Kemerdekaan dan Dosa di Mata Iqbal

Oleh AHMAD GIBSON AL-BUSTOMI

Cuma Gereja, kuil, masjid,rumah berhala
Kau bangun lambang-lambang penghambaanmu
Tak pernah dalam hati kau bangun dirimu
Hingga kau tak bisa jadi utusan merdeka.

(Muhammad Iqbal)

TEMAN saya bercerita tentang pembicaraannya dengan seorang abdi dalem keraton. Berpijak pada asumsi bahwa sikap abdi dalem (yang kebetulan temannya juga) kepada majikannya, Sultan, sebagai sikap keterjajahan, teman saya bertanya, “Apakah Anda tidak merasa dalam keadaan terjajah, dan tidak berusaha keluar dari keterjajahan itu?” Sang abdi dalem menjawab bahwa ia sama sekali tidak merasa terjajah, karena pengabdiannya kepada Sultan disikapi sebagai penghormatan dan ketaatannya kepada bangsanya. Dan, bahkan bila ada orang yang memaksa dia untuk tidak taat pada Sultan dan melarang tatakrama dalam menghadap Sultan, ia menganggap bahwa larangan itulah penjajahan bagi dirinya.

Bagi pemikiran “modern”, cara pandang demikian memang tampak aneh dan paradoksal. Namun sesungguhnya sikap yang sama dilakukan pula oleh manusia-manusia modern yang tunduk dan takluk pada jargon-jargon modern yang tidak dipahaminya. Bahkan, dalam pikiran Iqbal, hal yang sama dilakukan pula oleh orang-orang beragama, seperti terungkap dalam bait puisi di atas.

Kata ‘keterjajahan’ adalah akronim dari kata ‘kemerdekaan’. Bila yang satu muncul lenyaplah yang lainnya. Keduanya merupakan kata abstrak yang tidak bisa ditunjukkan realitasnya, hanya bisa disebutkan ciri-ciri penampakannya dalam objek-objek. Kedua kata tersebut secara sosiologis mengalami penyempitan makna. Keterjajahan lebih dimaknai sebagai hilang dan terampasnya kebebasan oleh orang atau bangsa lain. Keadaan yang membuat kemerdekaannya terampas dan hilang dari dirinya. Padahal tidak jarang kondisi keterjajahan itu diinginkan dan dibuatnya sendiri secara sadar. Bahkan terkadang keadaan keterjajahan itu dinikmatinya. Lebih dari itu, atribut-atribut yang melambangkan keterjajahan itu disandangnya dengan penuh kebanggaan. Seperti kata Gibran, teriakan kemerdekaan pun akhirnya menjebak manusia dalam kondisi sebaliknya: keterjajahan.

Merdeka atau kemerdekaan merupakan istilah yang sangat akrab dalam kehidupan manusia, tapi sebagai kenyataan tidaklah akrab dalam hidup manusia. Ia pun menjadi kenyataan abstark dalam kehidupan manusia. Sepertinya, kata ‘merdeka’ atau ‘kemerdekaan’ hanyalah merupakan realitas utopis: ia hanya ada sebagai angan-angan dan akan selalu ada sejauh ada sebagai utopia dalam benak manusia. Ia hanya bermakna ketika diperjuangkan. Wujudnya seperti asap, ketika orang merasa telah menggenggam, ia akan lenyap tanpa bekas. Kemerdekaan tidak pernah berlabuh di satu titik, ia selalu berada dalam “kesenantiasaan”.

Bagi bangsa Indonesia, kata ‘kemerdekaan’ senantiasa berelasi dengan biografi kolonialisme di Indonesia, dan titik puncaknya adalah proklamasi kemerdekaan. Ketika kemerdekaan diproklamirkan, secara simbolik kemerdekaan telah digenggam. Namun pada waktu yang sama ia lenyap bagaikan asap. Karena, pada saat itu pula, bangsa Indonesia kehilangan spiritnya untuk senantiasa merdeka dan menjadi manusia merdeka. Yang terjadi hanya peralihan dari keterjajahan oleh bangsa lain ke keterjajahan oleh bangsanya sendiri, bahkan terjajah oleh dirinya sendiri.

Iqbal tidak meletakkan kata kunci ‘kemerdekaan’ dan ‘keterjajahan’ pada lingkup komunal atau bangsa, melainkan individu. Dengan kata lain, Iqbal tidak meletakkan term ‘kemerdekaan’ dan ‘keterjajahan’ sebagai term sosiologis, melainkan sebagai term yang merujuk pada kondisi individual. Iqbal beranggapan bahwa kemerdekaan ditemukan pada kualitas kesadaran individu serta kesiapan dan keberanian individu untuk menghadapi dan menjalani kehidupan. Iqbal beranggapan bahwa kehidupan tidak terletak dalam ketenangan dan kedamaian yang membius, melainkan justru dalam pertentangan, penderitaan, kesulitan, dan perjuangan dalam mengatasinya. Kehidupan ada dalam kebersatuan manusia dengan alam, bukan dengan menjauhi dan mengutuknya. Kebuasan semesta adalah teman manusia untuk mengenal cinta. Dan dalam mencinta, perjuangan sejati menemukan maknanya.

Hatiku berkobar karena nyala api kalbu,
Air mata darah meminjamkan mata pada bingkai semesta
Ia yang tahu bahwa keasyikan adalah nama lain cinta.

Cinta memuji keahlian elang menyergap mangsa
Dan membawa gunung kecil dengan cakarnya ke angkasa
Sekali pun kita cukup waspada melindungi hati kita
Cinta dapat menjerat mereka tengah malam.

“Musik cinta menemukan alatnya pada manusia
Rahasia ia singkap, walau dirinya satu semata
Tuhan mencipta dunia, mausia menjadikannya indah
Manusia adalah kerabat-kerja dan sahabat Tuhan.”

Kemerdekaan tidak ditemukan dengan lari dari risiko dan bahaya kehidupan, menciptakan ketenangan semu surgawi di dunia. Bahkan Adam pun menemukan kemerdekaan dan kekhalifahan dengan melanggar pantangan. Dan bukankah dengan “kejatuhan” Adam ke dunia, fitrah penciptaan manusia menemukan wujudnya? Maka dosa pelanggaran Adam bukanlah sesuatu yang perlu disesali, seperti pembunuhan dalam peperangan demi kemerdekaan. Hal ini senada dengan apa yang ungkapkan Ahmad Sam’ani: ‘Wahai Malaikat langit! Meskipun kalian patuh, kalian tidak memiliki hasrat buta dalam jiwamu, tidak pula kalian memiliki kegelapan dalam tubuhmu. Jika manusia durhaka, mereka memiliki hasrat buta dan kegelapan. Kepatuhan kalian bersama seluruh kekuatan kalian tidaklah berharga setitik debu di hadapan keagungan dan kebesaran-Ku. Dan kedurhakaan mereka bersama dengan perpisahan dan kepatah-hatian mereka tidak melenyapkan ranah-Ku. Melalui kepatuhan kalian, kalian mewujudkan kesucian, dan kebesaran kalian sendiri, tetapi melalui kedurhakaan mereka, mereka mewujudkan karunia dan kasih-Ku.’

Dosa dan kesalehan adalah kedua kaki manusia untuk berjalan di muka bumi. Dalam keduanya, Tuhan hadir sebagai Yang Maha Pengasih dan Pengampun. Hasrat buta, dalam termonologi Karl Jaspers yang disebutnya sebagai ‘ketidaklengkapan pengetahuan’, merupakan inti dari kebebasan manusia untuk memilih. Karena tindakan yang didasarkan pada pengetahuan yang lengkap tentang sesuatu, termasuk konsekwesni-konsekwensi dari tindakan tersebut, bukan lagi merupakan kebebasan dan bukan pilihan melainkan kemestian. Pengetahuan menjadi jaminan akan kebenaran tindakan memilih, maka manusia harus mencari dan mengembangkan pengetahuannya. Akan tetapi kapan manusia akan sampai pada pengetahuan yang sebenarnya. Karena, toh pada akhirnya pengetahuan pun tak lebih dari sebuah pilihan. Dan, cara untuk mendapatkannya pun tiada lain dari sebuah pilihan.

Namun, karena itulah manusia semakin memastikan dirinya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi, suatu posisi yang dalam pemikiran Iqbal, tiada lain sebagai mitra-kerja dan sahabat Tuhan. Dalam Tuhan, manusia menemukan kemerdekaan dan kebebasannya.

“Kau mencipta malam, aku mencipta lampu yang meneranginya
Kau buat lempung, kunikin dari ya cawan minuman
Kau bikin hutan lain, gunung dan padang rerumputan
Kucipta kebun, taman, jalan-jalan dan padang gembala
Kurubah racun berbisa jadi minuman segar
Akulah yang mencipta cermin cerlang dari pasir”.

Dan untuk berada dalam Tuhan, manusia harus mengotori tangannya dengan lumpur tanah yang paling kotor sekalipun. Kehalusan tanah hanya dimiliki oleh orang-orang yang memalingkan mukanya dari hadapan Tuhan. Orang yang takut dalam dosa dan kesalahan dalam mengaktualisasikan dirinya sebagai mitra-kerja dan teman Tuhan, tidak akan pernah menemukan tetes embun pengampunan dan kasih-sayang Tuhan. Keterpurukan Dunia Islam dan keterpurukan manusia beragama yang terpangpang di depan mata Iqbal, dipandangnya sebagai akibat dari keterpasungan umat Islam dan umat beragama dalam kekuatan magis dogma-dogma agama tanpa berusaha untuk menemukan makna dalam dirinya. Sehingga ketika ia menatap menghadap tuhannya, yang ia temukan hanyalah kebisuan.

Dengan demikian, lari dari kehidupan adalah hilangnya kebebasan dan kemerdekaan diri, karena ia menjauhkan diri dari qadrat untuk memilih. Dan hilangnya kemerdekaan dan kebebsan diri, sama artinya mengundang penjajahan dalam diri. Kehadiran kondisi keterjajahan dalam diri sama artinya dengan hilangnya sejumlah kesempatan yang dianugrahkan Tuhan pada makhluknya, manusia.

“Betapa bahagia manusia yang jiwanya gelisah,
Begitu riang mengendarai waktu yang cepat larinya
Hidup adalah pakaian yang dibikin penjahit untuknya,
Sebab ialah pencipta peristiwa-peristiwa baru.”

Bagi seorang yang merdeka, kekerasan dalam menjalani kehidupan adalah surga, dan ketenangan surga dunia adalah bencana dan tragedi. Agama, apabila ia menjadikan manusia terlempar di sudut rumah-rumah ibadat karena takut akan resiko kehidupan dan dosa, tak lebih dari berhala-berhala baru yang merampas kemerdekaan manusia. Menghalangi wajahnya dari memandang wajah Tuhan. Cara bersabar bukan dengan berdiam diri di sudut masjid, akan tetapi berenang di tengah lautan kehidupan.

Dengan demikian, bila Iqbal hadir di negeri yang sedang di landa krisis ini, ia akan menampakkan wajah ceria dan penuh harapan. Karena, krisis yang dialami bangsa ini merupakan batu-batu keras yang dapat meruncingkan paruh burung rajawali dan mempertajam taring harimau. Sekian ratus tahun, bangsa Indonesia telah belajar bagainya mana caranya menjadi manusia merdeka dengan mengatakan tidak pada keterjajahan. Proklamasi kemerdekaan, hanyalah peta menjelang malam istrahat, untuk menyongsong siang di esok hari dan kembali memperjuangkan kemerdekaan. Namun sayang, Iqbal bergumam, bangsa yang besar ini terlena dalam mimpi malam tentang surga yang tenang, karena kelelahan setelah menggerayangi pesta kemenangan. Padahal setelah pesta telah usai, dan perang harus kembali digelar. Dan terus mengingat pesan masa lalu, seperti nasehat elang pada anaknya:

“Martabatmu terangkat oleh kekuatan, sasaran apa pun tak ditampik oleh matamu.
Kau tak boleh meminta makanan dari tangan orang lain kapan pun saja.”

PIKIRAN RAKYAT, Khazanah:

One thought on “Kemerdekaan dan Dosa di Mata Iqbal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s