman-Rahim Tuhan menutupi prasangka baik dan keimanan kita kepada Rahman Rahim Allah, seperti ingatan kita pada penderitaan dan kemalangan hidup telah menutupi mata hati kita terhadap nikmat dan kebahagiaan kita dalam kehidupan di dunia. Sehingga ibadah yang kita jalani yang tidak seberapa itu pun bukan lagi sebagai ekspresi cinta kita kepada Allah, melainkan karena takut pada Siksa Api Neraka. Ibadah akhirnya menjadi tak lebih tak kurang sebagai upaya meray u Allah supaya kita tidak dimasukkan dalam Api Neraka, dan merayu Allah supaya kita dimasukan ke dalam Surga-Nya, bukan dalam rangkan mencintainya. Seolah-olah surga tercipta dari perbuatan baik dan ibadah manusia yang tidak seberapa, dan bukannya dari sifat Rahman-Rahim Tuhan. Kalaupun masuknya seseorang dalam surga dengan lantaran amal ibadah dan amal shalehnya, cukupkah itu untuk menebus kenikmatan surga yang tak terhingga, dengan tanpa limpahan Rahman-Rahim Tuhan. Jangan-jangan untuk menebus dosa pun, semua kebaikan yang kita lakukan tidak akan pernah mencukupinya?
Dengan kata lain tujuan kita beribadah selama hidup di dunia, dan tujuan utama kita adalah Surga dan terhindar dari siksa Api Neraka, bukannya (Ridha) Allah. Prasangka buruk terhadap Allah Yang Maha Penyiksa membuat kita lupa terhadap lautan Rahman Rahim-Nya yang lebih luas. Kita sudah tidak lagi memiliki keimanan yang memadai terhadap Rahman Rahim Allah, sehingga kita menjadikan usaha kita sebagai satu-satunya tumpuan kehidupan kita. Dan pada akhirnya kita yakin bahwa kebaikan yang kita dapatkan adalah murni hasil usaha kita sendiri; Sedangkan kemalangan, Allah-lah yang menghendaki dan menurunkannya.
Sedemikian buruk prasangka kita kepada Allah, sehingga menutup pintu dalam diri kita untuk mendapatkan Rahman Rahim Allah. Bahkan, Rabi’ah pun pernah mendapat teguran keras dari Allah berkenaan dengan prasangka buruk (syu’u dhan) tersebut. Pernah suatu ketika hati Rabi’ah dikuasai oleh ketakutan yang amat sangat tentang Kiamat. Lalu berdo’alah ia, “Ya Tuhanku, akankah Engkau bakar hati yang mencintai-Mu?” Tiba-tiba ia langsung mendengar sebuah suara menjawab kegetiran hatinya yang melantakkan itu, “Wahai Rabi’ah, Kami tidak akan melakukannya. Janganlah berprasangka kepada Kami seperti kamu berprasangka terhadap Setan”.
Rasa takut dan prasangka buruk merupakan saudara kembar yang bercokol dalam hati manusia. Rasa yang terlahir dari himpitan-himpitan dan ketidakberdayaan dalam mengahadapi kehidupan. Rasa yang seperti Iblis atau Setan yang merambati seluruh nadi dalam tubuh manusia, sehingga apa pun yang kita lakukan bersumber dari rasa takut itu. Bahaya rasa takut ini mengingatkan kita pada peristiwa Hijrah, ketika Rasulullah bersama Abu Bakar di tempat persembunyiaanya. Abu bakar seperti kehilangan keyakinannya terhadap Rahman-Rahim dan pertolongan Allah, ia ketakutan. Maka, Rasulullah menenangkan dan mengingatkan Abu Bakar dengan menyatakan, “Janganlah kamu merasa takut dan khawatir, karena sesungguhnya Allah senantiasa menyertai kita!”.
Diantara penyebab himpitan kehidupan tersebut antara lain: himpitan rasa lapar dan dahaga, dorongan-dorongan seksual, keinginan untuk eksis dalam masyarakat atau tuntutan popularitas. Rasa takut merupakan misteri yang terlahir dari ketidakmengertian manusia. Oleh karena itu terapi untuk menyelesiakan rasa takut itu dengan cara mengahdapinya dengan mengalami dan mengakrabinya, bukan dengan cara menghindarinya. Pada bulan Ramadhan inilah Allah mengajak manusia untuk menghadapi, mengalami dan mengakrabi rasa takut itu. Namun demikian, tantangan dan jalan keluar yang Allah tawarkan hanya akan efektif bila dijalaninya secara ikhlas dan sungguh-sungguh. Datang dari niat yang tulus untuk menyelesaikan persoalan pribadinya. Bukan atas nama keshalehan, nama baik, harga diri atau sebutan lainnya. Tulus, sebagaimana orang sakit yang pergi ke dokter, tidak pernah ada yang memaksanya dan tidak merasa diperintah. Hanya satu hal, ingin sembuh yang datang dari kehendak dan keinginan sendiri.
Dalam berpuasa (di Bulan Ramadhan), kita diajak untuk mengakrabi rasa lapar dan haus (tuntutan perut), mengakrabi dorongan-dorongan hasrat seksual, mengakrabi rasa marah. Hanya dengan mengakrabi, dorongan-dorongan tersebut bisa dikendalikan, bukannya dengan cara menjauhinya. Menjauhi dorongan tersebut jangan-jangan malah membuat kita terjebak di dalamnya, karena kita membangun lingkaran rasa takut yang lain.
Rasa takut terlahir dari ilusi tentang penderitaan dan kemalangan yang akan kita hadapi. Kita makan sekenyang-kenyangnya, karena dibayangi oleh ilusi kelaparan esok hari, seperti halnya ketika kita yang demikian bernafsu untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, itu pun karena dibayangi ilusi akan penderitaan di dunia membuat kita menjadi kalap dan kehilangan batas-batas kewajaran. Karena sibuknya mengumpulkan harta dunia, pada akhirnya kita kehilangan kesempatan untuk menikmatinya dan mensykurinya. Pada akhirnya kita bukan lagi sebagai pemilik harta benda yang kita cari dan usahakan, malah kita menjadi budaknya. Bukankan itu absurd?
Keinginan kita untuk menguasai dan memiliki akan menjebak kita dalam putaran balik: malah kita yang akan diperbudak oleh sesuatu yang sedianya hendak dimiliki dan dikuasai. Tuhan menaklukan alam semesta dan seluruh isinya untuk dimanfaatkan dan bukannya untuk dikuasai dan dimiliki. Ketika kita merasa memiliki hidup ini, kita akan dihadapkan dengan rasa takut akan kematian, padahal ditakuti atau pun tidak ia (pasti) akan datang menjemput kita. Karena kematian adalah hak setiap manusia. Rasa takut membuat ilusi menjadi kenyataan dan kenyatan menjadi ilusi.
Bagi kita yang telah dewasa dan telah berislam sekian lama, berpuasa di bulan Ramadhan bukanlah hal yang baru dan asing. Akan tetapi rasa takut terhadap rasa lapar dan penderitaan serta kemalangan hidup tetap bersarang dan mengkristal. Bahkan, kedatangan bulan Ramadhan bukannya membuat penyakit (rasa takut) ini tersembuhkan, malah semakin parah dan berlipat ganda. Hal ini tampak dalam sikap kalap kita ketika menyambut dan menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan. Nafsu-nafsu perut dan hasrat duniawi semakin memperlihatkan kekuasaannya. Hari demi hari kita jalani ibadah puasa bukannya semakin tercerahkan dan tersembuhkan. Bahkan hingga menjelang Hari Raya ‘Idul Fitri, hasrat-hasrat duniawi dan nafsu pertu itu semakin kronis, menggerogoti jiwa dan pikiran kita. Keadaan ini seperti diisyaratka Rasulullh, “Kebanyakkan dari orang yang berpuasa, tak ada yang ia dapatkan dari puasanya itu kecuali rasa lapar dan dahaga”.
Ibadah puasa seperti itu bukannya membuat kita semakin akrab dengan rasa lapar dan penderitaan, melainkan semakin memperdalam cengkraman kekuasaan rasa takut kita terhadap penderitaan dan rasa lapar. Bulan Ramadhan bukannya sunyi dari hasrat dan nafsu perut dan hasrat nafsu duniawi. Bulan Ramadhan pada akhirnya menjadi Hari Raya bagi pesta pora dan perayaan rasa takut manusia terhadap penderitaan dan rasa lapar. Maka, begitu bulan Ramadhan berlalu, di bulan Syawal kita didera penderitaan yang tak terperikan. Lilitan utang dan harta benda yang dihabiskan selama bulan Ramadhan, membuat kita semakin ketakutan menghadapi kehidupan selanjutnya.
Islam sebagai agama yang membebaskan dan penyebar keselamatan, kini tinggal ilusi. Tauladan kehidupan Rasulullah yang mencintai kesahajaan kini tak lebih dari simbol dari sosok utopis. Umat Islam, kini bagaikan buih di lautan, mengambang dipermainkan gelombang. Tidak jelas arah dan tidak memiliki pijakan yang kokoh.

II

Ibadah dengan berbagai variasinya memiliki keistimewaannya masing-masing, demikian juga dengan ibadah puasa, khususnya dalam bulan Ramadhan. Keistimewaan tersebut semakin tegas ketika dibandingkan dengan aktivitas kehidupan lainnya. Hal ini seperti terungkap dalam salah satu Hadits Rasul dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, “Setiap perbuatan manusia adalah bagi dirinya sendiri, kecuali puasa, puasa itu untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan menanggung pahalanya”. Hadits ini penuh dengan misteri, apakah selain Allah ada seorang makhluk yang bisa memberikan pahala terhadap apa yang diperbuat manusia? Kecuali, bila dimaklumi bahwa pada kenyataannya manusia sering berharap pahala dari perbuatannya selain dari Allah, yaitu dari sesama manusia, karena perbuatan atau bahkan ibadah yang lain (selain puasa) pada dasarnya memiliki berhubungan langsung atau tidak dengan (kepentingan) manusia lainnya, sementara ibadah puasa sama sekali tidak. Oleh karen itu, tiada seorang makhluk pun yang bisa memberikan pahala (imbalan, dan penilaian) bagi ibadah puasa.
Kecenderungan kita sebagai manusia untuk mendapatkan penilaian dan pahala dari sesama manusia terjadi karena manusia secara praksis saling berhubungan dan saling berketergantungan. Kedudukan dan nilai fungsional seseorang ditentukan oleh perbuatannya. Semakin tinggi nilai fungsional dari perbuatan seseorang atas orang lain, semakin tinggi pula kedudukan sosialnya, dan karenanya ia akan semakin disanjung dan dihormati. Penilaian positif, kedudukan sosial yang tinggi, sanjungan dan penghormatan dari orang lain, serta dan kemungkinan akan mendapatkan pasilitas istimewa dan kemudahan dalam mendapatkan kehidupan duniawi (harta benda) karena posisinya itu, membuat kita merasa berharga dalam hidup. Oleh karena itu, bukan hal aneh apabila kiata berlomba untuk mendapatkannya.
Lain halnya dengan ibadah puasa, tidak ada seorang pun yang akan bisa memberikan penilaian dan pahala terhadap ibadah puasa yang kita lakukan. Ibadah puasa merupakan ibadah yang sangat tersembunyi dari amatan orang lain, oleh karena itu tidak ada peluang bagi munculnya imaji pada orang lain ketika kita melakukan ibadah puasa, demikian juga kita yang berpuasa tidak mungkin bisa berharap lahirnya imaji dari seseorang tentang ibadah puasa yang dijalaninya. Karena, kalaupun ia mengakatakannya pada orang lain dan memperlihatkan secara fisikal bahwa kita berpuasa, maka pada saat yang sama kita telah mengurangi bahkan menghilangkan nilai ibadah puasa tersebut. Lebih dari itu, bila kita memperlihatkan (secara sengaja) dan memberitahukan pada orang lain tanpa sebab yang jelas bahwa kita sedang menjalankan puasa, pada saat yang sama sesungguhnya kita telah menapikan apa yang kuta lakukan, yaitu bahwa kita sedang berpuasa. Oleh karena itu, bahwa kita sedang berpuasa, hanya kita dan Allah-lah yang tahu. Mengharapkan penghargaan dan penghormatan dari orang lain atas ibadah puasa yang kita lakukan, sama artinya kita telah menafikan ibadah yang sedang dijalani. Dengan kata lain, ungkapan “Hormatilah Orang yang sedang Beribadah Puasa” hanya mungkin diucapkan oleh orang yang tidak berpuasa, karena orang yang berpuasa tidak mungkin lagi mengharap “pahala” (penghormatan dan poenghargaan serta imbalan) dari orang lain atas ibadah puasa yang sedang dijalaninya.
Pada sisi ini, dengan ibadah puasa kita dilatih untuk melakukan apa pun tanpa harapan lahirnya penghargaan dan penilaian dari orang lain. Dengan ibadah puasa kita dilatih untuk mengakrabi keadaan dimana kita melakukan perbuatan yang demikian berat penuh tantangan dengan tanpa adanya penghormatan, pengakuan serta sikap toleran dari orang lain. Rasa takut terhadap keadaan tidak adanya penghargaan dan penghormatan dari orang lain atas apa yang perbuatan, dialami dan diakrabi selama menjalani ibadah puasa.
Selain mengakrabi rasa takut karena tidak dihormati, tidak dihargai dan tidak mendapat imbalan (pahala) dari orang lain atas apa yang kita lakukan, dalam ibadah puasa kita pun dituntut untuk mengakrabi penderitaan rasa haus, lapar, tidak terpenuhinya hasrat seksual, dan mengakrabi bagaimana luapan emosi dan kemarahan yang tidak terlampiaskan. Alih-alih mendaptkan saluran emosi dan kemarahan, kita harus bersikap santun terhadap orang lain, hata orang yang membuat kita marah dan merasa tidak enak hati. Sikap pema’af, bahkan sebelum orang lain meminta ma’af, menjadi alternatif paling efektif untuk meredam dan menetralisir emosi dan kemarahan kita.
Rasa lapar dan dahaga merupakan penderitaan yang paling menghimpit selama menjalankan ibadah puasa. Himpitan tersebut sedemikian menyesakkan, sehingga tidak mengherankan bila ketika tiba sa’atnya waktu berbuka puasa kita seperti kesetanan, membalaskan dendam rasa lapar dan haus selama menjalankan ibadah puasa sehari penuh. Bila itu terjadi, artinya kita masih belum berhasil mengakrabi penderitaan rasa lapar dan haus. Kita masih terkungkung oleh lingkaran rasa takut akan rasa lapar dan haus. Rasulullah mengabarkan berita duka, “Banyak dari orang yang berpuasa, tak ada yang ia dapatkan dari puasanya itu kecuali rasa lapar dan dahaga”. Allah merasa tidak perlu untuk memberikan pahala dari apa yang kita jalani selama ibadah puasa sehari penuh, karena kita telah mendapatkan ganjarannya dengan makan dan minum secara berlebihan, ketika berbuka puasa. Bukan sekedar dari banyaknya makanan yang masuk dalam perut kita, tapi “kemewahan” makanan yang masuk dalam perut kita dibandingan dengan ketika kita tidak sedang menjalani ibadah puasa. Bermewah-mewah atau sikap berlebihan dalam menjalankan ibadah puasa secara substansial telah “menghianati” atau menyalahi maksud dari ibadah puasa itu sendiri.
Kebahagiaan ketika berbuka puasa, seperti dikabarkan Rasulullah dalam salah satu haditsnya, tidak untuk dimaknai bahwa kita terbebas dari kungkungan untuk menghentikan makan dan minum serta apa-apa yang membatalakan puasa, bahwa kita bebas untuk makan dan minum. Kebahagiaan ketika berbuka puasa lebih dimaknai sebagai rasa syukur karena Allah telah melimpahkan Rahmat dan Rizki-Nya, sehinga kita bisa berbuka puasa. Hal tersebut terungkap pada ekspresi dalam do’a yang kita ucapkan ketika berbuka puasa, “Ya Allah, bagi-Mu aku berpuasa, dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka puasa, dengan Rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih dan Penyayang”.
Kesadaran bahwa karena rizki dan Rahmat serta Rahman-Rahim Allah kita berbuka puasa, menyadarkankan kita bahwa rasa lapar dan haus bukanlah seseuatu yang perlu ditakutkan dan membuat kita kalap serta lupa diri apalagi sampai pesimis, karena bukankah Allah akan senantiasa memberi kita rizki dari langit dan bumi serta dari tempat yang tidak kita duga. Usaha dan upaya yang kita lakukan tak lebih sebagai ekspresi dan aktualisasi kita sebagai khalifah Allah di muka bumi, yang ditakdirkan untuk memakmurkan bumi. Iqbal mengatakan, karena kita sebagai khalifah kita membuat tembikar, akan tetapi Allah-lah yang membuat tanah lempungnya. Kita berbuka puasa dan Allah-lah yang melimpahkan bagi kita rizki-Nya. Dengan demikian, usaha yang kita lakukan serta aktivitas sehari-hari bukan merupakan wujud dari rasa takut dan khawatir bahwa kita akan kelaparan di esok hari, melainkan karena kita adalah khalifah Allah.
Melalui ritual dalam Islam, khususnya ibadah puasa, Allah mengajarkan dan mengingatkan kepada kita tetang keberadaan logika (paradigma) agama yang berbeda dengan logika ilmiah-alamiah (induktif) yang diperlukan manusia. Dualisme manusia (ruhani-jasmani) memastikan perlunya “dualisme” cara berpikir, bukan hanya logika yang berlaku pada faktisitas alamiah belaka, akan tetapi juga harus mengenal dan menggunakan logika ruhaniah. K.H. Hasan Mustapa, salah seorang tokoh sufi Sunda, mengungkap kedua logika ini, pertama logika alamiah (induktif), dalam dangding Kinanti Ngahurun Balung: “Mun teu macul moal nyatu, teu kacai moal mandi, mun euweuh kejo teu mangan, mun teu ngarah moal ngarih, mun sangsara paeh bangka, mun teu nguli moal mukti”. Selain itu Hasan Mustapa menggambarkan logika lain dalam dangding yang sama: “Teu macul teu burung nyatu, Paeh titeuleum keur mandi, Teu mangan kamerekaan, Teu ngarah teu burung ngarih, Babatang menak Jatnika, Mucigcrig bawaning ngulik”, dan “Loba nuhirup teu nyatu, Nu ngali lain nu tani, Nu berakal katalayah, Anu caringcing dipaling, Loba ubar nu kanceuhan, Loba wali lain santri”.
Kecenderungan orang merasa takut dan khawatir dalam menjalani kehidupan ini dikarenakan oleh hegemoni berpikir ilmi’ah-alamiah (induktif) yang melihat fakta kehidupan hanyalah bersifat alamiah-material, dan menafikan fakta-fakta ruhaniah. Cara berpikir ini secara bertahap mempengaruhi cara berpikir beragama modern yang melupakan dimensi ruhaniah manusia. Cara berpikir yang tentunya menafikan karakteristik dasar agama. Melalui ibadah puasa (selain ibadah lainnya), umat Islam diingatkan akan hal tersebut. Oleh karena itu terdapat pola kehidupan yang khas yang dianjurkan untuk dilakukan selama menjalankan ibadah puasa. Prilaku yang secara selintas saja bisa dilihat sebagai prilaku “asosial”. Bila kita mencermati secara arif apa yang diisyaratkan Allah dan Rasulnya dalam menjalankan ibadah puasa, kita seolah-olah dianjurkan untuk melakukan proses “pengasingan” diri dari tatapan orang banyak, dengan banyak melakukan ibadah-ibadah sunnah, seperti membaca al-Qur’an, berdzikir, shalat malam, dan ber’itikaf. Suatu aktiviats yang dalam tradisi tasawuf dikenal dengan istilah “ujlah” dan “khalwat”. Aktivitas yang apabila menggunakan tata pikir modern, tentunya dianggap sebagai prilaku yang menyimpang dari tatanan berpikir dan pola kehidupan beragama modern yang menjadikan logika ilmiah-alamiah sebagai dasar paradigmanya. Paradigma yang telah menafikan logika atau paradigma ruhaniah. Fakta hakikiyah menurut agama (realitas ruhani dan Ilahi) kini dianggap sebagai ilusi belaka, dan fakta yang fana (ilusi) menurut agama malah dianggap sebagai fakta dari reslitas hakikiyah. Wallahu’alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s