TEOLOGI HUMANISTIK

PendahuluanAl-Jarjani, menjelaskan bahwa `aqidah adalah sesuatu yang berkenaan dengan keyakinan, iman, atau `itiqad dan tidak termasuk perbuatan (amal). Dalam bahasa Inggris dan Latin digunakan istilah creed dan dogma. Jamil Sulaiba, mendefinisikan `aqidah sebagai: “sesuatu yang berkenaan dengan apa-apa yang diimani dan diyakini (tidak diragukan) manusia“. [1]

Sebagai prinsip dasar dalam agama, `aqidah merupakan kebenaran apriori, aksiomatik, tentang realitas ontologis. Al-Qur’an menjelaskan beberapa aspek yang dikategorikan sebagai landasan ontologis dalam Islam sekaligus merupakan kebenaran apriori, aksiomatik. Namun demikian, karena keterangan Al-Qur’an tentang sistem keyakinan atau `aqidah tersebar dalam bebrbagai ayat dan berkesan tercecer, maka perlu upaya manusia untuk merumuskannya.

Dal;am tulisan ini, penulis memahami istilah `aqidah Qur’aniyah seperangkat sistem keyakinan, iman, dalam ajaran Islam yang dirumuskan berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang relevan dan berhubungan dengannya dengan berbagai pendekatan yang relevan. Dengan kata lain `aqidah qur’ani tersebut merupakan rumusan yang dibuat seseorang sebagai sistem serta prinsip-prinsip keyakinan yang didasarkan pada ayat-ayat Al-Qur’an yang (dianggap) relevan dan berhubungan dengan prinsip-prinsip keyakinan atau keimanan dan menggunakan metode dan pendekatan tertentu. Perumusan sistem keyakinan bertujuan untuk dapat dijadikan pandangan hidup oleh seorang muslim dalam menjalani kehidupannya sehari-hari dan kehidupan beragamanya. Dengan demikian yang dimaksud dengan `aqidah qur’ani bukanlah prinsip-prinsip `aqidah menurut al-Qur’an, akan tetapi sekedar pendapat dan penafsiran manusia, seseorang, terhadap doktrin-doktrin yang berkenaan dengan akidah yang terdapat dalam kitab suci, Al-Qur’an.

Metodologi Pembahasan

Al-Qur’an merupakan kumpulan wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. melalui Malaikat Jibril. Wahyu Allah yang terkumpul dalam Al-Qur’an disampaikan dalam bahasa Arab, dengan maksud supaya mudah dipahami oleh Bangsa Arab, tempat Qur’an dan Nabi Muhammad diturunkan, hidup. Karena Al-Qur’an sebagai wahyu Allah diturunkan dalam bentuk bahasa, maka dalam pembahasan `aqidah Qur’ani ini penulis menggunakan pendekatan semantik. Pemilihan metode ini didasarkan oleh keinginan untuk mengungkapkan makna `aqidah seperti dikemukakan dalam teks al-Qur`an tanpa dipengaruhi oleh kecenderungan interpretasi filosofis yang terlalu dominan yang memungkinkan munculnya pengertian yang “menyimpang” terlalu jauh dari makna “tekstual”, zhahir. Semantik hanya membicarakan makna suatu kata sebagaimana kata itu dimaknai dalam suatu kesatuan sistem, dalam hal ini al-Qur`an.

Semantik, dalam pengertian luas, merupakan ilmu yang berhubungan dengan fenomena “makna” yang memiliki pengertian yang lebih luas dari sekedar kata. Begitu luasnya cakupan semantik sehingga hampir semua yang mungkin dianggap memiliki makna merupakan objek semantik. “Makna” dalam pengertian dewasa ini bukan makna “murni” lagi, tetapi lebih tampak sebagai makna “relasional” atau makna yang telah dilengkapi dengan persoalan dalam disiplin ilmu tertentu, seperti filsafat, teologi, sosiologi, dan masih banyak lagi.

Dalam pengertian spesifik, yang digunakan dalam makalah ini, semantik dimaksudkan sebagai kajian analitik terhadap istilah-istilah kunci suatu bahasa dengan suatu pandangan yang akhirnya sampai pada pengertian konseptual weltanschauung atau pandangan dunia masyarakat yang menggunakan bahasa itu, tidak hanya sebagai alat bicara dan berpikir, tetapi yang penting lagi, konseptualisasi dan penafsiran dunia yang melingkupinya. Semantik dalam kerangka ini semacam weltanschauung-lehre, kajian tentang sifat dan struktur pandangan dunia sebagai bangsa saat sekarang atau pada periode sejarahnya yang signifikan, dengan menggunakan alat analisis metodologis terhadap konsep-konsep pokok yang telah dihasilkan untuk dirinya sendiri dan telah mengkristal ke dalam kata-kata kunci bahasa itu.

Pembacaan semantik terhadap al-Qur`an, dengan demikian, harus senantiasa berpijak pada prinsip-prinsip dasar al-Qur`an, seperti versi al-Qur`an tentang semesta (realitas syahadah dan ghaib). Semantik al-Qur`an tentang semesta (ontologi) terutama akan mempermasalahkan persoalan-persoalan bagaimana dunia Wujud distrukturkan, apa unsur pokok dunia, dan bagaimana semua itu terkait satu sama lain menurut pandangan Kitab suci tersebut. Tujuannya adalah untuk memunculkan tipe ontologis yang “dinamik” dari al-Qur`an dengan penelaahan kritis dan metodologis terhadap konsep-konsep pokok, yaitu konsep-konsep yang tampaknya memainkan peran menentukan dalam pembentukan visi al-Qur`an tentang semesta, realitas.

Hal ini akan menghasilkan konsekuensi adanya kemestian mencermati seluruh konsep-konsep kunci dalam al-Qur`an. Ini sulit dilakukan, karena, kata-kata atau konsep-konsep dalam al-Qur`an, berada dalam ayat-ayat yang terpisah (dalam ayat yang berbeda), tetapi saling menerangkan dan menghasilkan makna “kongkret” dari keseluruhan sistem relasional tersebut. Dengan kata lain, kata-kata ini membentuk kelompok-kelompok yang bervariasi dan berhubungan satu sama lain dengan berbagai cara yang pada akhirnya menghasilkan “keteraturan yang menyeluruh” sebagai kerangka kerja gabungan konseptual.

Berdasarkan uraian tersebut dapat dikemukakan bahwa kata-kata atau konsep dalam al-Qur`an terbagi dalam dua tataran makna, yaitu makna “dasar” (makna dzohir) dan makna “relasional”. Makna “dasar” kata adalah sesuatu yang melekat pada kata itu sendiri (self evidence), yang selalu terbawa di manapun kata itu diletakkan, sedangkan makna relasional adalah sesuatu yang “konotatif” yang diberikan pada makna dasar dengan meletakkan kata itu pada posisi khusus dalam bidang khusus. Misalnya, makna kata “kitab” memiliki makna dasar yang sama antara yang ditemukan dalam al-Qur`an dan di luar al-Qur`an. Inilah yang disebut dengan makna “dasar” kata itu.

Tetapi pada situasi tertentu saat suatu kata masuk pada sistem khusus (dengan posisi tertentu) kata tersebut memiliki makna yang berbeda. Seperti kata kitab, begitu dihubungkan ke dalam konsep Islam, berhubungan erat dengan kata-kata penting al-Qur`an, seperti Allah, wahyu, tanzil, nabiy, ahl. Oleh karenanya, makna kata itu harus dipahami dari semua segi terkait itu dan keterkaitan ini sendiri memberi makna khusus yang tidak akan diperoleh jika kata itu berdiri sendiri atau tetap berada di luar sistem. Inilah yang disebut dengan makna “relasional”.

Kedua tataran makna ini dijadikan pisau analisis dalam membaca ayat-ayat yang berhubungan dengan term `aqidah. Penggunaan pendekatan lain seperti filsafat, atau disiplin lainnya baru diulakukan bila dianggap perlu.

Struktur Ontologi Islam

Realitas “pengada” atau “yang ada” (landasan ontologi) dalam ajaran Islam dibagi dalam dua kategori, yaitu “pengada” yang teramati baik secara inderawi maupun intelek (syahadah) dan realitas atau pengada “yang ghaib”, pengada yang hanya diketahui oleh Allah, pengada yang hanya bisa diketahui manusia bila diwahyukan oleh Allah, seperti diwahyukan pengetahuan yang ghaib itu kepada Rasul-Nya atau yang dikehendaki-Nya.[2]

Pembagian cakrawala realitas pengada (landasan ontologi) tersebut merupakan suatu yang tidak diragukan dan diperdebatkan di kalangan ummat Islam, karena hal ini telah jelas-jelas disebutkan dalam Kitab Suci, Al-Qur’an. Dengan demikian, prinsip, paradigma ini telah menjadi (merupakan) kebenaran “apriori” atau “aksiomatik” dalam sistem ajaran (“aqidah) Islam.

Aqidah adalah “konsep” tentang prinsip-prinsip dasar tentang segala sesuatu yang menjadi landasan pandangan hidup, weltstchaanstchung.

Al-Qur’an merinci pengada ghaib di antaranya adalah hal-hal yang berkaitan dengan masa, kejadian-kejadian yang terjadi pada masa “primordial” dan masa yang akan datang[3] serta kejadian pada masa kini yang berada di luar pengetahuan dan pengamatan manusia[4].

Wujud Hirarki Ontologis
Ikatan ruang-waktu

hirarki.jpgSecara umum, pengada mewujud sebagai esensi, eksistensi, dan berada dalam lingkup ruang-waktu. Terdapat empat aspek yang terlibat dalam proses mengada dari suatu pengada yang terintegrasi menjadi dua bagian dan terjadi secara berpasangan, satu dengan yang lainnya tidak bisa dipisah-uraikan, yaitu esensi dengan eksistensi dan ruang dengan waktu. Kedua bagian bagain tersebut pada akhirnya menjadi penentu kualitas pengada. Hal ini bisa digambarkan sebagai tersebut di atas. Gambaran tersebut dijelaskan sebagai berikut: semakin tinggi derajat wujud suatu wujud maka semakin kecil ikatan waktu terhadap wujud tersebut. Tuhan sebagai wujud yang tak terbatas maka ikatan waktu terhadap wujud Tuhan ekuivalent dengan nol. Sebaliknya semakin rendah derajat wujud tersebut semakin kuat pula ikatan waktu terhadap wujud tesebut. Dengan demikian tingkat kegaiban suatu wujud atau realitas, dapat diukur oleh seberapa besar kelonggaran ikatan waktu terhadap wujud tersebut.

Dasar-dasar Keimanan, Paradigma Ontologis

Istilah “iman” merupakan term yang khas terdapat (“dimiliki”) dalam setiap agama, khusnya Agama Islam. Dalam kerangka filsafat pengetahuan, iman merupakan term metodologis, “epistemologik”. Suatu metodologi pengetahuan yang memiliki pola yang khas dan berbeda dengan metodologi filosofis maupun ilmiah modern, sains. Cara kerja imani berpijak pada penggunaan instrumen nurani, dzauq, qalb.

Bila membadingkan dengan paradigma filsafat dan sains, dapat dipetakan sebagai berikut:[5]

Metode
Objek
Paradigma
Produk
Tingkat
Kebenaran
Instrumen
Iman/intuitif Realitas Ghaib Imani PengetahuanMistik/spiritual Apriori Dzauq/ Nurani
Rasio AbstrakLogis Logis Filsafat Apriori danAposteriori Rasional Akal
Pengamatan/Obeservasi Realitas Empirik Positivistis Sains Aposteriori Empirikal Indera

Aqidah dalam Islam, merupakan “konsep” tentang prinsip-prinsip dasar tentang segala sesuatu (Pengada) yang menjadi landasan pandangan hidup, weltstchaanstchung. Dengan demikian, aqidah merupakan produk dari dari sejumlah sistem pengetahuan, yaitu pengetahuan spiritual atau mistik, pengetahuan filsafat dan pengetahuan saintifik.

Kembali pada sistematika ontologis Qur’ani, yang membagi realitas pada tiga tingkatan, yaitu ghaib, dan nyata atau syahadah. Ketika realitas tersebut dipersepsi dan menjadi pengetahuan, maka realitas tersebut hadir dalam wujud konsep-konsep (pengetahuan). Konsep-konsep tentang realitas pengada itu tidak lain dari simbol-simbol. Dalam konteks inilah, pada akhirnya simbol tersebut dipahami sebagai realitas lain sebagai realitas antara. Esensi realitas simbolik bersifat abstrak, berada pada “pikiran”. Wujud realitas simbolik ini pada umumnya berbentuk konsep-konsep atau prinsip-prinsip dari sesuatu baik berbentuk hukum-hukum atau norma. Dengan demikan maka realitas pengada tersebut menjadi tiga tingkatan, yaitu realitas ghaib, realitas simbolik dan realitas nyata atau syahadah.

Rasulullah saw. merinci aspek-aspek keimanan dalam enam bagian, sebagai mana jawaban Rasulullah kepada Malaikat Jibril, yaitu iman kepada Allah serta ke-Esaan-Nya, malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Utusan-Nya, Hari kebangkitan, dan pada taqdir Illahi yang baik maupun yang buruk. Dalam Hadits lain, aspek keimanan terhadap pada taqdir Illahi yang baik maupun yang buruk diganti dengan pertemuan Allah di akhirat kelak.[6] Sementara itu dalam al-Qur’an, diantaranya dalam QS. Al-Baqarah, 2:177 menyebutkan lima aspek keimanan, yaitu beriman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Nabi, Hari Akhir[7].

Tanpa mempersoalkan perbedaan perincian tersebut[8], dengan masukkan seluruh aspek tersebut dan memasukkan aspek pertemuan dengan Tuhan dalam aspek keimanan pada hari Akhir penulis, mengikuti asumsi atau pendapat umum, merinci aspek-aspek keimanan sebanyak enam aspek, yaitu iman kepada Allah serta ke-esaan-Nya, malaikat-malaikatnya-Nya, Kitab-kitab-Nya, Utusan-Nya, Hari kebangkitan, dan pada taqdir Illahi yang baik maupun yang buruk.

Bila dibuat matrik, dengan mensintesakan antara landasan ontologi realitas pengada, yaitu realitas ghaib, realitas simbolik dan realitas nyata (syahadah), dengan keenam aspek keimanan tersebut, maka tampaklah hubungan yang dapat digambarkan seperti di bawah ini:

Realitas

Rukun Iman

Realitas Metafisik/ Ghaib Allah
Malaikat
Hari Akhir (sa’ah)
Realitas Simbolik/ Konseptual Kitab (wahyu verbal)
Nabi
Qada dan Qadar

Realitas syahadah tidak masuk pada sistem keimanan (sistem pengetahuan imani), karena realitas syahadah tidak berada pada paradigma keyakinan, imani, melainkan berada pada paradigma dan sistem pengetahuan empirikal, penginderaan. Sebagai ilustrasi, pengetahuan tentang adanya manusia di muka bumi, masuk pada pengetahuan empirikal atau inderawi, yaitu pengetahuan berdasarkan kesimpulan, deduktif. Akan tetapi misi manusia di muka bumi sebagai khalifah dan ‘abid masuk pada kriteria pengetahuan imani, mistik atau ma’rifah (pengenalan)[9] karena hal itu baru diketahui setelah Tuhan menjelaskan tentang hal tersebut melalui kitab-Nya, wahyu.

Kitab dan kenabian (nabi dalam fungsi simbolik bukan sebagai person) berada pada realitas simbolik. Simbol-simbol intelek dirumuskan dan diverifikasi dalam ranah intelek, rasional, sedengakan simbol-simbol imani dirumuskan dan diverivikasi dalam ranah imani. Namun demikian secara metodologis perumusan realitas simbolik imani berbeda sifatnya dengan realitas simbolik intelek. Dalam konteks inilah dapat dibedakan dan dipahami dua jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan intelek (deduktif) dan pengetahuan imani (mistik, ma’rifat/mukasyafah).

Dalam sistem `Aqidah Islam term waktu menjadi bagian dari sistem ‘aqaid. Karena persoalan waktu seperti dijelaskan di atas, di antaranya berhubungan dengan penjelasan tentang realitas ontologi, ghaib dan syahadah.

Terdapat unsur lain yang sepertinya “tidak secara eksplisit” dimasukkan dalam sistem keimanan yang disebutkan Al-Qur’an khususnya, akan tetapi diduga kuat (oleh penulis, dalam konteks analisis semantik) merupakan salah satu kata kunsi penting dalam memahami sistem aqidah dalam Islam, yaitu fungsi manusia sebagai khalifah (bukan fungsi biologisnya dan ‘abid. Kenyataan ini, yaitu bahwa manusia sebagai khalifah pada kenyataannya merupakan pengetahuan imani. Bagi seorang Muslim, kedudukannya sebagai khalifah dan ‘abid sangat menentukan dan prinsipil. Memasukkan fungsi manusia tersebut dalam rukun iman, didasarkan pada pemikiran tentang realsional antara keenam rukun iman yang lain, bila fungsi khilafah dan ‘abid manusia tidak ada penegasaanya maka menjadi tidak berarti apa-apa.

Struktur Teologi Humanistik

Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa `aqidah tidak bisa lepas dari iman. Term iman mengandaikan adanya dua hal, yaitu subjek iman dan objek iman (sesuatu yang diimani). Dalam hal ini subjek iman adalah manusia, dan inti/kata kunci dari objek iman adalah Allah. `aqidah dalam satu sisi memiliki makna ikatan atau perjanjian, yaitu perjanjian atau ikatan antara manusia dengan Allah. Dengan kata lain telah terjadi semacam “hubungan” antara manusia dengan Tuhan. Hubungan (perjanjian) tersebut mengakibat sejumlah konsekwensi terlahirnya suatu sistem keimanan yang memiliki struktur yang khas.

Terdapat satu hal yang sangat prinsipil yang perlu dipertanyakan, perjanjian dan ikatan apakah sesungguhnya yang telah terjalin antara manusia dengan Allah, sebagai Tuhannya? Bila hal ini tidak dipahami dan diketahui, maka inti dari keimanan menjadi kabur, absurd. Perjanjian Manusia-Tuhan tersebut berhubungan dengan kehadiran manusia di muka bumi. Yaitu perjanjian manusia untuk menjalankan misi khilafah selain ‘abid di muka bumi.

Ajaran/keyakinan Islam, menyebut-jelaskan bahwa kehadiran manusia di muka bumi ini menyandang suatu tujuan yang jelas, yaitu sebagai ‘abid dan khalifah Allah. Posisi manusia sebagai khalifah, posisi ini memiliki kedudukan yang sangat unik, dan khas, karena hanya manusialah yang dibebani amanat, atau tugas ini.

Karena suatu alasan tertentu (akan dibahas kemudian) hubungan Tuhan-manusia (yang sangat khas, selain sebagai khalik-makhluk dan ma’bud-‘abid) telah mensyaratkan hal-hal lain, yaitu kemestian adanya keimanan terhadap aspek-aspek lainnya, yaitu kemestian manusia mengimani malaikat, kitab/wahyu dan nabi, sebagai perantara Tuhan-manusia. Selain itu, manusia pun pada akhirnya harus mengimani dua hal lain yaitu tentang adanya qada dan qadar Allah, sebagai suatu sistem hukum-hukum dasar illahiyah, hukum yang hasurs diyakini diyakini manusia sebagai seperangkat pengetahuan tentang kehendak dan pengetahuan Allah yang merupakan hukum Alami’ah (sunnatullah) yang harus dipahami manusia dalam rangka menjalankan kehidupannya di muka bumi ini. Setiap hukum, aturan serta perjanjian atau ikatan, senantiasa meiliki konsekwensi-konsekwensi tertentu, baik moral maupun keonsekwensi alami’ah. Dalam hal ini, kemestian lainnya adalah kemestian manusia untuk mengimani tentang Hari Kiamat, sebagai sa’at dimana seluruh prilaku manusia dimuka bumi dipertanggungjawabkan, untuk selanjutnya manusia mendapatkan balasannya, surga atau neraka.

Bila demikian maka dapat dipahami bahwa apa bila manusia tidak pernah memilih untuk menjadi khalifah, maka keimanan manusia terhadap malaikat, Wahyu/Kitab Allah, Nabi, Hari Akhirat dan terhadap Qada serta Qadar merupakan benar-benar tidak menjadi perlu, dan tidak bermakna.

1. Iman Kepada Allah

Allah merupakan kata fokus tertinggi dalam sistem Al-Qur’an, yang nilai penting dan kedudukan tidak ada yang melebihi. Weltanschauung (word view, pandangan dunia) Al-Qur’an dalam kerangka hierarki ontologis hakekatnya teosentrik, karena itu ia menjadi pusat relasional secara mendalam pada struktur semantik semua kata kunci.

Allah, Tuhan, sebagai pengada (wujud) secara konsepsional (yang dipahami dan dapat dipami manusia) dipahami sebagai esensi dan eksistensi.

Tuhan sebagai Esensi merupakan sisi yang tidak bisa diketahui, dicerap, oleh manusia[10]. Ia merupakan “Seseuatu” yang secara real tidak “hadir” dalam ranah pengamatan dan pengalaman manusia; Ia “hadir” berhadapan dalam pengetahuan apriori manusia, tanpa bisa dijelaskan mengapa dan bagaimana. Ia tidak bisa dikonseptualisasikan dalam term-term analisis rasional. Dalam sisi ini Tuhan hanya bisa dikatan bahwa Ia ada. Statemen-statemen kualitatif dan kuantitatif yang berkenaan dengan Esensi Tuhan tidak bisa dilakukan, karena Ia merupakan Realitas yang berada di luar wilayah persepsi dan pengalaman manusia.

Pengetahuan tentang Tuhan sebagai realitas Tunggal, Esa, tiada lain dari analisis kausal tentang Tuhan. Dan itu tidak bisa dilakukan terhadap esensi pengada, Tuhan. Dalam tahap ini hanya memberikan pada manusia pengetahuan bahwa Tuhan ada sebagaimana adanya, belum bicara tentang bagaimana Tuhan mengada.

Al-Qur’an menjelaskan bahwa Tuhan Mengada. Tuhan sebagai Esensi an sich, tidak memiliki makna apa pun bagi manuisa. Karena manusia tidak menemukan relasi yang jelas antara ada Tuhan dengan manusia. Relasi baru ada tatkala manusia bisa mengkonseptualisasikan Tuhan, yaitu ketika Tuhan “hadir” dengan mengaktualisasikan esensinya dalam wujud eksistensi. Tuhan hanya bisa dipahami (sebagai konsep) dalam konteks Mengada, Eksistensi. Namun demikian tidak bisa dikatakan bahwa perwujudan eksistensi “dikarenakan” Tuhan “merasa” perlu untuk membuat relasi dengan manusia[11]. Hanya Allah sendiri yang mengetahui akan illat perwujudan eksisten.

Dalam tardisi pemikiran Kalam, khususnya Kalam klasik, pembicaraan tentang sifat Allah, merupakan pembicaraan yang tidak pernah selesai. Sifat Tuhan dalam analisis filsafat Ontologi tiada lain dari potensi-potensi Esensi (wujud). Sifat atau potensi-potensi esensi, khususnya Tuhan sebagai wujud yang “hidup”, hayat, baru bisa diketahui dalam eksistensinya.

Eksistensi Tuhan dipahami manusia (dalam tataran konsep) dalam dua model perwujudan, yaitu : actus (perbuatan, potensi aktual) dan reatus (moralitas). Perwujudan Eksistensi actus Tuhan nampak dalam Eksistensi-Nya Yang Maha Mengetahui dan Berkehendak dan Maha Kuasa untuk mengaktualisasikan Pengetahuan serta Kehendak-Nya. Perwujudan Eksistensi reatus Tuhan mewujud sebagai Eksistensi Yang memiliki Self Morality.

Ilustrasi filosofis yang paling menarik dari lingkaran segi tiga “Maha Kuasa-Maha Mengetahui-Self Moralitas” Illahiyah adalah dalam persoalan “stone paradoxal“. Suatu persoalan yang muncul dari pertanyaan “Kuasakah Tuhan menciptakan sebuah batu yang Tuhan sendiri tidak akan kuasa mengangkatnya?”. Hal ini melahirkan paradoks karena kalau pun Tuhan mampu menciptakan batu demikian, akan disusul dengan konsekwensi lain yaitu Tuhan tetap tidak bisa disebut Maha Kuasa, karena Ia tidak akan mampu mengangkatnya. Dalam tradisi pemikiran Kalam Islam, pertanyaan serupa diajukan dengan nada yang agak lain, “Kuasakah Tuhan memasukkan orang kafir ke dalam surga dan memasukkan seorang mu’min ke dalam neraka ?”.

KeadaanEsensi Keadaan Eksistensi
Reatus Actus
Ada Maha Adil Maha Kuasa
Esa Maha Pengasih Maha Pencipta
Maha Penyayang Maha Mengetahui
Dsb. Dsb.

St. Thomas Aquinas, Filosof Jerman abad pertengahan, mengajukan sebuah alternatif jawaban atas masalah tersebut. Ia mengatakan bahwa pradoks tersebut muncul dari ketidakjelasan konsep Maha Kuasa yang diartikan sebagai “God can do all things” (Tuhan dapat melakukan segala sesuatu). Aquinas menyatakan bahwa makna “all things” harus diperjelas, yaitu “all things are possible“. Dengan kata lain kekuasaan Tuhan harus dibatasi. Tuhan mungkin melakukan sesuatu yang layak Tuhan lakukan.[12] Al-Faruqi menyebutnya sebagai Self Morality, yaitu bahwa dalam melakukan kekuasaan-Nya, Tuhan senantiasa dibarenagi dengan apa yang debut dengan moralitas Ilahiyah.

Gambaran tersebut, dapat dilihat dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah, 5: 48.; Al-‘Araf, 7: 40.

“…Sekiranya Allah menghendaki, niscaya dijadikan-Nya kamu satu ummat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepada kamu, maka berlomba-lombalah dalam berbuat kebajikan…”

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan pintu-pintu langit dan tidak pula mereka masuk surga hingga untuk unta masuk lobang jarum. Demikianlah kami membri kejahatan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan”

Dengan demikian Allah, kalau pun Ia berkuasa, ia tidak akan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan prinsip (qada) Allah sendiri, karena susungguhnya Allah itu Maha Rahman/Rahim dan Maha bijaksana.[13]

2. Fungsi Manusia (sebagai `Abd dan Khalifah)

Pandangan keagamaan “klasik”, memandang kehadiran manusia di muka bumi ini merupakan sebuah kutukan karena dosa yang diperbuat manusia. Pandangan yang yang melahirkan pandangan dan sikap manuisa terhadap dunia sedemikian menghinakan, rendah. Hal ini pula yang menjadikan sejumlah agamawan dan spiritualis berusaha untuk menjauhi pola kehidupan pola kehidupan duniawi, yang selanjutnya mereka memvolarisasikan (mengkutub-kan) kehidupan dirinya ke dalam pola kehidupan spiritual an sich.

Manusia adalah salah satu makhluk Allah, salah satu makhluk yang ditakdirkan Allah memiliki kesadaran ontologis, bahwa ia ada dan hidup. Cerita tentang manusia dalam hubungannya dengan misi (amanat) kekhalifahan, dalam Al-Qur’an, diawali dengan peristiwa kesanggupan Adam (manusia pertama sebagai khalifah) untuk memilih dan menjadi khalifah Allah dimuka bumi, setelah Allah menawarkan amanat kekhilafahan kepada seluruh makhluk.[14]

Kesedian manusia untyuk memilih menjadi khalifiah melahirkan protes dari para Malaikat dan Iblis. Malaikat dan Iblis merasa lebih layak dan mampu untuk mengemban jabatan sebagai khalifah, dibanding manusia. Anehnya, kesanggupan Malaikat dan Iblis ini baru disampaikan/terlontar setelah manusia menyanggupinya. Untuk itulah mereka mempertanyakan keraguan mereka tersebut kepada Allah, dengan mengajukan argumen tentang karakter manusia yang memiliki kecenderungan untuk saling menumpahkan darah, padahal para malaikat justru lebih memiliki kecenderungan untuk bertasbih dengan memuji dan senantiasa mensucikan Allah.[15] Di sinilah tampak keagungan Allah tampak, Allah tidak merobah keputusan-Nya, walaupun Allah tahu bahwa kesiapan manusia untuk menjadi khalifah tersebut sebagai susatu kebodohan dan kedhaliman,

Karena terjadi “protes” dari Malaikat dan Iblis, pada akhirnya Allah memperlihatkan potensi yang sesungguhnya (potensi laten) yang dimiliki manusia. Allah memberi manusia sejumlah potensi yang tidak dimiliki makhluk lainnya, termasuk para Malaikat dan Iblis. Terdapat tiga potensi yang diberikan Allah kepada Adam, yaitu potensi pengetahuan (pasif), potensi kreatif, dan kebebesan serta keberanian untuk memilih. Untuk membuktikan bahwa memang manusia layak dan memiliki kelebihan atau keistimewaan dibanding makhluk lainnya, Allah memperlihatkan potensi-potensi tersebut dengan mengujinya dihadapan para Malaikat dan Iblis.

Ujian pertama yang dialami Adam adalah ujian pengetahuan pasif tentang nama-nama (kosep). Ujian kedua, ujiuan kreatifitas (potensi kreatif), yaitu ketika Adam memberikan nama Siti Hawa kepada pendampingnya (seorang perempuan). Dan ujian ketiga adalah ujian kebebasan serta keberanian untuk memilih dengan sujamlah resiko yang dihadapinya. Ujian ini berhubungan dengan buah huldi. Adam dihadapkan dengan pilihan untuk mengikuti perkataan Allah yang berakibat Adam akan tetap diam di surga[16], padahal Adam berkeinginan untuk segera menjadi khalifah di muka bumi.[17] Maka Adam memilih untuk memakan buah khuldi, dan itu berarti mengikuti bisikan syaithan dan mengabaikan atau melanggar peringatan/larangan Allah.

Maka karena itulah Adam lulus “ujian” untuk menjadi khalifah di muka bumi. Allah berfirman:

“Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama sebagain kamu menjadi musuh sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.[18]

Ayat tersebut menjelaskan tentang saat awal manusia akan memulai masa kehidupannya sebagai khalifah di muka bumi, dan saat itulah Adam menerima petunjuk (agama ?) kehidupan di muka bumi.

Konsep `Abd dan Khalifah Dalam Al-Qur`an

Kata `abd, yang dalam berbagai buku terjemahan al-Qur`an diartikan sebagai hamba, ternyata disebut paling banyak. Hanya saja makna hamba tersebut tidak bisa diartikan sebagai terkekangnya manusia di hadapan Allah. Misalnya, pada QS al-`Alaq/96: 6-10, kata “hamba” ditujukan kepada Rasulullah yang mempunyai derajat tinggi di mata Allah maupun manusia, bukan sebagai “jajahan” Allah.[19] Hampir kesemuanya dikenakan pada manusia yang sangat dihargai oleh Allah melalui perjalanan isyra, atau diangkatnya Dawud, manusia-hamba, sebagai khalifah, dan sejenisnya.

Sungguh pun demikian, yang disebut sebagai hamba Allah itu bukan hanya para nabi dan para rasul, melainkan juga semua manusia. Di antara mereka ada yang beriman (QS Ibrahim/14:31) dan ada pula yang berdosa dan durhaka kepada Allah (QS. Al-Isra/17:17). Hamba Allah itu memang bermacam-macam. Tapi ‘abd itu, dalam beberapa ayat memang benar-benar budak, misalnya dalam al-Qur`an surat al-Baqarah/2:178 dan 221. Allah juga tidak menganiaya kepada Hamba-hamba-Nya (QS. Al-Hajj/22:10). Bahkan Allah itu bersikap lemah lembut kepada hamba-hambanya dan memberikan rezekinya (QS. Al-Syura/42:19).

Uraian tersebut mengemukakan “harga” manusia sebagai `abd dalam relasinya dengan Allah yang masih tetap bebas dan tidak dikekang dalam segala hal oleh kehendak Allah. Kondisi inilah yang memungkinkan manusia sebagai `abd bisa menjalankan tugas lainnya, sebagai khalifah.

Khalifah dalam al-Qur`an dimaknai, paling tidak, dalam tiga makna. Pertama, sebagai fungsi/kedudukan manusia (Adam) sehingga kita dapat mengambil kesimpulan bahwa manusia berfungsi/berkedu-dukan sebagai khalifah dalam kehidupan. Kedua, khalifah berarti pula penerus atau generasi penerus; fungsi khalifah diemban secara kolektif oleh suatu generasi. Dan ketiga, khalifah adalah kepala negara atau pemerintahan atau bangsa.

Manusia menjadi khalifah terjadi setelah manusia memilih dan menerima amanah yang sebelumnya pernah ditawarkan kepada seluruh alam (al-Ahzab/33:72). Amanah dalam arti ini dimakna sebagai kepercayaan, walaupun Malik Ghulan Farid, dalam The Holy Qur`an-nya, memberikan pemaknaan terhadap amanah dengan “hukum-hukum ketuhanan” (QS al-Nahl/16: 49-50).

Hukum atau Undang-undang yang berlaku dalam alam semesta itu diwujudkan dalam qadr (QS al-Qamar/50-49) atau mizan (QS al-Rahman/55:7). Manusia dimintai untuk memperhatikan hukum alam tersebut, sebab kalau tidak, maka kegiatan yang tidak disengaja maupun perbuatan manusia yang disengaja bisa merusak.

Sungguhpun demikian, hukum tersebut berlaku juga pada manusia dalam bentuk risalah yang diturunkan kepada Nabi dan Rasul. Para Nabi adalah pemegang amanah. (QS al-Baqarah/2: 72). Amanah dalam surat ini ternyata berkaitan dengan tugas kekhalifahan manusia di bumi. Manusia ternyata diberi tugas untuk mengelola sumber-sumber kehidupan di muka bumi: Dan Allah telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menugaskan kamu untuk memakmurkannya” (QS Hud/11:61)

Amanah juga berhubungan dengan iman, karena berasal dari akar kata yang sama a-m-n yang berarti “damai dengan dirinya sendiri” atau “merasakan tiadanya guncangan dalam diri seseorang.” Secara harfiah, amanah artinya sebuah “tempat menyimpan uang aman” seperti yang terkandung dalam Surat al_nisa/4:58 dan diberbagai tempat yang lainnya, atau “kepercayaan”. Kata-kata “amana bi ‘l-lah” artinya adalah menaruhkan kepercayaan kepada Allah.

Iman dengan demikian adalah menaruh atau menyimpan kepercayaan hanya kepada Allah dengan cara mengikuti apa yang dimanahkan-Nya. Misalnya pada QS al-Anfal/8:27-29,

Hai orang-orang yang beriman , janganlah pula kamu menghianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui (persoalannya).

Pemahaman ayat tersebut dapat dipamahi bahwa anak dan harta itu adalah suatu amanah, Apabila manusia bertaqwa, maka Allah akan memberikan petunjuk dengan kriteria (al-furqan) yang dapat digunakan untuk membedakan mana yang baik dan mana yan buruk, mana yang benar dan yang salah. Dengan perkataan lain, maka “amanah” itu adalah kemampuan moral dan etika yang akan memungkinkan manusia membangun yang positif dan menghilangkan yang negatif. Dengan kemampuan itu, manusia diharapkan dapat menunuaikan missinya sebagai khslifsh, dan sebagai pengelola sumber-sumber kehidupan dan penghidupan di Bumi.

3. Keimanan terhadap Malaikat, Kitab dan Nabi

Keimanan manusia terhadap Nabi, malaikat, dan wahyu bisa dirunut dari sejarah “diturunkan”-nya Adam ke muka bumi. Perunutan ini berangkat dari hipotesis bahwa Adam (setelah di muka bumi )sebagai simbol manusia pertama mengalami dan melakukan hal yang akan dialami juga oleh manusia lainnya. Dalam QS. al-Baqarah: 36-38 tragedi “diturunkan”-nya Adam diceritakan dengan Jelas. Setelah, Adam dan istrinya, memakan “buah khuldi” Adam ditegur dan terancam “terusir” dari Taman Adn. Dengan “kalimat” yang diajarkan Allah Adam bertobat dan diterima, kendati demikian Adam tetap “diturunkan” ke muka bumi.

Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih.”[20]

Ayat tersebut mengemukakan bahwa Adam yang telah mendapat mandat tugas kekhalifahan, dengan pengetahuan dasar tentang nama-nama di dalam dirinya, masih membutuhkan petunjuk operasional (hudan), sekaligus juga menggambarkan turunnya wahyu pertama bagi manusia. Pada saat Adam sebagai manusia menerima wahyu ini, proses pengimanan pertama di muka bumi terjadi, yaitu pengimanan Adam terhadap sesuatu yang telah ia terima, wahyu, sekaligus terhadap siapa yang telah mengirim sesuatu tersebut, yaitu malaikat. Kepercayaan terhadap nabi saat itu baru dilakukan oleh manusia kedua yang tidak mengalami proses pewahyuan, yaitu Hawa. Prosesnya berturut-turut, Hawa mengimani Adam sebagai nabi yang mendapatkan wahyu dari Allah melalui perantaraan malaikat. Proses pengimanan terhadap Allah tidak dibicarakan karena Adam telah mengenal dengan sendirinya pada saat mereka tinggal di Taman Adn secara esensi dan baru kemudian Adam mengenal –lalu mengimani– Allah secara konsepsional setelah mendapat warta dari “petunjuk” (hudan) dalam wahyu.

Uraian tersebut menjelaskan bahwa pembicaraan mengenai nabi tidak bisa dilepaskan dengan pembicaraan mengenai wahyu dan malaikat. Pengimanan salah satunya, dengan demikian, berkonsekuensi pada pengimanan yang lainnya.

Istilah nabi berasal dari kata naba’, yang artinya warta, berita, cerita, dan dongeng. Dalm al-Qur`an, kata nabi berasal dari satu akar kata yang sama yaitu naba’, bersama dengan beberapa kata yang lain seperti nubuwah (kenabian, ramalan), nabba’a dan anaba’a (bercerita), dan istinba’ (meminta untuk diceritakan). Salah satu contoh ayat al-Qur`an yang menyebut mengenai nabi adalah dalam QS Maryam/19:30-33, “Sesungguhnya, aku ini adalah hamba Allah. Dia memberikan sebuah Kitab dan Dia menjadikan aku seorang Nabi…” Sedang ayat yang menyebut naba’ salah satunya mengemukakan, “Inilah sebagian dari berita yang Kami wahyukan kepadamu…”[21]

Kata nabi, dengan demikian, berasal dari kata naba’ yang artinya menurut Mawlana Muhammad Ali adalah “pemberitahuan yang besar faedahnya, yang menyebabkan orang mengetahui sesuatu. Sementara Muhammad Ali mendefinisikan Nabi sebagai perantara antara manusia dan Tuhannya dan utusan Allah pada manusia.

Dalam al-Qur`an, kata nabi dan rasul dipergunakan secara bergantian Untuk membedakan artinya, para ulama melihat dari arti katanya. Dari asal katanya, istilah nabi menekankan segi kesanggupannya menerima berita Ilahi (wahyu), sedangkan kata rasul menekankan pada misinya untuk menyampaikan risalah atau nubuwah pada manusia. Salah satu keterangan mengenai nabi dan rasul dalam al-Qur`an diberikan pada QS al-An`am/6:89:

“Mereka adalah orang-orang yang telah kami beri Kitab, hukum dan ramalan. Karena itu jika mereka telah menolak hal itu, niscaya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak mengingkarinya”.

Ayat tersebut memberikan penjelasan bahwa nabi itu mempunyai tiga kriteria. Pertama, menerima wahyu yang kemudian terhimpun dalam suatu kitab. Kedua, membawa hukum atau syari`at sebagai pedoman cara hidup. Kedua, membawa hukum atau syari`at sebagai pedoman cara hidup, karena itu maka teladan nabi dan rasul merupakan sumber hukum. Dan ketiga, berkemampuan memprediksi berbagai hal di masa yang akan datang.

Keimanan terhadap nabi tidak hanya diberikan pada manusia, bahkan nabi pun mesti mempercayai keberadaan nabi sebelumnya. Al-Qur`an mengenai hal ini menyebutnya dalam QS al-Mu`minun/40:78, “Kami mengutus beberapa utusan sebelum engkau (Muhammad). Diantaranya mereka itu ada yang telah Kami ceritakan kepadamu, dan ada pula yang tidak kami ceritakan kepadamu.”

Kandungan ayat ini, disamping mengemukakan kemestian pengimanan di kalangan para nabi sendiri, tetapi menmemberikan penjelasan betapa banyaknya jumlah nabi yang diturunkan untuk memberi “petunjuk” manusia sebagai khalifah di mukan bumi. Dalam cerita yang banyak didapat dari tafsir tradisional disebutkan jumlah nabi sekitar 124.000 orang, di antaranya 315.

Dalam al-Qur`an yang disebutkan hanyalah 25 Nabi dan Rasul saja. Mereka itu adalah: Adam, Idris, Nuh, Yusuf, Yunus, Ayyub, Syu’uyb, Muas, Harun, Dzululkilfi, Dawud, Sulayman, Ilyas, Ilyasa, Yunus, Zakaria, Yahya, Musa, Isa, dan, Muhammad. Keimanan terhadapnya, seperti telah disinggung lebih dahulu, berkonsekuensi pada keimanan terhadap apa yang telah mereka bawa, yaitu kitab Allah yang berisi ajaran mengenai al-din al-Islamy, atau al-din alhanifiyah.

Kitab Allah yang dimaksud adalah kumpulan wahyu Allah yang diterima oleh para Nabi atau Rasul sebagai hukum dan pandangan hidup bagi masyarakatnya. Kitab Allah yang wajib diimani oleh ummat Islam adalah Kitab Zabur, Taurat, Injil dan Qur’an[22]. Ummat Islam diwajibkan untuk mengimani seluruh kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada para Rasul dan Nabinya.[23]

Seluruh Kitab-kitab tersebut diturunkan oleh malaikat kepada manusia yang dipilih-Nya. Penurunan lewat mediasi ini bukan menggambarkan ketidakmampuan Allah untuk mengirimkan langsung dengan manusia, tetapi karena keberbedaan realitas wujud antara manusia dan Allah. Seperti telah dikemukakan bahwa Allah merupakan wujud yang tidak dikenai waktu dan ruang sedangkan manusia berada bersebrangan. Pengiriman pesan di antara keduanya membutuhkan mediasi yang bisa “diubah/berubah” berdasarkan kondisi realitas terendah (manusia), yaitu malaikat.

Malaikat adalah makhluk Allah yang ditakdirkan untuk senantiasa ta’at kepada apa yang Allah perintahkan dan tunduk pada apa yang Allah larang. Mereka ditakdirkan untuk senantiasa mengabdi kepada Allah[24], tanpa diberikan padanya potensi untuk berkreasi. Ia hanya melakukan sejuh Allah memerintahkannya, dan Ia tidak mengetahui apa pun, selain apa yang Allah berikan pengetahuan kepadanya, serta ia tidak memiliki potensi untuk mengembangkan pengetahuan yang ia miliki.[25]

Hal ini dapat dipahami sebagaimana kita ketahui bahwa masing-masing malaikat hanya melakukan fungsi dasarnya masing-masing. Stu malaikat hanya melaukan satu fungsi saja. Dalam pemaham ini, banyak ulama Islam (khususnya Ahli Kalam dan para Mufasirin) yang memahami malaikat sebagai sunnatullah, tatkala memahami malaikat sebagai penjaga alam.

Malaikat sebagai makhluk Allah yang memang ditakdirkan Allah untuk melalukan sesuatu yang sesuai dengan apa yang perintahkannya[26], maka bisa dikatakan bahwa pa pun yang ia lakukan sama sekali tidak memiliki dampak hukum. Dengan kata lain kebaikan yang ia lakukan tidak akan mendapatkan balasan (jaza) dari Allah. Karena konsekwensi hukum hanya ada bagi sesuatu yang memiliki kebebasan untuk memilih dan melakukan sesuatu sesuai dengan kebebsasannya tersebut. Sementara malaikat sama sekali tidak memiliki kebebasan untuk melakukakan itu. Hanya satu kali selama hidupnya malaikat diberikan kebebsasan untuk memilih oleh Allah yaitu ketika diberikan kebebasan untuk menerima atau menolak menjadi khalifah, ketika misi kekhalifahan tersebut ditawarkan Allah kepada seluruh makhluk,[27] dan dalam peristiwa bersambungan ketika para malaikat mempertanyakan kemampuan manusia untuk memikul amanat kekhalifahan manusia di muka bumi. Kondisi ini memungkinkan apa yang disampaikan Tuhan pada manusia melalui mediasi malaikat tetap terjaga keasliannya.

Keimanan terhadap malaikat merupakan bagian dari kepercayaan terhadap sifat Allah yang Mengasihi, mengetahui, mencipta dan memelihara Manusia yang menyapa manusia lewat petunjuk-Nya. Keimanan terhadap malaikat dengan demikian, satu sisi menguatkan keimanan terhadap eksistensi Allah dan di sisi lain menguatkan terhadap warta yang dibawa kitab Allah.

4. Keimanan kepada Qadha, Qadar

Keimanan terakhir pada rukun iman adalah pada hari akhir dan qadla dan qadlar-Nya Allah. Tetapi dalam makalah ini susunan tersebut dibalik, dengan alasan: mengimani yaul al-akhir pada dasarnya dalam kerangka mengimani qadla dan qadlar harus ditempatkan sebelum mengimani yaum al-akhir.

Qadla adalah segala kemungkinan dalam ‘aqal Ilahi yang secara bersamaan serta kadar keberadaannya secara terpisah. Qadlar adalah aktualisasi segala kemungkinan dari wujud yang tidak ada menjadi ada secara terpisah yang sesuai dengan qadlanya.[28] Dengan demikian, qadla merupakan ide/rencana yang dimiliki Allah terhadap apa yang terjadi pada segala sesuatu yang diciptakannya, sementara qadlar merupakan ketegasan rincian dan ukuran dari qadla ketika qadla itu diaktualisasikan Allah terhadap makhluk-Nya.

Sebagai ilustrasi, qada diantaranya prinsip bahwa seluruh makhluk yang hidup (yang memiliki nafs) akan mati. Stetemen ini berlaku pada seluruh makhluk yang hidup (yang memilii nafs). Sementara itu rincian tentang syarat bagi matinya sesuatu (makhluk hidup) tentunya berbeda-beda. Ukuran atau rincian bagi terlaksana (terkatualisasinya) qada tersebut berbeda bagi setiap makhluk hidup.

Permasalahan takdir (qada dan qadar) dalam Rukun Imam[29] yang paling menarik adalah pembicaraan mengenai kebebasan kehendak. Apakah dengan mengimani adanya takdir baik dan buruk tidak membuat manusia kehilangan kehendak? Adalah pertanyaan yang silang sengkarut (rumit) dan dalam sejarah telah membelah teori Kalam menjadi dua bagian, Jabariyah dan Qadariyah.

Kehendak, menurut Bintusy Syathi, terjadi ketika niat berpindah menjadi perbuatan, disertai keteguhan hati untuk terus melakukan perbuatan itu meski berbagai aral merintang di depannya.[30] Dari definisi kehendak ini maka pembicaraan konsep kehendak (iradah) dalam al-Qur`an harus dihubungkan dengan konsep kesenangan (raghiba) dan ketegasan (.’azam).

Kata al-Raghibah dalam al-Qur`an ditemukan tidak dalam posisi disandarkan dan dikaitkan terhadap kata Allah. Akar kata r-g-b (uiyuy) dalam al-Qur`an digunakan sebanyak delapan kali dan semuanya diterapkan untuk makhluk, bukan untuk khaliq. Demikian juga dengan kata al-`azm, dari sembilan kali pemunculan dalam al-Qur`an (dalam bentuk mashdar ataupun fiil) diterapkan untuk manusia dengan makna keteguhan dan implementasi.[31]

Dari temuan tersebut kajian awal mengenai iradah mengarah pada satu hipotesis mengenai perbedaan antara pengertian iradah bagi Allah dan bagi manusia. Bagi Allah, iradah mengandung arti hukum dan keputusan, sedang bagi manusia selalu (lebih) bermakna kesenangan, pilihan bebas, dan implementasi.

Sedangkan kata Iradah sendiri dalam al-Qur`an diungkapkan sebanyak 140; 90 kali untuk para makhluk-Nya dan 50 kali untuk Allah dan secara umum mengandung makna bahwa iradah tersebut memungkinkan untuk dilakukan dalam bentuk perbuatan atau tindakan nyata, bukan sekedar utopia. Dan penampilannya dalam bentuk fiil madli dan mudlari, bukan amr, menunjukkan bahwa iradah bagi manusia bukan perintah dan anjuran bagi manusia tetapi benar-benar milik manusia.

Kehendak (Iradah) yang berhubungan dengan konsep Allah bermakna Allah melakukan apa yang Ia kehendaki. Dan Iradah Allah yang berhubungan dengan (diberikan kepada) manusia selalu berstruktur:

“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, `Jika kamu inginkan kehidupan duniawi dan perhiasannya, marilah! Akan kuberikan kepadamu pemberian,…”[32]

Karena itu kehendak Allah merupakan ketetapan yang bersyarat (causal) dan pasti terlaksana. Hal ini disebabkan karena kehendak Allah senantiasa didukung oleh ke-Maha Tahuan dan ke-Maha Kuasaan-Nya; berbeda dengan kehendak manusia sebagai hasil dari proses memilih, atau pelaksanaan dari suatu rencana keras untuk mewujudkannya.[33] Kemestian memilih pada manusia merupakan konsekwensi logis dari siafat pengetahuan manusia yang bersifat terbatas, tidak lengkap dan parsial.[34]

“Maka siapa yang (suka memberi dan takwa) kepada Tuhan, serta membenarkan adanya pahala yang baik kami sungguh memudahkan baginya jalan menuju bahagia, tapi siapa yang bakhil, dan puas dengan dirinya sendiri serta mendustakan adanya pahala yang baik, kami akan mudahkan kepadfanya jalan kemalangan.” (QS. Al-Lail, 92:5-10).

“Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barang siapa yang melihat kebenaran itu, maka manfa’at-Nya bagi dirinya sendiri; dan barang siapa yang buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemadharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukan pemeliharamu. Demikianlah Kami mengulag-ulangi ayat-ayat Kami supaya orang-orang yang beriman mendapat petunjuk dan mengakibatkan orang-orang musyrik mengatakan, “Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu dari Ahli Kitab dan supaya Kami menjelskan itu Al-Qur’an itu kepada yang mengetahui”. Ikutilah apa yang telah diwahyukan Tuhanmu `tiada Tuhan selain Dia, dan berpalinglah dari orang musyrik’. Dan kalau Allah menghendaki niscaya mereka tidak akan mensekutukan-Nya dan Kami tidak menjadikan kamu sebagai pemelihata mereka, dan kamu sekalian bukanlah pemelihara bagi mereka. (Al-An’am, 6: 104-107).

“Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu mu’jizat, pastilah mereka beriman kepada-Nya, katakanlah sesungguhnya mu’jizat itu hanya berada di sisi Allah, dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mu’jizat datang mereka tidak akan beriman. Dan begitu pula kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seakan-akan mereka belum beriman kepada Al-Qur’an pada permulaannya dan kami biarkan mereka bergelimang dengan kesesatannya yang sangat.. Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara kepada mereka dan kami kumpulkan pula segala sesuatu kepada mereka, niscaya mereka tidak akan beriman. Mereka tidak akan beriman kecuali jika Allah menghendaki” (Al-An’am, 6:109-111).

Allah memalingkan hati dan penglihatan manusia seakan-akan belum pernah beriman kepada Al-Qur’an karena penolakkan manusia sendiri terhadap ayat-ayat Allah yang diperlihatkan sebelumnya. Allah mengeritik manusia yang telah mendapat petunjuk akan tetapi dia bertindak di luar petunjuk itu sendiri.

“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, Hikmah dan kenabian lalu ia berkata kepada manusia lain `Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah” (QS. Ali Imran, 3:179).

Penolakkan manusia terhadap ayat-ayat Allah tersebut telah menjadi karakter dan penyakit hati dalam diri manusia, sebagaimana dikatakan Allah :

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, Kami beri peringatan atau tidak Kami beriperingatan. Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat”. Di antara manusia ada yang mengatakan kami beriman kepada Allah dan hari kemudian, padahal sesungguhnya mereka itu bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyekitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih disebabkan mereka berdusta.” [35]

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan pintu-pintu langit dan tidak pula mereka masuk surga hingga untuk unta masuk lobang jarum. Demikianlah kami membri kejahatan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan”[36]
5. Hari Kiamat

Eskatologis adalah konsep “waktu” yang dialami manusia setelah kehidupan di dunia. Al-Qur`an menyebutnya berulang-ulang dengan kata yaum atau kata lain yang berhubungan dengan “waktu”, misalnya qiamat, al-ba`ts, akhirah. Pengetahuan tentang saat tibanya “waktu” ini hanya dimiliki oleh Allah, tak seorang pun makhluk yang mengetahui akan persoalan ini, bahkan nabi sekalipun.[37]

“Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah.” Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu telah dekat waktunya.”

Sehingga ketika Nabi ditanya mengenai keghaiban (“waktu”), beliau hanya menjawab:

“Aku tidak tahu apakah yang dijanjikan kepadamu itu sudah dekat, atau Tuhanku akan menjanjikannya masih lama. Dialah yang lebih mengetahui yang ghayb, dan tidak seorang pun yang diperlihatkan keghayban-Nya.”[38]

Dalam hal ini konsep eskatologis adalah lanjutan dari Qadla dan Qadlar perihal kepasti-matian seluruh makhluk yang bernafs. Yaitu konsep yang menggambarkan bagaimana nasib manusia setelah mati di (dan menuju) dunia akhirah.

Al-Qur`an berulangkali mengemukakan pasangan (kebalikan) dunia dengan akhirah. Kata al-dunya yang secara harfiah bermakna “yang rendah” atau “yang dekat”, sebagaimana hukum kata yang berkorelasi, yaitu keberadaan yang satu memerlukan keberadaan yang lain, akan berkonsekuensi melahirkan konsep akhirah. Dan al-Qur`an, misalnya, mengkorelasikan kedua hal tersebut pada ayat berikut ini:

“Kamu menghendaki harta benda dunia sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu).”[39]

Berkenaan dengan struktur konseptual al-akhirat itu sendiri, al-Qur`an menyebutnya dalam dua kata berpasangan juga, yaitu al-jannah dan al-jahannam.

Diantara dunia dan akhirat, al-Qur`an menempatkan sesuatu yang menghubungkan antara keduanya, sesuatu yang mewakili tahap transisi antara dua hal yang berbeda. Dunia yang fisik, dan akhirat yang non-fisik harus diantarai dengan hilangnya sifat fisik manusia agar sampai pada “ruang bagi yang non-fisik”. Konsep ini kemudian bisa diklasifikasikan sebagai konsep eskatologis: Hari dibangkitkan, hari perhitungan, Pengadilan, dan yang serupa dengannya.

“Waktu kelak” itu adalah hari dibuktikannya segala “janji dan ancaman” Allah pada segala perbuatan manusia. Di “waktu kelak” ini yang berlaku adalah keterkaitan “kesatuan” (al-ijtihad) dan keterkaitan “entitas” (al-‘ayniyyah). Artinya, bahwa pahala yang diberikan kepada mereka yang berbuat baik, dan hukuman yang diberikan kepada mereka yang berbuat jahat, tidak lain adalah manifestasi dari perbuatan yang dilakukan manusia di dunia. Alah berfirman mengenai hal ini:

Pada hari ketika setiap diri mendapati segala kebaikan dihadapkan (kepadanya), begitu pula halnya dengan kejahatan yang dilakukannya. Dia ingin kalau sekiranya antara dia dengan hari itu ada masa masa yang jauh.[40]

Dan mereka apa yang mereka kerjakan hadir (ada di hadapan mereka), dan tidaklah Tuhanmu akan menganiaya seorang pun[41].

Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka balasan perbuatan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat biji sawi pun. Niscaya dia akan melihatnya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan walau seberat biji sawi, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula.[42]

Konsep eskatologis, dengan demikian, mengingatkan bahwa hidup manusia di dunia tidak selamanya, ada kematian yang akan mengenainya sekaligus akan ada kehidupan lain yang dilalui manusia. Kesemuanya dijadikan sebagai rangka bagi pertanggungjawaban segala perbuatannya.

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kalian hindari itu pasti akan menemui kalian, kemudian, kalian akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.[43]

Dan takutlah kepada suatu hari, yang pada hari itu kalian dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya.[44]

Penutup

Alhamdulillah, pada akhirnya makalah ini selesai juga, walaupun tentunya masih terdapat kekurangan. Pada kesempatan ini penulis berkenan menghaturkan terima kasih kepada Dr. A. Hidayat sebagai Dosem Pembimbing, juga seluruh rekan masasiswa Program Pasca Sarjana yang telah memberikan dorongan dan bantuiannya demi selesaianya makalah ini.

Akhirnya penulis hanya bisa mengatakan “wallahu ‘alam“.


[1] Jamil Sulaiba, Mu’jam Al-Falsafi, Darul Kitab, Bairut, p. 92.[2] Ali Imran,3:42-44; Al-‘Araf,7:188; Al-Jin,72:26-27; Al-An’am, 6:59;[3] Al-Ahzab, 33:63[4] Al-An’am, 6:59[5] Sebagai bandingan, lihat : Ahmad Tafsir, Filsafat Umum; Akan dan Hati Sejak Thales Sampai James, Remaja Karya, Bandung, 1992, p. 15.

[6] Shohih Muslim, Bab Iman, Juz I, p. 22 dan 23; Bandingkan dengan hadits Ahmad yang menambahkan unsur-unsur lain dalam rukun iman, demikian pula dalam HR. Bukhari dalam Shahih Bukari.

[7] Al-Baqarah, 2:177.

[8] Sebenarnya hal ini merupakan hal prinsip dalam merumuskan prinsip-prinsip keimanan, paling tidak pada kemungkinan untuk dilakukan restrukrisasi unsur-unsur keimanan.

[9] Pembagian pengetahuan menurut Bertrand Russel, lihat Izutsu dalam God and Man In The Koran, Semantic of The Koranic Weltanschuung, pent. Agus Pari Husen, Tiara Wacana, Yogya, 1997, p 47 (catatan kaki).

[10] Al-Hajj, 22:74.

[11] QS. Ali Imran, 3: 97

[12] St. Thomas Aquina, Omipotence; The Limits on God’s Abillities, dalam Baruch A. Brody, Reading In The Philosophy Of Religion, Prentice-Hall. Inc., New Jersey, 1974, p. 337.

[13] QS. Ali Imran, 3: 18.

Lihat pula, QS. Ar Ra’du, 13:31; Az Zumar, 39: 20; Ali Imran, 3: 9;

[14] Al-Ahzab, 33: 72

[15] Al-Baqarah, 2: 30

[16] Al-Baqarah, 2:35.; QS. Al-‘Araf, 7: 19; QS. Thaha, 20: 120;

[17] Dalam hal ini muncul pertanyaan, apakah apabila Adam dan Siti Hawa tidak memakan buah Khuldi adam tidak akan pernah turun ke muka bumi dan menjadi khalifah? Namun apa bila mengingat bahwa Adam memang merupakan kandidiat khalifah di muka bumi, maka sesungguhnya larangan Allah ini tidak lebih dari ujian dari Allah tentang keberanian dan kebebasan (free will & free act) Adam untuk berhadapan dengan resiko yang paling berat sekali pun untuk mencapai tujuannya, walau pun harus mengabaikan peringan Allah. Kejadian demikian akan dialami Adam dan anak cucunya di bumi, tatkala mereka harus memilih antara sejumlah hal yang dicintainya.

[18] QS. Thaha, 20: 123; lihat pula Al-Baqarah,2:37-38, dalam surat ini firman Allah yang menjelaskan tentang petunjuk dari Allah tentang kehidupan di muka bumi desebut dengan Kalimat.

[19] Juga pada QS. Al-Fajr/89:29, QS. Qaf/50:8, al-Fathir/35:28. Al-Qamar/54:9, Shad/38:17

[20] QS. Al-Baqarah/2:38

[21] QS. Al-Imran/3:43. Kata nabi dalam al-Qur`an disebut sebanyak 75 kali dalam 20 surat, sedangkan kata naba’ sendiri disebut sebanyak 29 kali dalam 21 surat.

[22] Zabur = QS. An Nisa, : 163; Al Anbiya, :105; Al-Isra, :55;

Taurat dan Injil, Ali Imran, :3, 48, 50, 65, 93; Al Maidah, :43, 44, 46, 66, 68, 110.

Al-Qur’an = Al-Baqarah, 2:185, An Nisa, : 82; Al Maidah, :101; An An’am, :19.

[23] Al-Baqarah, 2:4.

[24] An-Nahl, :49.

[25] QS. Al-Baqarah, 2: 32.

[26] QS. An Nahl, 16: 6.

[27] Al-Ahzab, 33: 72.

[28] Jamil Sulaiba, Mu’jam Al-Falsafi, Darul Kitab, Bairut, p. 186

[29] Terdapat pemikiran kontemporer yang berpendapat bahwa qada dan qadar tidaklah termasuk pada pengetahuan imani an sich, dalam banyak hal qada dan qadar Tuahn merupakan sesuatu yang telah berada pada ranah pengetahuan rasional dan empiris.

[30] Bintusy-Syathi, Maqal fi al-Insan Dirasah Qur`aniyah (terjemahan M. Adib Al-Arif), LPKSM, Yogyakarta, 1997, hal. 131.

[31] Diantaranya lihat QS. Al-Baqarah, 235; Ali Imran, 159

[32] QS.al-Ahzab, 280, juga baca pada AliImran 145, al-Nisa 134, Al-Syura 20, Hud 15, dan al-Isra 18.

[33] QS. Yasin 82, al-Nahl 40

[34] Karl Jaspers, Philosophical Faith And Revalatioan, Collins, London, 1967, p.70.

[35] dalam QS. Al-Baqarah, 2: 6-10.

[36] Al-‘Araf, 7: 40.

[37] QS. Al-Ahzab, 33: 63

[38] QS. Al-Jin, 72: 25-26.

[39] QS. Al-Anfal, 8: 67

[40] QS. 3: 30

[41] QS. 18: 49

[42] QS. 99: 6-8

[43] QS. 62:8

[44] QS2:281

2 thoughts on “TEOLOGI HUMANISTIK

  1. Mikeharvey says:

    New here, from Toronto, Canada

    Just a quick hello from as I’m new to the board. I’ve seen some interesting posts so far.

    To be honest I’m new to forums and computers in general🙂

    Mike

  2. goaveavousa says:

    Interesting article and one which should be more widely known about in my view. Your level of detail is good and the clarity of writing is excellent. I have bookmarked it for you so that others will be able to see what you have to say.

    gaming seats for xbox 360

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s